PIECE
OF MEMORIES
Aku telah berada di gedung ini sejak pukul 04.00 sore,
sesorang yang mengenalku memberitahuku untuk datang ke tempat ini. Aku pikir
tak akan merepotkan kalau aku mengikuti saja perkataanya. Tempat ini terlihat
seperti auditorium, banyak sekali berkumpul orang asing bagiku. Peter Jackson
adalah satu-satunya kenalanku, dia memang datang kesini bersamaku. Semua orang
berdiri mendengarkan pidato seorang lelaki paruh baya yang tak ku kenal.
“Selamat
bergabung dengan perusahaan Vamilion, kami merupakan perusahaan yang bergerak
di bidang perlengkapan futuristic. Berbahagialah karena kalian adalah 20 orang
terpilih dari 10 departmant. Mulai hari ini kalian resmi menjadi bagian dari
perushaan kami dan kalian akan mendapatkan fasilitas menarik. Beri tepuk
tangannya saudara sekalian.
Hay
nona yang berdiri di depan pintu”
Begini pun tak apa,
ikut bersama keramaian orang, karena sebenarnya aku tidak tahu tujunaku berada
di sini. Mungkin aku harus berbahgia karena lelaki paruh baya itu memberitahuku
untuk bahagia, atau mungkin tidak.
“Nona…..”
“Hey.. kamu dipanggil
lelaki itu”
Suara Peter
mengagetkanku. “Ah aku? Bakilah”
“Ada apa pak?”
“Begini nona, kenapa
nona terlihat tidak berbahagia, sementara orang-orang di sini sedang begitu
bahgaia, kecuali nona”
“Saya terlihat seperti
itukah? Setiap orang punya caranya masing-masing untuk mengungkapkan
kebahgaiaannya. Anda lihat lelaki yang berdiri di pojok sana? Dia mengungkapkan
kegembiraannya dengan melompat-lompat sampai lupa diri. Kemudian lihat wanita
di sebelah jendela itu, dia berekspresi tertawa sampai kedua bola matanya
hampir tak terlihat. Dan… Wanita di sebalah saya sangking bahgianya sedari tadi
tak henti-hentinya memperhatikan anda sembari mengeluarkan air mata harunya. Seperti
yang anda lihat, mungkin seperti ini lah cara saya mengungkapkan kebhagiaan”
Entah kenapa aku berbicara begitu keras sampai orang-orang memperhatikanku.
“Atau mungkin tidak” gumamku lirih.
“Ya aku harap nona juga
bahagia. Baiklah saudara sekalian setelah saya tutup acara ini, kalian boleh meninggalkan
tempat dan kembali ke kamar atau ruangan masing-masing untuk beristirahat,
saduara dapat masuk dengan kunci yang ada di tangan kalian.”
Aku ingat sebelum aku
masuk kesini, tepat di pintu masuk ada dua wanita. Seorang wanita memberikanku name tag di sana tertera foto beserta
nama ku Columba Livia. Wanita yang lainnya memberikanku sebuah kunci. Oh ternyata
itu adalah kunci kamarku. Mungkin mengikuti perkataan orang tidak akan
merepotkan Jadi selepas lelaki paruh baya itu menutup acaranya aku bergegas
menuju pintu keluar hendak mencari kamar yang cocok dengan kunci ini. Semua
orang juga berhamburan menuju pintu keluar.
“mine….
Jasmine..
hay jasmine…!
“kalian memanggilku?”
Tepat di depan ku di tengah kerumunan berdiri tiga orang
tak ku kenal, dua orang lelaki dan satu wanita, tampaknya mereka sebaya
denganku. Namun mereka terlihat seperti mengenalku, mereka menyapaku akrab.
Seorang laki-laki dari mereka yang mempunyai
tubuh tinggi, maco, kulitnya terlihat agak gelap, rambut lurus rapi dan
yang terlihat begitu mencolok dari dia adalah bulu matanya yang lentik,
memanggilku “Jasmine”.
“Iya… kami memanggilmu
mine”
“Maaf.. tapi aku tidak
mempunyai nama seperti itu”
“Ha? Aku tahu ini sudah
lama, tapi kau masih ingat kami kan?” Seorang lelaki pemilik bulu mata lentik
itu meyakinanku seolah-olah kami saling mengenal.
“iya ingat, aku baru
pertama kali bertemu kalian di sini, sekarang”
Sejujurnya aku bingung dengan pernyataan ketiga orang itu. Ataukah memang aku kenal
mereka namun tak bisa mengenali, ataukah meraka salah orang. Namapak tersirat
begitu jelas kekecewaan di wajah mereka ketika mendengarkan jawabanku. Namun
memang tak ada hal lain yang ku ketahui tentang mereka, menurutku aku memang
tak mengenal mereka dan mereka salah orang.
“Cole ayo buruan kita
harus cari kamar” Peter memanggilku dari kejauhan.
“Permisi” Aku membungkukan
kepalaku kepada tiga orang itu, dan bergegas meninggalkan mereka. Mudah-mudahan
mereka puas dengan pernyataan dan sikap ku. Kali ini Peter benar-benar
menyelamatkanku, pikirku.
“tunggu aku Pet” Aku bergeggas menghampiri
Peter yang sedari tadi tengah menunggu.
“Eh kau di kamar nomor
berepa Cole, coba lihat gantungan kuncinya”
“07, kau sendiri?”
“01, aku barusan tanya
ke wanita di pintu keluar, katanya kamar nomor 01-05 di lantai 2 sedangkan
kamar nomor 06-10 di lantai 3”
“kamaranya Cuma 10?
Bukanya kita ada 20 orang?”
“Kamarnya memamg Cuma
10, satu kamar untuk dua orang”
“oh begitu”. Ini bukan
keadaan baik, sedari dulu aku sangat menghindari jika harus berbagi kamar
dengan orang lain. Merepotkan sekali, ketika melihat orang lain berada di
ruangan sendiri, bahkan dia dapat melihat sisi lain dariku yang tak seharusnya
orang lain ketahui. Mungkin aku akan sedikit beruntung kalau teman sekamarku
adalah Peter, tentu saja karena kami kenal lumayan lama dan dia begitu memahami
ku. Tapi hal seperti itu tidaklah mungkin, Peter mendapatkan kamar nomor 01 sementara
aku nomor 07. Peter tahu kalau aku sangat tidak suka dengan keadaan ini.
“Kau baik –baik saja
kan Cole? Apa aku perlu ke petugas agar kita di tempatkan di kamar yang sama?”
Peter memegang pundaku dari depan dia tampak begitu khawatir dengan ku. Lega
rasanaya Peter menghawatirkanku, tapi ini membuatku tak nyaman, aku seperti
beban buat Peter. Mulai dari sekarang aku harus bisa menghadapi semuanya
sendiri, kalau aku seperti ini terus aku tak akan pernah bisa maju.
“Tidak usah Pet rasanya
merepotkan, seperti ini saja tak apa. Percaya pada ku”. Aku tersenyum sembari
menggelengkan kepalaku dan melepaskan tangan Peter dari pundakku. “Sebaiknya
kita lekas mencari kamar kita masing-masing, dari sini kita berpisah”
“Baiklah aku
mempercayaimu, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi aku”
“Oke!”
Aku berharap Peter benar-benar mempercayaiku, yang jelas sekarang
aku harus segera menemukan kamarku. Setelah berpisah dari Peter aku berjalan
menuju sebuah tangga, karena kamarku nomor 07 artinya aku harus ke lantai 3.
Meskipun ini perusahaan perlengkapan futuristic,
namun tidak ada lift atau pun eskalator,
terlihat seperti asarama biasa. Aku hanya perlu menyusuri tangga, tempat
ini sebenarnya jauh dari kata futuristic.
Anak tangga terbuat dari kayu, terlihat begitu mengkilap dan rapi. Ketika aku
menginjakan kakiku, terdengar bunyi khas dari sepatu wedgesku yang bersentuhan
dengan tangga kayu.
Ketika sampai di lantai 3, aku memperhatikan satu per
satu pintu yang ada di sana memastikan kamarku. Seperti dugaanku, hampir semua
furniture di sini berbahan dasar kayu, terlihat seperti rumah pohon. Lantai 3 tak
begitu besar, terdapat satu ruangan tak berpintu yang cukup luas dan 5 ruangan berpintu yang sepertinya adalah
kamar. Rasanya begitu lelah, malam semakin larut, aku hanya tertarik dengan
kamarku agar bisa segera beristirahat. Tak begitu sulit untuk menemukannya
setelah menaiki tangga, aku hanya perlu berjalan lurus kedepan tepat di ujung terdapat kamar
nomor 07. Jarak anatara kamar satu dengan yang lainnya agak jauh aku pikir
kamarnya lumayan besar. Bergegas menuju ke sana ternyata di pintu terdapat
seperti papan nama menggunakan kayu yang di gantung ke sebuah paku. Papan nama
tersebut terteta namaku dan satunya lagi dengan nama Eren Cain, dia pasti
partner sekamarku. Selepas membaca nama itu kepalaku tiba-tiba sakit rasanya
seperti mau muntah. Seluruh badanku terasa lemas, aku tak sanggup berdiri lagi,
akhirnya tubuhku terjatuh. Adakah seseorang yang bisa menolongku sekarang, aku
tak sanggup mempertahankan kesadaranku dan akhirnya ambruk.
****
Ketika aku membuka mata, aku sudah berada di sebuah
ruangan yang asing bagiku. Berbaring di ranjang, kepalaku masih terasa berat. Tepat
di atas ku juga terdapat ranjang, lebih tepatnya tempat tidur bertingkat. Tak
terlihat seorangpun di sini, entah siapa yang telah membawaku ke tempat seperti
ini. Dari pandanganku hanya terlihat satu set sofa dan sebuah televisi yang
menggantung di dinding, rak kayu berwarna putih yang dipenuhi pot tanaman
segar. Namun terlihat jendela berkaca yang gordennya dibiarkan terbuka, dan buku-buku
yang terbuka berserakan di atas meja belajar. Nampaknya ada sesorang yang
tinggal di sini. Di balik dinding tak berpintu terdengar suara teko, seperti
ada seseorang yang sedang memasak air.
“Kamu sudah bangun?” Seorang laki-laki bertubuh tinggi muncul
dari balik dinding dengan membawa nampan berisi sebuah mangkok dan cangkir. Ia
menanyaiku ramah, senyuman tersirat begitu jelas di wajahnya.
“Aku di mana?”Aku
bergegas bangun dan mengambil posisi duduk.
“Di kamar mu”
“Lalu kenapa kau berada
di sini?”
“Ini juga kamar ku,
tadi aku menemukanmu tergeletak di depan pintu dan melihat name tag mu dengan
papan nama yang ada di pintu itu cocok. Lalu aku membawamu masuk ke sini.” Ia
meletakan nampan di sebuah meja yang berada tepat di samping tempat tidur ku. “nampaknya
kau kelelahan dan kedinginan, aku barusan membuatkan sup asparagus dan teh
lemon mudah-muahan dapat membantu memulihkan tubuhmu, makanlah selagi hangat”.
“Terimakasih makanannya
dan terimakasih juga telah merawatku” Aku meraih nampan tersebut dan mulai
melahap makanannya kebetulan perutku sedari tadi belum terjamah makanan. Tidak
ada rasa yang mencolok, sup asparagus begitu segar masih berasa khas asparagus,
nampaknya dimasak dengan detail dan
hati-hati. Aku menyukai makanan yang tak meninggalkan rasa aslinya, Kemudian
aku meraih cangkir teh lemon aromanya begitu menenangkan dan segar. Nampaknya
dia juga menambahkan daun mint di dalamnya, ketika aku meminumnya tubuhku
terasa hangat seperti begitu saja menerima minuman ini. Aku pikir dia orang
yang baik dan sangat hati-hati, mungkin tidak buruk kalau harus berbagi ruangan
dengannya.
“Kau dan aku beneran pemilik kamar ini?”
“Benar, namaku Eren
Cain dari Technology Departmant. Kau
tak mengingatku?” Lelaki itu menunjukan name tag nya lalu bergegas berjalan menuju sofa dan
merebahkan tubuhnya. Namanya memang sesuai dengan yang ada di papan nama, sebeleum
kehilangan kesadaranku aku sempat membacanya. Dia memang tampak tak asing
bagiku, rasanya seperti kami pernah bertemu, entah di mana. Bukankah aku tak
mengenal orang lain selain keluargaku, Peter Jackson dan wanita tua yang
menyuruhku untuk datang ke tempat ini. Aku berkali-kali mengkonfirmasi
ingatanku tentang lelaki itu namun selalu saja kepalaku terasa berat. Ah iya
aku pernah bertemu dengannya sekali tadi selepas acara selesai dan dia
memanggilku Jasmine.
“Iya aku ingat kita
barusan bertemu di auditorium dan kau memanggilku dengan sebutan aneh itu.
Namaku Columba Livia dari Science Departmant, bukan jasmine seperti yang kau
kira” Aku meletakan nampan beserta bekas makananku di meja kemudian bangkit
dari tempat tidur dan hendak duduk di sofa yang sama dengan Eren.
“Bolehkah aku duduk di
sini?”
“Tentu” Eren mengangkat
tubuhnya dan mengambil posisi duduk. Nampak jelas dari raut wajahnya kalau dia
menahan sejuta pertanyaan. Sepertinya dia tak menyukaiku, namun ia selalu
berusaha tersenyum dan ramah. Dia tak berani menatapku, selalu mengalihkan
pandangannya. Jujur berbicara dengannya yang baru bertemu tadi seperti bukan
orang asing, nyaman berada di dekatnya seperti ini.
Tiba-tiba Eren mendekatkan tubunnya kepada ku dan meraih
kedua pundak ku dari depan, matanya menatapku tajam, Rasanya sakit tubuh ini,
dia memegangku begitu kuat, aku hampir takut dibuatnya. Ia terdiam begitu lama
namun perlahan mengeluarkan air matanya dan berteriak kepada ku
“Hay Jasmine…. !
Kau sungguh tak
menganalku?! Sebelum kita bertemu di auditorium! Dua tahun yang lalau kau
bersama kami, bersama aku, Anne dan Grant, kau tidak ingat?! Ha?!” Dia
menggoyangkan badanku begitu kencang.
Sungguh aku terkejut, jantungku serasa mau copot, tubuhku
terjingkat dia begitu menakutkan. Aku sungguh tak mengenali mereka, lalau siapa
lagi Anne dan Grant, apakah mereka orang yang juga ku temui di auditorium.
Sepertinya Eren mengeluarkan semua yang ia tahan semenjak kami bertemu di
auditorium. Kepalaku serasa mau pecah, dengan sekuat tenaga aku melepaskan
tangannya. Dia meneriakiku seperti aku seorang penjahat, sakit rasanya, tanpa
sadar air mataku keluar.
“Cukup ! aku memang tak
mengenal kalian. Kenalanku hanya keluargaku, Peter dan Wanita tua itu. Aku
tidak mempunyai teman lain, apalagi kalian” Aku menyeka air mataku dan
mengatakan hal yang mungkin bukan sebenarnya, namun hanya sebatas pengetahuanku,
sembari menatap kosong ke arah tembok.
“Bohong! Apa kau
mengatakan yang sebenarnya? Ha?!
Eren masih saja
meneriakiku.
“Aku tidak berbohong,
aku hanya mengatakan yang ku ketahui dan aku tidak tahu pasti tentang
kebenarannya!” Aku membalasnya dengan nada keras, entah kenapa aku begitu
kesal. Rasanya merepotkan sekali harus menjelaskan seperti ini,
“Baiklah.. kalau begitu
katakan semua yang kau ketahui”
“Bagaiaman kalau aku tak
mau?”
“Aku akan menanggapmu
seorang pembohong”
Aku terdiam begitu lama, suasana di ruangan hening. Biasanaya
aku tak peduli mengenai penilaian orang lain terhadapku, yang penting aku tak
merugikan mereka. Namun kali ini entah kenapa aku ingin mendapatkan penilaian
baik darinya. Aku tidak suka dia meneriakiku seperti seorang penjahat atau pembohong,
mendapatkan predikat buruk atas perbuatan yang tak ku lakukan. Namun
sepenegetahuanku dia bukanlah orang yang ku kenal, apa akan baik-baik saja jika
aku mengatakan semua hal yang ku ketahui kepadanya.
“Baiklah… sebenarnya
aku tak bisa mengingat kejadian sebelum dua tahun ini. Jelas aku tidak salah
mengatakan kalau aku tidak mengenal kalian karena ingatan dua tahun yang lalu
bukanlah milikku lagi” Aku menundukan kepalakau dan mengepalkan kedua tanganku
di atas paha, tubuhku gemeteran. Baru kali ini aku berbicara tentang diriku
kepada orang lain selain Peter. Apakah aku telah melanggar aturanku sendiri,
mungkinkah ini layak untuk didengarkan oleh orang lain.
Aku takut melihat ke arah Eren, namun sepertinya
otot-ototnya telah berelaksasi. Dia tak seseram tadi, tak terdengar suara
darinya, nampaknya dia lebih tenang. Aku sedikit lega kalau pernyataanku dapat
menjernihkan kepalanya. Namun tiba-tiba kedua tangan Eren meraih tanganku dan
menggenggamnya, bola matanya menatapku iba, dia seperti berusaha menenangkanku.
Aku menarik nafas perlahan, rasa takut dan gemetarku mulai mereda, tanganya
begitu hangat.
“Tolong katakan
semuanya, jangan takut ada aku di sini” Suranya begitu lembut, berbeda dengan
Eren yang tadi meneriakiku. Aku mengatupkan kedua bibirku, airmataku
berjatuhan, aku menangis haru, Baru kali ini ada orang yang berkata seperti itu
selain Peter, aku seperti sedang dilindungi. Aku menarik nafas panjang, menyeka
air mataku dan membalas menatapnya. Matanya meyakinkanku, mungkin sekarang saat
yang tepat untuk mengatakan yang ku ketahui. Sepertinya dia memang seseorang
yang pernah aku kenal sebelum ingatanku hilang. Melihat dia sampai semarah itu
ketika aku mengatakan aku tak mengenalnya, sebenarnya aku merasa sangat
bersalah. Akan lebih baik jika aku mengatakan perihal itu kepadanya.
“Kau tahu kan lelaki
yang memanggilku di auditorium sewaktu kalian menyapaku? Namanya Peter. Ia
memberitahukanku bahwa dua tahun yang lalu aku melakukan Hypnotherapy dibantu oleh wanita tua itu yang merupakan Ibunya
sendiri, nyonya Jackson. Aku minta tolong kepadanya karena ada hal yang tak
ingin ku ingat. Sebenarnya tidak semua ingatanku hilang, aku masih memiliki 20%
ingatan dari masa lalu.”
Aku ingat Peter pernah menceritakan kepadaku, ia pertama
kali bertemu denganku di rumahnya, waktu itu aku dibawa oleh nyonya Jackson ke rumahnya.
Aku memohon agar nyonya Jakson mau membantuku, dan aku mengatakan “tolong bantu aku, ada hal-hal yang tidak ingin
ku ingat”. Tentu saja ibunya melarang
untuk menceritakan hal tersebut, namun waktu itu aku memohon kepada
Peter untuk mengatakan sedikit tentangku yang tak ku ketahui.
“Sekarang aku telah
mengatakannya kepadamu, apa ini membuat kamu jadi lebih baik?” Aku melepaskan
genggaman tanganya kemudian berdiri berjalan ke arah jendela berkaca,
memandangi langit.
“Belum, tapi sekarang
aku paham karena hal itu sehingga kau jadi tak mnegenali kami”
“Kalau begitu aku bisa
tidur sekarang” Tubuhku lelah rasanya ingin segera beristirahat, namun
tiba-tiba Eren menghampiriku, sepertinya dia belum puas dengan pernyataanku.
“Namun ada sesuatu yang
masih mengganjal, kau bilang ketika kau datang ke tempat nyonya Jackson kau
memintanya untuk menolongmu karena kau tak ingin mengingat sesuatu. Berarti
menghapus ingatanmu adalah kehendakmu sendiri?”
“Kau benar”
“Lalu bukankah kau
masih mempunyai 20% ingatan yang tersisa, dalam ingatan itu tak ada kami?”
“Aku juga tidak tahu,
ketika kita pertama kali bertemu di auditorium aku benar-benar tak bisa
mengenali kalian. Namun ketika aku membaca namamu di papan nama seperti ada
sesuatu yang terhubung dengan ingatanku.”
“Itu artinya aku dan
teman yang lainnya sudah tidak ada di ingatanmu atau bisa jadi kita masih
berada di ingatanmu, begitu?”
“Ya kau benar,
ingatanku yang 20% itu masih
samar-samar.”
“Setahuku Hypnotherapy digunakan dalam bidang
psikologis untuk menolong orang yang depresi atau stress, berfungsi untuk
memulihkan atau menghapus ingatan kelam.”
“Sepertinya kau tahu
banyak”
“Artinya kau memang
sengaja menghapus ingatanmu tentang kami, apakah kau mempunyai kenangan buruk
bersama kami? Ha?!”
“Aku tidak tahu, sudah
ku katakan bahwa aku tak mengingat kejadian sebelum aku melakukan Hypnotherapy termasuk alasan aku
melakukannya” Ternyata dia memang belum cukup puas dengan pernyataanku
sebelumnya, nampaknya dia juga tak akan berhenti di sini. Namun rasa kantuk
mulai mneyelinap ke tubuhku. Ku rasa akan lebih baik jika aku mengakhiri saja
perbincangan ini, aku bergegas menuju tempat tidur hendak berbaring.
“Aku di bawah dan kau
di atas, merepotkan kalau harus memanjat tangga”
Eren nampaknya
memperhatikan langkahku, sepertinya dia belum akan menyudahi perbincangan ini.
“Kau mau tidur sekarang?”
“Ku rasa aku lelah”
“Baiklah, selamat
tidur” Dia terlihat begitu kecewa dengan sikapku, sepertinya dia belum akan
tidur. Masih terlihat memandangi langit berbintang di balik kaca jendela. Aku
meraih tasku yang tergeletak di tempat tidur dan mengambil sebuah buku catatan yang
ada di dalamnya kemudian aku membuka halaman pertama.
“Kemarilah, ini mungkin
bisa menjawab pertanyaanmu” Aku mengulurkan tanganku sembari memberikan buku
catatan. Eren menghampiriku dan meraih buku catatan itu, kemudian duduk tepat
di sampingku.
“Itu adalah catatanku
sebelum aku melakukan Hypnotherapy, aku
telah menyembunyikannya dari nyonya
Jackson. Meskipun hanya satu lembar tak penuh, mungkin bisa membantu rasa
penasaranmu.”
Aku diberitahukan sebelum melakukan Hypnotherapy aku menulis catatan itu kemudian aku memberikannya
kepada Peter dan dia menyimpannya untukku. Namun hari ini sebelum datang ke
kesini, Peter memberikanku catatan tersebut. Nampaknya Peter telah
memperhitungkan kalau aku bertemu dengan orang yang mengenalku. Ada tiga hal
yang aku tulis dalam catatan, pertama jika
kau mempunyai teman, kau hanya akan
merepotkannya. Kedua terkadang
seorang teman pun mengatakan hal yang sama sekali tak ingin kau dengar meskipun
mereka tak bersalah namun kau akan terluka. Ketiga apapun yang kau rasakan kau tak boleh mengatakannya kepada temanmu.
Malam ini aku
membiarkan Eren membaca catatan itu, mungkin sedikit banyak mengurangi rasa
penasarannya. Eren mulai membaca, pupil matanya membesar ia seperti mengetahui
sesuatu. Tiba-tiba Eren meraih tanganku sekencang-kencangnya, tubuhku tertarik
kearahnya dan dengan cepat ia memeluku. “Kenapa?
Apa yang terjadi? Kenapa Eren seperti ini?” gumamku. Meski aku kaget
dibuatnya, dengan sikap tak terduganya namun aku membiarkannya memelukku,
mungkin dengan begini bisa membuatnya lebih baik. Ia memelukku erat tanpa
sepatah kata, aku bisa merasakan suhu tubunya dan mendengarkan ritme nafasnya.
Nafasnya seperti tersengal, terdengar suara yang lebih kencang dari sekedar
bernafas, nampaknya ia sedang menangis. Kenapa aku terjebak dalam situasi
seperti ini, aku tak tahu yang seharusnya dilakukan. Aku memberanikan diri
mengusap punggungya dengan tanganku, “Jadi
seperti ini punggung Eren, ototnya begitu keras dan tulang punggungnya menonjol”
gumamku. Jika Eren memang kenalanku, dia mengetahui banyak hal tentang aku yang
aku sendiri tak mengetahuinya, termasuk hal kelam yang terjadi padaku di masa
lampau.
“Kau kenapa?” tanyaku
pelan.
“Maafkan aku Mine”
“Sudahlah… dibandingkan
denganku kau tahu lebih banyak tentangku. Apapun yang terjadi di masa lalu aku
sudah memaafkan begitu juga aku minta maaf atas kesalahanku di masa lampau”
“Tapi….”
“Meski aku tak
mengingat kejadian di masa lalu namun aku tak ingin kau menjelaskannya untukku.
Karena kau lebih tahu tentang diriku, aku ingin kau membantuku agar aku jadi
lebih baik”
Tangisan Eren semakin
menjadi, ia memeluku erat sehingga membuatku sulit bernafas dan buku catatan
itu terjatuh. Aku pun melepaskan pelukan Eren kemudian memungut buku catatan,
ketika aku meraihnya secarik kertas terjatuh dari buku itu. Penasaran, aku pun
memungutnya ternyata hanya sebuah foto. Aku memperhatikannya lamat, dalam foto
itu terdapat dua orang dengan senyum sumringah. Salah satunya adalah aku, dan satunya
lagi seorang laki-laki.
“Ah kau masih
menyimpannya” Eren meraih foto itu sembari tersenyum, benar.. wajahnya dengan
laki-laki yang ada di foto sangat mirip bahkan sama. Eran tidak berbohong
perihal dia mengenalku, pantas saja Eren begitu sedih. Aku sendiri tak bisa
membayangkan jika aku berada di posisinya.
“Aku bahkan baru
melihtanya. Maafkan aku Eren telah melupakanmu”
“Tak apa, sekarang aku
lega” Kesedihan yang tadinya menyelimuti Eren tampaknya telah hilang, ia
tersenyum begitu lebar dan matanya berbinar. Lalu Eren meletakan tanganya di
kepala ku dan mengusap lembut.
“Aku sangat
merindukannya Jasmine Combac” Senyumnya begitu jelas.
