Thursday, March 31, 2016


PIECE OF MEMORIES
            Aku telah berada di gedung ini sejak pukul 04.00 sore, sesorang yang mengenalku memberitahuku untuk datang ke tempat ini. Aku pikir tak akan merepotkan kalau aku mengikuti saja perkataanya. Tempat ini terlihat seperti auditorium, banyak sekali berkumpul orang asing bagiku. Peter Jackson adalah satu-satunya kenalanku, dia memang datang kesini bersamaku. Semua orang berdiri mendengarkan pidato seorang lelaki paruh baya yang tak ku kenal.
“Selamat bergabung dengan perusahaan Vamilion, kami merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perlengkapan futuristic. Berbahagialah karena kalian adalah 20 orang terpilih dari 10 departmant. Mulai hari ini kalian resmi menjadi bagian dari perushaan kami dan kalian akan mendapatkan fasilitas menarik. Beri tepuk tangannya saudara sekalian.
Hay nona yang berdiri di depan pintu”
Begini pun tak apa, ikut bersama keramaian orang, karena sebenarnya aku tidak tahu tujunaku berada di sini. Mungkin aku harus berbahgia karena lelaki paruh baya itu memberitahuku untuk bahagia, atau mungkin tidak.
“Nona…..”
“Hey.. kamu dipanggil lelaki itu”
Suara Peter mengagetkanku. “Ah aku? Bakilah”
“Ada apa pak?”
“Begini nona, kenapa nona terlihat tidak berbahagia, sementara orang-orang di sini sedang begitu bahgaia, kecuali nona”
“Saya terlihat seperti itukah? Setiap orang punya caranya masing-masing untuk mengungkapkan kebahgaiaannya. Anda lihat lelaki yang berdiri di pojok sana? Dia mengungkapkan kegembiraannya dengan melompat-lompat sampai lupa diri. Kemudian lihat wanita di sebelah jendela itu, dia berekspresi tertawa sampai kedua bola matanya hampir tak terlihat. Dan… Wanita di sebalah saya sangking bahgianya sedari tadi tak henti-hentinya memperhatikan anda sembari mengeluarkan air mata harunya. Seperti yang anda lihat, mungkin seperti ini lah cara saya mengungkapkan kebhagiaan” Entah kenapa aku berbicara begitu keras sampai orang-orang memperhatikanku. “Atau mungkin tidak” gumamku lirih.
“Ya aku harap nona juga bahagia. Baiklah saudara sekalian setelah saya tutup acara ini, kalian boleh meninggalkan tempat dan kembali ke kamar atau ruangan masing-masing untuk beristirahat, saduara dapat masuk dengan kunci yang ada di tangan kalian.”
Aku ingat sebelum aku masuk kesini, tepat di pintu masuk ada dua wanita. Seorang wanita memberikanku name tag di sana tertera foto beserta nama ku Columba Livia. Wanita yang lainnya memberikanku sebuah kunci. Oh ternyata itu adalah kunci kamarku. Mungkin mengikuti perkataan orang tidak akan merepotkan Jadi selepas lelaki paruh baya itu menutup acaranya aku bergegas menuju pintu keluar hendak mencari kamar yang cocok dengan kunci ini. Semua orang juga berhamburan menuju pintu keluar.
“mine….
Jasmine..
hay jasmine…!
“kalian memanggilku?”
            Tepat di depan ku di tengah kerumunan berdiri tiga orang tak ku kenal, dua orang lelaki dan satu wanita, tampaknya mereka sebaya denganku. Namun mereka terlihat seperti mengenalku, mereka menyapaku akrab. Seorang laki-laki dari mereka yang mempunyai  tubuh tinggi, maco, kulitnya terlihat agak gelap, rambut lurus rapi dan yang terlihat begitu mencolok dari dia adalah bulu matanya yang lentik, memanggilku “Jasmine”.
“Iya… kami memanggilmu mine”
“Maaf.. tapi aku tidak mempunyai nama seperti itu”
“Ha? Aku tahu ini sudah lama, tapi kau masih ingat kami kan?” Seorang lelaki pemilik bulu mata lentik itu meyakinanku seolah-olah kami saling mengenal.
“iya ingat, aku baru pertama kali bertemu kalian di sini, sekarang” Sejujurnya aku bingung dengan pernyataan ketiga orang itu. Ataukah memang aku kenal mereka namun tak bisa mengenali, ataukah meraka salah orang. Namapak tersirat begitu jelas kekecewaan di wajah mereka ketika mendengarkan jawabanku. Namun memang tak ada hal lain yang ku ketahui tentang mereka, menurutku aku memang tak mengenal mereka dan mereka salah orang.
“Cole ayo buruan kita harus cari kamar” Peter memanggilku dari kejauhan.
“Permisi” Aku membungkukan kepalaku kepada tiga orang itu, dan bergegas meninggalkan mereka. Mudah-mudahan mereka puas dengan pernyataan dan sikap ku. Kali ini Peter benar-benar menyelamatkanku, pikirku.
 “tunggu aku Pet” Aku bergeggas menghampiri Peter yang sedari tadi tengah menunggu.
“Eh kau di kamar nomor berepa Cole, coba lihat gantungan kuncinya”
“07, kau sendiri?”
“01, aku barusan tanya ke wanita di pintu keluar, katanya kamar nomor 01-05 di lantai 2 sedangkan kamar nomor 06-10 di lantai 3”
“kamaranya Cuma 10? Bukanya kita ada 20 orang?”
“Kamarnya memamg Cuma 10, satu kamar untuk dua orang”
“oh begitu”. Ini bukan keadaan baik, sedari dulu aku sangat menghindari jika harus berbagi kamar dengan orang lain. Merepotkan sekali, ketika melihat orang lain berada di ruangan sendiri, bahkan dia dapat melihat sisi lain dariku yang tak seharusnya orang lain ketahui. Mungkin aku akan sedikit beruntung kalau teman sekamarku adalah Peter, tentu saja karena kami kenal lumayan lama dan dia begitu memahami ku. Tapi hal seperti itu tidaklah mungkin, Peter mendapatkan kamar nomor 01 sementara aku nomor 07. Peter tahu kalau aku sangat tidak suka dengan keadaan ini.
“Kau baik –baik saja kan Cole? Apa aku perlu ke petugas agar kita di tempatkan di kamar yang sama?” Peter memegang pundaku dari depan dia tampak begitu khawatir dengan ku. Lega rasanaya Peter menghawatirkanku, tapi ini membuatku tak nyaman, aku seperti beban buat Peter. Mulai dari sekarang aku harus bisa menghadapi semuanya sendiri, kalau aku seperti ini terus aku tak akan pernah bisa maju.
“Tidak usah Pet rasanya merepotkan, seperti ini saja tak apa. Percaya pada ku”. Aku tersenyum sembari menggelengkan kepalaku dan melepaskan tangan Peter dari pundakku. “Sebaiknya kita lekas mencari kamar kita masing-masing, dari sini kita berpisah”
“Baiklah aku mempercayaimu, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi aku”
“Oke!”
            Aku berharap Peter benar-benar mempercayaiku, yang jelas sekarang aku harus segera menemukan kamarku. Setelah berpisah dari Peter aku berjalan menuju sebuah tangga, karena kamarku nomor 07 artinya aku harus ke lantai 3. Meskipun ini perusahaan perlengkapan futuristic, namun tidak ada lift atau pun eskalator,  terlihat seperti asarama biasa. Aku hanya perlu menyusuri tangga, tempat ini sebenarnya jauh dari kata futuristic. Anak tangga terbuat dari kayu, terlihat begitu mengkilap dan rapi. Ketika aku menginjakan kakiku, terdengar bunyi khas dari sepatu wedgesku yang bersentuhan dengan tangga kayu.
            Ketika sampai di lantai 3, aku memperhatikan satu per satu pintu yang ada di sana memastikan kamarku. Seperti dugaanku, hampir semua furniture di sini berbahan dasar kayu, terlihat seperti rumah pohon. Lantai 3 tak begitu besar, terdapat satu ruangan tak berpintu yang cukup luas  dan 5 ruangan berpintu yang sepertinya adalah kamar. Rasanya begitu lelah, malam semakin larut, aku hanya tertarik dengan kamarku agar bisa segera beristirahat. Tak begitu sulit untuk menemukannya setelah menaiki tangga, aku hanya perlu berjalan  lurus kedepan tepat di ujung terdapat kamar nomor 07. Jarak anatara kamar satu dengan yang lainnya agak jauh aku pikir kamarnya lumayan besar. Bergegas menuju ke sana ternyata di pintu terdapat seperti papan nama menggunakan kayu yang di gantung ke sebuah paku. Papan nama tersebut terteta namaku dan satunya lagi dengan nama Eren Cain, dia pasti partner sekamarku. Selepas membaca nama itu kepalaku tiba-tiba sakit rasanya seperti mau muntah. Seluruh badanku terasa lemas, aku tak sanggup berdiri lagi, akhirnya tubuhku terjatuh. Adakah seseorang yang bisa menolongku sekarang, aku tak sanggup mempertahankan kesadaranku dan akhirnya ambruk.
****
            Ketika aku membuka mata, aku sudah berada di sebuah ruangan yang asing bagiku. Berbaring di ranjang, kepalaku masih terasa berat. Tepat di atas ku juga terdapat ranjang, lebih tepatnya tempat tidur bertingkat. Tak terlihat seorangpun di sini, entah siapa yang telah membawaku ke tempat seperti ini. Dari pandanganku hanya terlihat satu set sofa dan sebuah televisi yang menggantung di dinding, rak kayu berwarna putih yang dipenuhi pot tanaman segar. Namun terlihat jendela berkaca yang gordennya dibiarkan terbuka, dan buku-buku yang terbuka berserakan di atas meja belajar. Nampaknya ada sesorang yang tinggal di sini. Di balik dinding tak berpintu terdengar suara teko, seperti ada seseorang yang sedang memasak air.
            “Kamu sudah bangun?” Seorang laki-laki bertubuh tinggi muncul dari balik dinding dengan membawa nampan berisi sebuah mangkok dan cangkir. Ia menanyaiku ramah, senyuman tersirat begitu jelas di wajahnya.
“Aku di mana?”Aku bergegas bangun dan mengambil posisi duduk.
“Di kamar mu”
“Lalu kenapa kau berada di sini?”
“Ini juga kamar ku, tadi aku menemukanmu tergeletak di depan pintu dan melihat name tag mu dengan papan nama yang ada di pintu itu cocok. Lalu aku membawamu masuk ke sini.” Ia meletakan nampan di sebuah meja yang berada tepat di samping tempat tidur ku. “nampaknya kau kelelahan dan kedinginan, aku barusan membuatkan sup asparagus dan teh lemon mudah-muahan dapat membantu memulihkan tubuhmu, makanlah selagi hangat”.
“Terimakasih makanannya dan terimakasih juga telah merawatku” Aku meraih nampan tersebut dan mulai melahap makanannya kebetulan perutku sedari tadi belum terjamah makanan. Tidak ada rasa yang mencolok, sup asparagus begitu segar masih berasa khas asparagus, nampaknya  dimasak dengan detail dan hati-hati. Aku menyukai makanan yang tak meninggalkan rasa aslinya, Kemudian aku meraih cangkir teh lemon aromanya begitu menenangkan dan segar. Nampaknya dia juga menambahkan daun mint di dalamnya, ketika aku meminumnya tubuhku terasa hangat seperti begitu saja menerima minuman ini. Aku pikir dia orang yang baik dan sangat hati-hati, mungkin tidak buruk kalau harus berbagi ruangan dengannya.
 “Kau dan aku beneran pemilik kamar ini?”
“Benar, namaku Eren Cain dari Technology Departmant. Kau tak mengingatku?” Lelaki itu menunjukan name tag nya  lalu bergegas berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya. Namanya memang sesuai dengan yang ada di papan nama, sebeleum kehilangan kesadaranku aku sempat membacanya. Dia memang tampak tak asing bagiku, rasanya seperti kami pernah bertemu, entah di mana. Bukankah aku tak mengenal orang lain selain keluargaku, Peter Jackson dan wanita tua yang menyuruhku untuk datang ke tempat ini. Aku berkali-kali mengkonfirmasi ingatanku tentang lelaki itu namun selalu saja kepalaku terasa berat. Ah iya aku pernah bertemu dengannya sekali tadi selepas acara selesai dan dia memanggilku Jasmine.
“Iya aku ingat kita barusan bertemu di auditorium dan kau memanggilku dengan sebutan aneh itu. Namaku Columba Livia dari Science Departmant, bukan jasmine seperti yang kau kira” Aku meletakan nampan beserta bekas makananku di meja kemudian bangkit dari tempat tidur dan hendak duduk di sofa yang sama dengan Eren.
“Bolehkah aku duduk di sini?”
“Tentu” Eren mengangkat tubuhnya dan mengambil posisi duduk. Nampak jelas dari raut wajahnya kalau dia menahan sejuta pertanyaan. Sepertinya dia tak menyukaiku, namun ia selalu berusaha tersenyum dan ramah. Dia tak berani menatapku, selalu mengalihkan pandangannya. Jujur berbicara dengannya yang baru bertemu tadi seperti bukan orang asing, nyaman berada di dekatnya seperti ini.
            Tiba-tiba Eren mendekatkan tubunnya kepada ku dan meraih kedua pundak ku dari depan, matanya menatapku tajam, Rasanya sakit tubuh ini, dia memegangku begitu kuat, aku hampir takut dibuatnya. Ia terdiam begitu lama namun perlahan mengeluarkan air matanya dan berteriak kepada ku
“Hay Jasmine…. !
Kau sungguh tak menganalku?! Sebelum kita bertemu di auditorium! Dua tahun yang lalau kau bersama kami, bersama aku, Anne dan Grant, kau tidak ingat?! Ha?!” Dia menggoyangkan badanku begitu kencang.
            Sungguh aku terkejut, jantungku serasa mau copot, tubuhku terjingkat dia begitu menakutkan. Aku sungguh tak mengenali mereka, lalau siapa lagi Anne dan Grant, apakah mereka orang yang juga ku temui di auditorium. Sepertinya Eren mengeluarkan semua yang ia tahan semenjak kami bertemu di auditorium. Kepalaku serasa mau pecah, dengan sekuat tenaga aku melepaskan tangannya. Dia meneriakiku seperti aku seorang penjahat, sakit rasanya, tanpa sadar air mataku keluar.
“Cukup ! aku memang tak mengenal kalian. Kenalanku hanya keluargaku, Peter dan Wanita tua itu. Aku tidak mempunyai teman lain, apalagi kalian” Aku menyeka air mataku dan mengatakan hal yang mungkin bukan sebenarnya, namun hanya sebatas pengetahuanku, sembari menatap kosong ke arah tembok.
“Bohong! Apa kau mengatakan yang sebenarnya? Ha?!
Eren masih saja meneriakiku.
“Aku tidak berbohong, aku hanya mengatakan yang ku ketahui dan aku tidak tahu pasti tentang kebenarannya!” Aku membalasnya dengan nada keras, entah kenapa aku begitu kesal. Rasanya merepotkan sekali harus menjelaskan seperti ini,
“Baiklah.. kalau begitu katakan semua yang kau ketahui”
“Bagaiaman kalau aku tak mau?”
“Aku akan menanggapmu seorang pembohong”
            Aku terdiam begitu lama, suasana di ruangan hening. Biasanaya aku tak peduli mengenai penilaian orang lain terhadapku, yang penting aku tak merugikan mereka. Namun kali ini entah kenapa aku ingin mendapatkan penilaian baik darinya. Aku tidak suka dia meneriakiku seperti seorang penjahat atau pembohong, mendapatkan predikat buruk atas perbuatan yang tak ku lakukan. Namun sepenegetahuanku dia bukanlah orang yang ku kenal, apa akan baik-baik saja jika aku mengatakan semua hal yang ku ketahui kepadanya.
“Baiklah… sebenarnya aku tak bisa mengingat kejadian sebelum dua tahun ini. Jelas aku tidak salah mengatakan kalau aku tidak mengenal kalian karena ingatan dua tahun yang lalu bukanlah milikku lagi” Aku menundukan kepalakau dan mengepalkan kedua tanganku di atas paha, tubuhku gemeteran. Baru kali ini aku berbicara tentang diriku kepada orang lain selain Peter. Apakah aku telah melanggar aturanku sendiri, mungkinkah ini layak untuk didengarkan oleh orang lain.
            Aku takut melihat ke arah Eren, namun sepertinya otot-ototnya telah berelaksasi. Dia tak seseram tadi, tak terdengar suara darinya, nampaknya dia lebih tenang. Aku sedikit lega kalau pernyataanku dapat menjernihkan kepalanya. Namun tiba-tiba kedua tangan Eren meraih tanganku dan menggenggamnya, bola matanya menatapku iba, dia seperti berusaha menenangkanku. Aku menarik nafas perlahan, rasa takut dan gemetarku mulai mereda, tanganya begitu hangat.
“Tolong katakan semuanya, jangan takut ada aku di sini” Suranya begitu lembut, berbeda dengan Eren yang tadi meneriakiku. Aku mengatupkan kedua bibirku, airmataku berjatuhan, aku menangis haru, Baru kali ini ada orang yang berkata seperti itu selain Peter, aku seperti sedang dilindungi. Aku menarik nafas panjang, menyeka air mataku dan membalas menatapnya. Matanya meyakinkanku, mungkin sekarang saat yang tepat untuk mengatakan yang ku ketahui. Sepertinya dia memang seseorang yang pernah aku kenal sebelum ingatanku hilang. Melihat dia sampai semarah itu ketika aku mengatakan aku tak mengenalnya, sebenarnya aku merasa sangat bersalah. Akan lebih baik jika aku mengatakan perihal itu kepadanya.
“Kau tahu kan lelaki yang memanggilku di auditorium sewaktu kalian menyapaku? Namanya Peter. Ia memberitahukanku bahwa dua tahun yang lalu aku melakukan Hypnotherapy dibantu oleh wanita tua itu yang merupakan Ibunya sendiri, nyonya Jackson. Aku minta tolong kepadanya karena ada hal yang tak ingin ku ingat. Sebenarnya tidak semua ingatanku hilang, aku masih memiliki 20% ingatan dari masa lalu.”
            Aku ingat Peter pernah menceritakan kepadaku, ia pertama kali bertemu denganku di rumahnya, waktu itu aku dibawa oleh nyonya Jackson ke rumahnya. Aku memohon agar nyonya Jakson mau membantuku, dan aku mengatakan “tolong bantu aku, ada hal-hal yang tidak ingin ku ingat”. Tentu saja ibunya melarang  untuk menceritakan hal tersebut, namun waktu itu aku memohon kepada Peter untuk mengatakan sedikit tentangku yang tak ku ketahui.
“Sekarang aku telah mengatakannya kepadamu, apa ini membuat kamu jadi lebih baik?” Aku melepaskan genggaman tanganya kemudian berdiri berjalan ke arah jendela berkaca, memandangi  langit.
“Belum, tapi sekarang aku paham karena hal itu sehingga kau jadi tak mnegenali kami”
“Kalau begitu aku bisa tidur sekarang” Tubuhku lelah rasanya ingin segera beristirahat, namun tiba-tiba Eren menghampiriku, sepertinya dia belum puas dengan pernyataanku.
“Namun ada sesuatu yang masih mengganjal, kau bilang ketika kau datang ke tempat nyonya Jackson kau memintanya untuk menolongmu karena kau tak ingin mengingat sesuatu. Berarti menghapus ingatanmu adalah kehendakmu sendiri?”
“Kau benar”
“Lalu bukankah kau masih mempunyai 20% ingatan yang tersisa, dalam ingatan itu tak ada kami?”
“Aku juga tidak tahu, ketika kita pertama kali bertemu di auditorium aku benar-benar tak bisa mengenali kalian. Namun ketika aku membaca namamu di papan nama seperti ada sesuatu yang terhubung dengan ingatanku.”
“Itu artinya aku dan teman yang lainnya sudah tidak ada di ingatanmu atau bisa jadi kita masih berada di ingatanmu, begitu?”
“Ya kau benar, ingatanku yang  20% itu masih samar-samar.”
“Setahuku Hypnotherapy digunakan dalam bidang psikologis untuk menolong orang yang depresi atau stress, berfungsi untuk memulihkan atau menghapus ingatan kelam.”
“Sepertinya kau tahu banyak”
“Artinya kau memang sengaja menghapus ingatanmu tentang kami, apakah kau mempunyai kenangan buruk bersama kami? Ha?!”
“Aku tidak tahu, sudah ku katakan bahwa aku tak mengingat kejadian sebelum aku melakukan Hypnotherapy termasuk alasan aku melakukannya” Ternyata dia memang belum cukup puas dengan pernyataanku sebelumnya, nampaknya dia juga tak akan berhenti di sini. Namun rasa kantuk mulai mneyelinap ke tubuhku. Ku rasa akan lebih baik jika aku mengakhiri saja perbincangan ini, aku bergegas menuju tempat tidur hendak berbaring.
“Aku di bawah dan kau di atas, merepotkan kalau harus memanjat tangga”
Eren nampaknya memperhatikan langkahku, sepertinya dia belum akan menyudahi perbincangan ini. “Kau mau tidur sekarang?”
“Ku rasa aku lelah”
“Baiklah, selamat tidur” Dia terlihat begitu kecewa dengan sikapku, sepertinya dia belum akan tidur. Masih terlihat memandangi langit berbintang di balik kaca jendela. Aku meraih tasku yang tergeletak di tempat tidur dan mengambil sebuah buku catatan yang ada di dalamnya kemudian aku membuka halaman pertama.
“Kemarilah, ini mungkin bisa menjawab pertanyaanmu” Aku mengulurkan tanganku sembari memberikan buku catatan. Eren menghampiriku dan meraih buku catatan itu, kemudian duduk tepat di sampingku.
“Itu adalah catatanku sebelum aku melakukan Hypnotherapy, aku telah  menyembunyikannya dari nyonya Jackson. Meskipun hanya satu lembar tak penuh, mungkin bisa membantu rasa penasaranmu.”
            Aku diberitahukan sebelum melakukan Hypnotherapy aku menulis catatan itu kemudian aku memberikannya kepada Peter dan dia menyimpannya untukku. Namun hari ini sebelum datang ke kesini, Peter memberikanku catatan tersebut. Nampaknya Peter telah memperhitungkan kalau aku bertemu dengan orang yang mengenalku. Ada tiga hal yang aku tulis dalam catatan, pertama jika kau mempunyai teman, kau hanya akan  merepotkannya. Kedua terkadang seorang teman pun mengatakan hal yang sama sekali tak ingin kau dengar meskipun mereka tak bersalah namun kau akan terluka. Ketiga apapun yang kau rasakan kau tak boleh mengatakannya kepada temanmu.
             Malam ini aku membiarkan Eren membaca catatan itu, mungkin sedikit banyak mengurangi rasa penasarannya. Eren mulai membaca, pupil matanya membesar ia seperti mengetahui sesuatu. Tiba-tiba Eren meraih tanganku sekencang-kencangnya, tubuhku tertarik kearahnya dan dengan cepat ia memeluku. “Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa Eren seperti ini?” gumamku. Meski aku kaget dibuatnya, dengan sikap tak terduganya namun aku membiarkannya memelukku, mungkin dengan begini bisa membuatnya lebih baik. Ia memelukku erat tanpa sepatah kata, aku bisa merasakan suhu tubunya dan mendengarkan ritme nafasnya. Nafasnya seperti tersengal, terdengar suara yang lebih kencang dari sekedar bernafas, nampaknya ia sedang menangis. Kenapa aku terjebak dalam situasi seperti ini, aku tak tahu yang seharusnya dilakukan. Aku memberanikan diri mengusap punggungya dengan tanganku, “Jadi seperti ini punggung Eren, ototnya begitu keras dan tulang punggungnya menonjol” gumamku. Jika Eren memang kenalanku, dia mengetahui banyak hal tentang aku yang aku sendiri tak mengetahuinya, termasuk hal kelam yang terjadi padaku di masa lampau.
“Kau kenapa?” tanyaku pelan.
“Maafkan aku Mine”
“Sudahlah… dibandingkan denganku kau tahu lebih banyak tentangku. Apapun yang terjadi di masa lalu aku sudah memaafkan begitu juga aku minta maaf atas kesalahanku di masa lampau”
“Tapi….”
“Meski aku tak mengingat kejadian di masa lalu namun aku tak ingin kau menjelaskannya untukku. Karena kau lebih tahu tentang diriku, aku ingin kau membantuku agar aku jadi lebih baik”
Tangisan Eren semakin menjadi, ia memeluku erat sehingga membuatku sulit bernafas dan buku catatan itu terjatuh. Aku pun melepaskan pelukan Eren kemudian memungut buku catatan, ketika aku meraihnya secarik kertas  terjatuh dari buku itu. Penasaran, aku pun memungutnya ternyata hanya sebuah foto. Aku memperhatikannya lamat, dalam foto itu terdapat dua orang dengan senyum sumringah. Salah satunya adalah aku, dan satunya lagi seorang laki-laki.
“Ah kau masih menyimpannya” Eren meraih foto itu sembari tersenyum, benar.. wajahnya dengan laki-laki yang ada di foto sangat mirip bahkan sama. Eran tidak berbohong perihal dia mengenalku, pantas saja Eren begitu sedih. Aku sendiri tak bisa membayangkan jika aku berada di posisinya.
“Aku bahkan baru melihtanya. Maafkan aku Eren telah melupakanmu”
“Tak apa, sekarang aku lega” Kesedihan yang tadinya menyelimuti Eren tampaknya telah hilang, ia tersenyum begitu lebar dan matanya berbinar. Lalu Eren meletakan tanganya di kepala ku dan mengusap lembut.
“Aku sangat merindukannya Jasmine Combac” Senyumnya begitu jelas.