SISTEMATIKA HEWAN VERTEBRATA
Ikan
Diskus (Symphysodon diskus)
Disusun
guna memenuhi tugas akhir mata kuliah Sistematika Hewan Vertebrata
Dosen
pengampu Dra. Hariyatmi, M.Si

Disusun
oleh:
Lina
Yekti Oktiningtiyas
A420110026
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
Ikan Diskus (Symphysodon diskus)
Discus
adalah spesies ikan air tawar asli lembah Sungai Amazon, Amerika Selatan.
Discus pertamakali dikenalkan pada tahun 1840 oleh Dr. Heckel dengan nama
Symphysodon Discus. Varian Discus aslinya digolongkan ke dalam 3 jenis
berdasarkan warna, yaitu Symphysodon aequifasciata aequifasciata (Green
Discus), Symphysodon aequifasciata axelrodi (Brown Discus), dan Symphysodon
aequifasciata haraldi (the blue variant). Seiring dengan semakin banyaknya
orang yang tertarik memelihara Discus, bahkan di beberapa Negara di Asia,
budidaya Discus telah menjadi industri besar. Dari situ banyak kegiatan
penelitian dan usaha yang dilakukan untuk menghasilkan strains baru dari ikan
Discus. Sehingga tak heran jika saat ini tercatat terdapat puluhan strains ikan
Discus yang ada di pasaran. Discus sangat populer sebagai ikan akuarium
dankadang disebut sebagai rajanya ikan hias.Discus yang indah dan memiliki bentuk
yang sempurna, berasal dari bibit dan kondisi pertumbuhan yang baik sejak
lahir. Diskus
adalah jenis ikan yang hidup secara berkelompok (social fish). Bahkan di alam
bebas, aslinya mereka hidup dalam kelompok besar dan merupakan salah satu dari
sedikit jenis ikan yang mampu belajar.
A.
SEJARAH IKAN DISKUS
Ikan
hias Diskus (Symphysodon discus)
merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang berasal dari sungai Amazon
(Brasil). Jenis ikan ini mempunyai nilai ekonomis yang baik dan sangat
disenangi di berbagai Negara. Ikan Discus pertama kali dijelaskan oleh Dr
Heckel pada tahun 1840., beliau menjelaskan tentang temuannya (Discus liar)
dari species Symphysodon, yang berarti “memiliki gigi di tengah-tengah rahang”.
Ikan discus pertama yang ditemukan ini disebut Discus Heckel yang memiliki tiga
corak bergaris yang sangat tegas. Garis pertama yang melewati bagian kepala,
garis kedua pada bagian tubuh, dan garis ketiga pada bagian ekor. Para Discus
Heckel berasal dari Rio Negro (Central Brasil).
Pada tahun 1904, genus discus yang
lain ditemukan. Pellgerin menulis tentang Green Discus (Symphysodon aequifasciata). Species yang ditemukan di Danau Tafe
dan dicoba dibudidayakan dalam aquarium. Baru pada tahun 1950-an ikan ini mulai
berhasil dikembang biakan. Sampai pada tahun 1960-an disenutkan bahwa ada dua
species lain dari discus, yaitu Brown Discus (Symphysodon aequifasciata axelordi) dan Blue Discus (Symphysodon aequifasciata haraldi).walaupun
belum begitu jelas, apakah species ini sebenarnya berbeda dengan species
sebelumnya atau hanya hasil penangkaran.
B.
MORFOLOGI
Ikan yang
berbentuk seperti kue dadar ini di lengkapi dengan keindahan warna dan bentuk
tubuhnya. Jika pada umumnya ikan hias mempunyai bentuk tubuh memanjang, diskus
tidaklah demikian. Bentuk diskus unik seperti cakram atau kue dadar oleh karena itu disebut dengan nama
discus. Warnanya sangat unik dan manarik sesuai dengan strain dan
keturunannya. bentuk badannya pipih tipis
dan bundar mirip ikan bawal dengan corak
warna tubuh menarik dan memiliki
keragaman warna layaknya ikan hias air tawar lainnya. Terkadang memiliki corak
warna batik di seluruh tubuhnya.memiliki sirip yang lengkap. Sirip
ventralnya panjang dan menjuntai. Bentuk
badan pipih dan seperti lingkaran jika dilihat dari samping. Pola
warna disepanjang tubuhnya berupa gari-garis pendek dengan warna garis
berbeda-beda sesuai dengan jenisnya.
Bentuk tubuh genus Symphysodon
adalah pipih dan melebar. Namun yang membedakan dengan golongan cichlide
lainnya adalah selain pipih, ikan genus ini juga membulat atau cenderung
seperti lingkaran. Ikan Discus mempunyai variasi warna yang menakjubkan. Selain variasi
warna, adanya variasi corak tubuh membuat ikan ini semakin berkelas. Ikan hidup
mempunyai life time yang cukup lama yakni 10 tahun jika kondisi air bagus dan
tidak terserang penyakit.

Gambar
1. Morfologi ikan Diskus (Symphysodon discus

Gambar
2. Morfologi Ikan Diskus
C.
TAKSONOMI IKAN DISKUS
Diskus
tergolong dalam Symphysodon, yang
mana kini merangkumi tiga jenis speises : Diskus biasa (Symphysodon aequifasciatus), Diskus Heckel (Symphysodon discus) dan spesies baru yang belum diberi nama yaitu Symphysodon tarzoo. Bagaimanapun, sebuah
kajian lanjut yang diterbitakan pada bulan Agustus 2007 mencandangkan bahwa
genus dikelaskan dalam spesies : S.
Aequifacuatus (diskus hijau), S.
Haraldi (diskus biasa/biru/pirang) dan S.
Discus (Diskus Hecknel). Kedua-dua kajian mencandangkan tiga spesies dengan
pengecualian nama-nama saintik bagi setiap satunya.
Menurut
sistematikanya, ikan diskus digolongkan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Ordo : Percoidea
Family : Cichlidae
Genus : Symphysodon
Species : Symphysodon discus
Nama lokal : Diskus
D.
KARAKTERISTIK IKAN DISKUS
1.
Bentuk badan pipih dan seperti lingkaran jika
dilihat dari samping.
2.
Pola warna disepanjang tubuhnya berupa
gari-garis pendek dengan warna garis berbeda-beda sesuai dengan jenisnya.
3.
Mata ikan diskus berwarna merah dan garis
tengah tubuhnya paling besar 15 Cm.
Bentuk tubuh genus Symphysodon adalah pipih dan
melebar. Namun yang membedakan dengan golongan cichlide lainnya adalah selain
pipih, ikan genus ini juga membulat atau cenderung seperti lingkaran. Ikan
Discus mempunyai variasi warna yang menakjubkan. Selain
variasi warna, adanya variasi corak tubuh membuat ikan ini semakin berkelas.
Ikan discus mempunyai ketahanan hidup yang cukup lama, yakni kurang lebih 10 tahun jika kondisi air bagus dan tidak
terserang penyakit. Ada empat spesies diskus yang dibudidayakan
antara lain Heckel Discus, Brown Discus, Green Discus dan Blue
Discus. Suhu yang baik untuk pemeliharaan diskus berkisar 25-300 C. Sementara kisaran kualitas air seperti keasaman (pH)
cukup lebar sekitar 5-6, 5 dan kekerasan air lunak antara 3-50dH.
E.
HABITAT DAN PENYEBARAN
Habitat asli diskus (Symphysodon
discus) adalah Rio Negro dan perairan tenang Sungai Amazon. Sifatnya
omnivora. Gerakannya sangat halus. Ikan ini pun terkenal sebagai "King of
Aquarium". Symphysodon spesies mendiami pinggiran danau dataran
banjir dan sungai di Cekungan Amazon dataran rendah Amazonia, di mana ia
merupakan bagian dari fauna yang sangat beragam ikan Neotropical. Tiga jenis
Symphysodon memiliki distribusi geografis yang berbeda. S. aequifasciatus
terjadi di Solimões Rio, Rio Amazonas dan Río Putumayo-Ica di Brazil, Kolombia
dan Peru. Sebaliknya distribusi diskusi S. tampaknya terbatas pada bagian hilir
Abacaxis, Rio Negro dan sungai Trombetas. S. tarzoo terjadi hulu Manaus di
Amazon barat.
F.
REPRODUKSI
IKAN DISKUS
1.
Membedakan
induk janatn dan betina
Membedakan diskus jantan dan betina akan lebih mudah
dilakukan jika kita dihadapkan dengan sekumpulan calon induk yang dibesarkan
bersama dan berasal dari wadah yang sama. Dalam sekumpulan itu, diskus jantan
umumnya memiliki postur tubuh yang lebih besar dengan bentuk forehead lebih
kekar atau kasar. Sementara itu, diskus betina umumnya berukuran lebih kecil
dengan bentuk forehead lebih halus. Membedakan kelamin diskus dilihat dari
betuk mulut dan hidung. Pada diskus dewasa, betina memiliki bibir yang
simetris, sama besar antara bibir atas dengan bibir bawahnya. Sedangkan diskus
jantan, bibir atasnya lebih menonjol. Jika melihat hidungnya, maka jantan
mempunyai bentuk agak bengkok, berlainan dengan betina yang hidungnya berbentuk
lurus. Dilihat dari sekitar sirip dubur, pada diskus jantan rata-rata lurus
sedangkan pada diskus betina bentuknya membulat. Melihat gerakannya, diskus
jantan mempunyai pergerakan yang lebih agresif dari diskus betina. Cara lain
untuk membedakan diskus jantan dan betina adalah dengan melihat alat kelamin
genitalnya. Diskus betina memiliki organ genital yang berbentuk lonjong dengan
ujung menumpul atau berbentuk elips. Diskus jantan berbentuk bulat dengan
panjang sekitar 1,5 mm.
Tabel. 1 Perbedaan Induk Jantan
dan Induk Betina pada Ikan Diskus
|
Bagian yang diamati
|
Ikan Jantan
|
Ikan Betina
|
|
Alat kelamin
|
Runcing
|
Lebar dan bulat
|
|
Bentuk bibir
|
Lebih Bibir atas lebih menonjol.
|
Simetris dan sama besar antara bibir atas dan
bawah
|
|
Bentuk hidung
|
Bentuk agak bengkok
|
Bentuk lurus
|
|
Bentuk sirip dubur
|
Bentuk lurus
|
Bentuk bulat
|
|
Pola warna
|
Cerah dan menyebar ke seluruh tubuh
|
Sedikit warna pada wajah dan badan
|
2.
Ciri-ciri
ikan Diskus yang baik
a.
Harus sehat
b.
Sisik tersusun rapi
c.
Sisik tidak cacat
ditunjang dengan bentuk yang bulat
d.
Gerakannya
wajar/normal, tidak bergerak miring atau lamban
e.
Mata menonjol
normal, tidak melotot keluar
f.
Matang gonad atau
siap memijah
3.
Ciri-ciri
ikan Diskus yang siap mijah
Ikan diskus yang
siap mijah umumnya ditandai dengan memisahkan diri dari rekan-rekannya dalam
satu wadah pemeliharaan (seperti pada gambar 4). Ikan diskus tergolong ikan
yang setia pada pasangannya, karena itu ikan diskus tidak bisa dipijahkan
selain dari pasangannya tersebut.
Pasangan ini lalu
kita pisahkan ditempat tersendiri dan terus diamati. Pasangan yang lengket
terus sudah cukup sebagai jaminan bahwa mereka jantan dan betina. Calon induk
jantan harus berumur 15 bulan, sedangkan induk betina berumur 12 bulan sehingga
layak untuk dipijahkan.
|
|
4.
Proases
pemijahan
Pasangan induk ditempatkan dalam aquarium pemijahan,
dalam 3-10 hari kemudian biasanya proses perkawinan mulai berlangsung. Pasangan
induk diskus saling berenang mengitari pasangannya, pada saat tersebut warna
diskus akan terlihat sangat intensif, sirip-sirip mengembang penuh dan matanya
terlihat berbinar, kemudian mereka akan menentukan tempat nertelur berupa pipa
PVC, pot bunga atau pecahan-pecahan genting atau keramik. Setelah itu pasangan
diskus akan mulai meletakan telurnya, setelah telur pertama diletakkan, diskus
jantan akan membuahinya selama beberapa jam, induk yang dipersiapkan dengan
baik akan menghasilkan 150 - 300 butir telur. Setelah proses pemijahan
berakhir, pasangan diskus akan menunggui telurnya, mereka akan mengipasi telur
tersebut dengan sirip dada, untuk mencegah adanya kotoran atau spora jamur yang
melekat selama menjaga telurnya, induk tetap harus diberi pakan dan kondisi
aquarium harus terlihat bersih. Dalam waktu 6 hari sejak peletakan telur, telur
akan menetas menjadi larva-larva kecil, yang kemudian akan berkembang menjadi
diskus dewasa.
5.
Penetasan
Telur
Seperti ikan Chiclid
lainnya, ikan diskus bersifat menempelkan telurnya pada suatu benda atau
substrat. Oleh karena itu tempat pemijahan harus diberi potongan paralon atau
benda lain yang permukaannya halus sebagai tempat menempelnya telur. Telur ikan
diskus akan menetas dalam waktu 40 - 60 jam sejak dibuahi. Induk ikan diskus
tersebut bisa dijadikan inang asuh apabila hanya bisa bertelur tetapi tidak
mampu merawat telurnya dengan baik. Penetasan telur terkadang tidak terjadi
secara serentak, telur bisa sampai 8 hari baru menetas. Bila dalam waktu lama
(4 hari) telur belum menetas juga, induk diskus akan gelisah sehingga akan
memakan telurnya. Memang sifat kanibalisme yang timbul pada induk ini bukan
karena induk terlalu sayang pada keturunannya, namun juga ada sebab lain.
Misalnya karena kualitas air yang kurang bagus, adanya suara berisik dari luar,
nervous melihat orang mondar-mandir dilingkungan sekitarnya, dan sebagainya.
Untuk itu tingkat penetasan telur (SR) pada ikan diskus diperkirakan mencapai
50% dari jumlah telur yang terbuahi. Namun hal tersebut tidak mutlak sebagai
landasan dalam budidaya ikan diskus, mortalitas pada telur akan semakin tinggi
apabila perlakuan kita kurang intensif dalam menjaga kualitas air serta menjaga
lingkungan sekitar agar tetap aman dan tidak berisik. Natalitas yang tinggi
dapat kita peroleh apabila perlakuan yang kita terapkan dalam proses pemijahan
ikan diskus sesuai dengan kriteria yang diinginkan ikan diskus.
6.
Perkembangan
Telur
a.
40 jam pertama
Pada tahap ini, telur-telur mulai menunjukkan
perkembangannya. Pada telur yang semula berwarna kuning sampai merah transparan
mulai terlihat bintik hitam tepat di tengahnya. Bintik hitam ini merupakan
bintik mata pada benih ikan diskus. Hal ini menandakan bahwa telur-telur
tersebut terbuahi dengan baik. Telur yang tidak terbuahi akan tetap terlihat
transparan, yang kemudian akan memutih dan membusuk.
b.
55 jam pertama
Pada tahap ini telur-telur akan menetas, awalnya kulit
telur akan menipis kemudian larva-larva yang telah berkembang penuh akan
membuat gerakan seperti getaran halus, menembus membran kulit telur. Bagian
ekor larva terlihat mencuat keluar dan bergerak dengan motil. Larva-larva
tersebut tetap melekat pada substratnya.
c.
Hari ke-4
Pada tahap ini, terlihat kemajuan pada perrtumbuhan
larva. Pasangan induk akan memindahkan sekumpulan larva baik sebagian maupun
seluruhnya. Umumnya induk tersebut akan memilih tempat yang aman bagi
larva-larva tersebut.
d.
Hari ke-5
Pada tahap ini aktivitas larva semakin meningkat,
ditandai dengan sering bergeraknya larva keluar dari kumpulannya. Pasangan
induk diskus akan sibuk mengumpulkan larva-larva yang tercerai-berai dan
mengembalikannya ke kumpulan mereka.
e.
Hari ke-6
Pada tahap ini, larva sudah cukup kuat untuk berenang
bebas. Dimulai dengan satu-dua ekor yang mulai berenang dari substrat ke tubuh
induknya. Larva-larva tersebut akan memperoleh makanan dari induknya yaitu
berupa lendir yang di produksi oleh induk diskus serta memperoleh perlindungan
dari induknya.
7.
Pemeliharaan
Larva
Untuk
mendapatkan benih diskus yang berkualitas baik, harus diperhatikan cara
penetasan telur dan perawaatan benihnya. Ikan diskus tidak sepenuhnya dapat
mengasuh anaknya, ada diskus yang tidak dapat mengasuh anaknya. Hal ini sulit
untuk diketahui penyebab utamanya, untuk itu dalam pemeliharaan larvanya
diterapkan tiga cara dalam pemeliharaan larva diskus diantaranya adalah :
a.
Pemeliharaan
larva secara alami
Telur yang dijaga oleh induknya pada saat penetasan. Dua
hari setelah menetas larva diskus sudah dapat bergerak meskipun belum terarah.
Larva diskus akan menempel pada induk untuk memakan lendir yang dihasilkan
induknya hal ini berlangsung selama lima sampai tujuh hari. Kemudian setelah
berumur satu minggu mulai diberi makanan hidup Artemia sampai diskus bisa
memakan kutu air baru dihentikan dan diganti dengan pemberian cacing darah
sampai ikan dewasa atau berumur 1 bulan. Pada gambar 5 memperlihatkan induk
ikan diskus merawat anaknya, benih ikan diskus tersebut selalu bergerak
mengikuti induknya dengan memakan lendir yang diproduksi oleh induk ikan diskus
itu.
b.
Pemeliharaan
larva dengan Inang asuh
Penetasan telur secara buatan telur dipisahkan dari
induknya kemudian telur akan menetas 2 - 3 hari, setelah larva berumur dua hari
larva dipindahkan dari akuarium penetasan dengan cara disifon.
Ambil ± 5 ekor larva kemudian masukkan kedalam akuarium
induk yang sedang mengasuh anaknya yang ukurannya hampir sama dengan larva yang
akan dimasukkan. Apabila setelah tiga menit larva tidak dimakan oleh induk
tersebut dan dapat menempel pada tubuhnya, maka larva yang lain dapat
dimasukkan kedalam akuarium tersebut.
c.
Pemeliharaan
larva secara buatan
Larva yang sudah dapat berenang dipindahkan kedalam
baskom plastik dengan cara disifon, secara berlahan-lahan larva yang ada
dibaskom dimasukkan kedalam akuarium pemeliharaan larva, pada tahap awal
makanan yang diberikan adalah kuning telur yang sudah direbus dicampur dengan
Rotifera yang sudah dikeringkan, bila akan diberikan pada larva harus dicampur
terlebihdahulu dengan putih telur, agar makanan tersebut lebih lama menempel
pada pinggir media pemeliharaan. Makanan diberikan 12 kali sehari atau
dilakukan setiap tiga jam sekali selama 2 – 3 hari, hingga larva bisa makan
Artemia.
G.
PAKAN IKAN DISKUS

Gambar 3. Pakan
ikan Diskus (http://rockydiscus.blogspot.com/
Ikan discus
merupakan ikan Karnivora, namun makanan yang berasal dari campuran daging dan
nabati juga disukai. Tubifex
atau cacing darah baik hidup, kering dan beku sangat disukai oleh Discus. Beberapa toko
ikan hias juga menyediakan makanan dagang (pellet) yang khusus buat Discus.
Adapun makanan yang umum dengan makan yaitu kutu air, cuk, cacing (makanan
buatan) yang ada dipasaran.
Pemberian pakan yang paling baik pada ikan diskus
dapat membuahkan diskus yang tumbuh dengan sehat serta bisa berkembang biak.
sebaliknya, jika pemberian pakan pada diskus tidak dikerjakan dengan teratur
serta serius, maka diskus yang dihasilkan dapat mengecewakan. Di alamnya,
diskus adalah pemakan semua. pakan yang dimakan amat beragam, dari larva-larva
serangga, beragam type cacing, hingga buah-buahan yang terjatuh dari pohonnya
yang menutupi sungai. dari info ini, kita mulai bisa berfikir tentang
variasi pakan yang pas pada ikan diskus. perihal ini dikerjakan dikarenakan tak
ada satu resep baku tentang pengertian pakan yang baik untuk diskus. Info
yang lain yang pantas jadi pertimbangan anda adalah kandungan protein sebagai
sumber tenaga pada ikan diskus sebesar 30-45 persen dari keseluruhan pakannya.
disamping itu, tubuh diskus memerlukan vit. serta mineral. vit. berperan sebagi
katalisator didalam sistem metabolisme tubuh. namun mineral berperan sebagai
sistem pembentuk jaringan tubuh serta menjaga keseimbangan osmosis. tetapi,
jumlah yang diperlukan relatif kecil. Pakan yang ada sekarang ini bisa
dibedakan jadi 2 type menurut asal-usulnya, yakni pakan alami serta pakan
buatan. pakan alami datang dari sumber-sumber alami di sekitar habitat asli
ikan, layaknya cacing, larva, serangga sampai tumbuhan air. tetapi, pemberian
pakan dengan alami mempunyai sebagian efek pembawa beragam bibit penyakit
akibat banyaknya pencemaran lingkungan sekarang ini. namun pakan buatan adalah
pencampuran beragam type kandungan serta nutrisi yang diperlukan ikan gunakan
pengolahan oleh manusia. umumnya, pakan buatan memiliki kandungan unsur-unsur
tambahan serta obat-obat spesifik layaknya pembangkit warna.
1. Beberapa jenis pakan
alami
a. Infusoria serta rotifera adalah type mikroorganisme
yang kerap dipakai pada pakan burayak ikan. berlebihan dari pakan ini adalah
amat pas dipakai pada burayakdiskus dikarenakan ukurannya yang renik.
b. Kutu air adalah type udang-udangan yang tetap
primitif. berlebihan pakan ini adalah jadi pilihan ke-2 sesudah infusoria yang
dipakai sebagai pakan burayak diskus diakrenakan ukutrannya yang relative lebih
kecil.
c. Cacing tubifex adalah nama lain dari cacing
sutera. berlebihan dari cacing ini mempunyai kandungan yang kaya dapat mineral,
lemak serta protein. tetapi, banyak yang menduga cacing ini jadi penyumbang
penyakit terbesar pada ikan dikarenakan area pengembangbiakannya yang kotor.
d. Blood worm adalah larva dari lalat chironomus
yang alami pembusukan hebat. berlebihan dari pakan ini mempunyai protein yang
banyak serta umumnya telah dibekukan (fozen)
hingga gampang dalam pemakaiannya.
e. Jentik nyamuk adalah hasil penetasan dari telur
yang dihasilkan oleh nyamuk berlebihan dari pakan ini adalah kandungan protein
yang tinggi serta bisa dikembangbiakan sendiri melewati budi daya jentik
nyamuk.
f. Telur udang adalah telur udang galah serta
lobster yang dikembangkan sebagai pakan ikan umumnya dipakai didalam wujud
beku. berlebihan dari pakan ini adalah jumlah pigmen yang besar sebagai
pembangkit warna alami serta pemacu kesuburan ikan.
g.
Artemia
adalah planktonik yang hidup di perairan berkadar garam tinggi. berlebihan dari
pakan ini adalah mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi, yakni lemak 25% serta
protein 50%. disamping itu, artemia dinilai sebagai pakan alami yang steril
serta bebas penyakit. tetapi, harga nya relatif lebih mahal dari pada pakan
yang lain.
2. Beberapa jenis pakan buatan :
Pakan
komersial adalah pakan yang dibikin oleh manusia memakai teknologi terbaru yang
mempunyai kandungan nutrisi yang lengkap. umumnya pakan ini dibungkus didalam
kemasan spesial serta bisa bertahan didalam kurun waktu yang cukup lama.
tetapi, pakan ini dapat bikin diskus memerlukan waktu perkembangan yang lebih
lama dari pada umumnya. Burger diskus adalah pakan hasil olahan beragam
jenis bahan makanan yang selanjutnya jadi pakan dengan komposisi nutrisi yang
pas. kandungan pada pakan ini mempunyai banyak protein, mineral, sedikit lemak,
sedikit karbohidrat, sedikit serat, serta vit.. Sesudah anda mengetahui
type pakan yang pas untuk ikan diskus peliharaan anda, ada banyak hal lagi yang
perlu anda cermati saat menjaga kesehatan ikan diskus. salah satunya, frekuensi
pemberian pakan tiap-tiap hari mesti sesuai dengan nilai frekuensi penggantian
air. disamping itu, pemberian pakan yang teratur serta tidak terlalu berlebih.
H. PENYAKIT PADA IKAN DISKUS
Ikan Diskus juga dapat terserang penyakit karena kualitas air yang buruk atau
pakan yang membawa penyakit. Berdasarkan penyebabnya, penyakit yang menyerang
diskus dibagi menjadi 2 macam, yaitu penyakit parasite dan non parasite.
1. Penyakit Parasiter
Penyakit parasiter adalah penyakit yang timbul
karena parasit. Contoh penyakit ini adalah :
a. Gill Worm atau penyakit insang
Penyakit
insang ini menyerang pada bagian insang ikan, esehingga mengakibatkan ikan
tidak bisa bernafas atau mengap-mengap. Obat yang biasa digunakan untuk
mengatasi penyakit insang adalah dengan menggunakan larutan formalin 35-40%,
garam dapur (NaCI), atau PK ( Kalium permanganat).
b. NDD (new diskus disease)
Penyakit NDD juga dikenal dengan nama
discus plague atau velvet. Penyakit ini disebabkan oleh komplikasi beberapa
bakteri dan virus. Penyebab penyakit NDD akan menembus lendir pertahanan diskus
kemudian mengambil sari makanan dari sel-sel kulit yang rusak dan mengambil
cairan tubuh. Akibatnya diskus menjadi lemas dan kemudian mati. Penyakit ini
dapat diobati dengan beberapa cara, yaitu :
1). menggunakan larutan PK dengan dosis 0,6 g per
100 liter air
2). kombinasi 1,5-2 g chloramfenicol
(antibiotik), 0,2-0,3 acriflavine (antiprotozoa), dan 3-4 sendok makan garam
dapur.
3). Kombinasi 2 g oxytetracyclin,
0,2-0,3 g acriflavine, dan 3-4 sendok makan garam dapur,
4). Kombinasi 4 g neomycin sulphate,
250 mg nitrofuratoin atau makrofuran, dan 3-4 sendok makan garam dapur.
5). Kombinasi 1 g ciprofloxacin, 11
tete copperformalin (antiprotozoa), dan 3-4 sendok makan garam dapur.
c.
White Spot
White spot merupakan
penyakit yang dialami hampir semua jenis ikan. Penyakit white spot ditandai
oleh munculnya bintik putih pada ekor, sirip, permukaan tubuh, mata, atau
insang. White spot dapat menyerang diskus karena kualitas air yang jelek. Cara
menangani penyakit ini dapat dilakukan dengan mengganti air setiap hari dan
menaikkan suhu air hingga 33oC, atau dengan menggunkan 0,3 g acriflavine
untuk setiap 100 liter air atay blitz ich sesuai takaran yang tertera.
2. Penyakit Nonparasiter
enyakit nonparasiter adalah penyakit yang tidak disebabkan
oleh parasit, misalnya karena kekurangan oksigen, terlalu banyak makan, masalah
nutrisi, keracunan obat, atau perubahan pH. Berikut ini adalah beberapa
penyakit nonparasiter yang biasa menyerang diskus.
a. Iritasi air
Pergantian air yang mendadak dapat menyebabkna
iritasi air. Penyakit ini ditandai oleh rusaknya ujung sirip atau ekor. Untuk mengatasi
penyakit ini sebaiknya penggantian air akuarium dilakukan secara perlahan,
yaitu dengan mengganti ¾ air lama dengan air baru.
b. Keracunan obat
Keracunan obat terjadi
karena pemberian obat yang melebihi dosis atau obat yang sudah kadaluarsa. Akibatnya
penyakit yang diderita diskus semakin parah. Untuk mencegah penyakit ini
sebaiknya pemberian obat sesuai dosis yang dianjurkan.
c. Kekurangan Oksigen
Sistem aerasi yang tidak memadai serta
populasi ikan yang terlalu padat dapat menyebabkan ikan mengalami kekurangan
oksigen. Cirinya adalah pernapasan ikan menjadi memburu dan mengap-mengap.
Penanggulangannya adalah mengganti sistem aerasi atau mengurangi kepadatan
ikan.
d. Terlalu banyak makan
Diskus yang terlalu banak makan akan
menyebabkan perutna menggelembung dan susah buang air. Penyakit ini dapat
ditanggulangi dengan menaikkan suhu air hingga mencapai 33oC atau
dengan menambahkan 5 sendok makan garam untuk setiap 100 liter air.
c. pH shock
perubahan derajat keasamman
atau pH air dapat menimbulkan pH shock akibatnya diskus kehilangan
keseimbangan. Cara mengatasi pH shock adalah dengan mengganti air akuarium
dengan air yang pH –nya sesuai (6,3-6,8), kemudian diberi 5 sendok makan garam
dapur dan 1 g acriflavine atau methylene blue untuk setiap 100 liter air.
I.
MANFAAT IKAN DISKUS
Karena bentuk tubuhnya yang unik
serta warna yang bervariasi juga terdapat corak warna atau pun garis-garis pada
tubuhnya, ikan ini dimanfaatkan sebagai ikan hias, jika ditempatkan pada
aquarium maka akan terlihat cantik.
Aquarium ikan diskus ini dapat dijadikan sebagai pajangan atau hiasan di dalam
rumah menambah kecantikan rumah.
,
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2012. Tips Pemberian Pakan Pada Ikan.
http://majalahikan.blogspot.com/2012/12/tips-pemberian-pakan-pada-ikan-discus.html.
Diakses pada tanggal 26-12.2013, pukul 07.00 WIB..
Aswar.
2012. Makalah Budidaya Ikan Diskus
(Symphysodon discus). http://aswarpunyainfo.blogspot.com/2012/11/Makalah-Budidaya-Ikan-Discus-Symphysodon-discus.html.
Diakses pada tanggal 12.26, puku; 07.00 WIB.
Begindang.
2013. Penyakit dan Penanggulangan pada Ikan Diskus. http://www.begindang.com/2013/12/penyakit-dan-penanggulangan-pada-ikan-diskus.html.
Diakses pada tanggal 12-12-2013, pukul 20,00 WIB.
Buckley, J., Maunder, R. J., Foey, A., Pearce, J., Val, A.
L. and Sloman, K. A. (2010). Biparental
mucus feeding: a unique example of parental care in an Amazonian cichlid. J. Exp. Biol. 213, 3787–3795.
Direktirat
Pengembangan Produk Nonkonsumsi-Ditjen. 2011. Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Jakarta : Perikanan
Kementrian dan Perikanan.
Hamzah,
bauzad. 2012. Teknologi Akuakultur
48. http://bauzadhamzah.blogspot.com/2012/08/membuat-pakan-ikan.html.
Diakses pada tanggal 26-12-2013, pukul 07.00 WIB.
Loiselle, Paul V. (1995). The
Cichlid Aquarium. Germany: Tetra Press.
Rocky.
2013. Ikan Hias Pakan Diskus. http://rockydiscus.blogspot.com.
Diakses pada tanggal 12-12-2013, pukul 20.00 WIB.
Sands, D (1994) A fishkeepers guide to Central
American cichlids. Tetra Press. Belgium pg 59-60.
Wikipedia.
2013. Ikan Discus. http://ms.wikipedia.org/wiki/Discus_(ikan).
Diakses pada tanggal 12-12-2013, pukul 20.00 WIB.
Ikan
Diskus (Symphysodon diskus)
Disusun
guna memenuhi tugas akhir mata kuliah Sistematika Hewan Vertebrata
Dosen
pengampu Dra. Hariyatmi, M.Si

Disusun
oleh:
Lina
Yekti Oktiningtiyas
A420110026
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
Ikan Diskus (Symphysodon diskus)
Discus
adalah spesies ikan air tawar asli lembah Sungai Amazon, Amerika Selatan.
Discus pertamakali dikenalkan pada tahun 1840 oleh Dr. Heckel dengan nama
Symphysodon Discus. Varian Discus aslinya digolongkan ke dalam 3 jenis
berdasarkan warna, yaitu Symphysodon aequifasciata aequifasciata (Green
Discus), Symphysodon aequifasciata axelrodi (Brown Discus), dan Symphysodon
aequifasciata haraldi (the blue variant). Seiring dengan semakin banyaknya
orang yang tertarik memelihara Discus, bahkan di beberapa Negara di Asia,
budidaya Discus telah menjadi industri besar. Dari situ banyak kegiatan
penelitian dan usaha yang dilakukan untuk menghasilkan strains baru dari ikan
Discus. Sehingga tak heran jika saat ini tercatat terdapat puluhan strains ikan
Discus yang ada di pasaran. Discus sangat populer sebagai ikan akuarium
dankadang disebut sebagai rajanya ikan hias.Discus yang indah dan memiliki bentuk
yang sempurna, berasal dari bibit dan kondisi pertumbuhan yang baik sejak
lahir. Diskus
adalah jenis ikan yang hidup secara berkelompok (social fish). Bahkan di alam
bebas, aslinya mereka hidup dalam kelompok besar dan merupakan salah satu dari
sedikit jenis ikan yang mampu belajar.
A.
SEJARAH IKAN DISKUS
Ikan
hias Diskus (Symphysodon discus)
merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang berasal dari sungai Amazon
(Brasil). Jenis ikan ini mempunyai nilai ekonomis yang baik dan sangat
disenangi di berbagai Negara. Ikan Discus pertama kali dijelaskan oleh Dr
Heckel pada tahun 1840., beliau menjelaskan tentang temuannya (Discus liar)
dari species Symphysodon, yang berarti “memiliki gigi di tengah-tengah rahang”.
Ikan discus pertama yang ditemukan ini disebut Discus Heckel yang memiliki tiga
corak bergaris yang sangat tegas. Garis pertama yang melewati bagian kepala,
garis kedua pada bagian tubuh, dan garis ketiga pada bagian ekor. Para Discus
Heckel berasal dari Rio Negro (Central Brasil).
Pada tahun 1904, genus discus yang
lain ditemukan. Pellgerin menulis tentang Green Discus (Symphysodon aequifasciata). Species yang ditemukan di Danau Tafe
dan dicoba dibudidayakan dalam aquarium. Baru pada tahun 1950-an ikan ini mulai
berhasil dikembang biakan. Sampai pada tahun 1960-an disenutkan bahwa ada dua
species lain dari discus, yaitu Brown Discus (Symphysodon aequifasciata axelordi) dan Blue Discus (Symphysodon aequifasciata haraldi).walaupun
belum begitu jelas, apakah species ini sebenarnya berbeda dengan species
sebelumnya atau hanya hasil penangkaran.
B.
MORFOLOGI
Ikan yang
berbentuk seperti kue dadar ini di lengkapi dengan keindahan warna dan bentuk
tubuhnya. Jika pada umumnya ikan hias mempunyai bentuk tubuh memanjang, diskus
tidaklah demikian. Bentuk diskus unik seperti cakram atau kue dadar oleh karena itu disebut dengan nama
discus. Warnanya sangat unik dan manarik sesuai dengan strain dan
keturunannya. bentuk badannya pipih tipis
dan bundar mirip ikan bawal dengan corak
warna tubuh menarik dan memiliki
keragaman warna layaknya ikan hias air tawar lainnya. Terkadang memiliki corak
warna batik di seluruh tubuhnya.memiliki sirip yang lengkap. Sirip
ventralnya panjang dan menjuntai. Bentuk
badan pipih dan seperti lingkaran jika dilihat dari samping. Pola
warna disepanjang tubuhnya berupa gari-garis pendek dengan warna garis
berbeda-beda sesuai dengan jenisnya.
Bentuk tubuh genus Symphysodon
adalah pipih dan melebar. Namun yang membedakan dengan golongan cichlide
lainnya adalah selain pipih, ikan genus ini juga membulat atau cenderung
seperti lingkaran. Ikan Discus mempunyai variasi warna yang menakjubkan. Selain variasi
warna, adanya variasi corak tubuh membuat ikan ini semakin berkelas. Ikan hidup
mempunyai life time yang cukup lama yakni 10 tahun jika kondisi air bagus dan
tidak terserang penyakit.

Gambar
1. Morfologi ikan Diskus (Symphysodon discus

Gambar
2. Morfologi Ikan Diskus
C.
TAKSONOMI IKAN DISKUS
Diskus
tergolong dalam Symphysodon, yang
mana kini merangkumi tiga jenis speises : Diskus biasa (Symphysodon aequifasciatus), Diskus Heckel (Symphysodon discus) dan spesies baru yang belum diberi nama yaitu Symphysodon tarzoo. Bagaimanapun, sebuah
kajian lanjut yang diterbitakan pada bulan Agustus 2007 mencandangkan bahwa
genus dikelaskan dalam spesies : S.
Aequifacuatus (diskus hijau), S.
Haraldi (diskus biasa/biru/pirang) dan S.
Discus (Diskus Hecknel). Kedua-dua kajian mencandangkan tiga spesies dengan
pengecualian nama-nama saintik bagi setiap satunya.
Menurut
sistematikanya, ikan diskus digolongkan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Ordo : Percoidea
Family : Cichlidae
Genus : Symphysodon
Species : Symphysodon discus
Nama lokal : Diskus
D.
KARAKTERISTIK IKAN DISKUS
1.
Bentuk badan pipih dan seperti lingkaran jika
dilihat dari samping.
2.
Pola warna disepanjang tubuhnya berupa
gari-garis pendek dengan warna garis berbeda-beda sesuai dengan jenisnya.
3.
Mata ikan diskus berwarna merah dan garis
tengah tubuhnya paling besar 15 Cm.
Bentuk tubuh genus Symphysodon adalah pipih dan
melebar. Namun yang membedakan dengan golongan cichlide lainnya adalah selain
pipih, ikan genus ini juga membulat atau cenderung seperti lingkaran. Ikan
Discus mempunyai variasi warna yang menakjubkan. Selain
variasi warna, adanya variasi corak tubuh membuat ikan ini semakin berkelas.
Ikan discus mempunyai ketahanan hidup yang cukup lama, yakni kurang lebih 10 tahun jika kondisi air bagus dan tidak
terserang penyakit. Ada empat spesies diskus yang dibudidayakan
antara lain Heckel Discus, Brown Discus, Green Discus dan Blue
Discus. Suhu yang baik untuk pemeliharaan diskus berkisar 25-300 C. Sementara kisaran kualitas air seperti keasaman (pH)
cukup lebar sekitar 5-6, 5 dan kekerasan air lunak antara 3-50dH.
E.
HABITAT DAN PENYEBARAN
Habitat asli diskus (Symphysodon
discus) adalah Rio Negro dan perairan tenang Sungai Amazon. Sifatnya
omnivora. Gerakannya sangat halus. Ikan ini pun terkenal sebagai "King of
Aquarium". Symphysodon spesies mendiami pinggiran danau dataran
banjir dan sungai di Cekungan Amazon dataran rendah Amazonia, di mana ia
merupakan bagian dari fauna yang sangat beragam ikan Neotropical. Tiga jenis
Symphysodon memiliki distribusi geografis yang berbeda. S. aequifasciatus
terjadi di Solimões Rio, Rio Amazonas dan Río Putumayo-Ica di Brazil, Kolombia
dan Peru. Sebaliknya distribusi diskusi S. tampaknya terbatas pada bagian hilir
Abacaxis, Rio Negro dan sungai Trombetas. S. tarzoo terjadi hulu Manaus di
Amazon barat.
F.
REPRODUKSI
IKAN DISKUS
1.
Membedakan
induk janatn dan betina
Membedakan diskus jantan dan betina akan lebih mudah
dilakukan jika kita dihadapkan dengan sekumpulan calon induk yang dibesarkan
bersama dan berasal dari wadah yang sama. Dalam sekumpulan itu, diskus jantan
umumnya memiliki postur tubuh yang lebih besar dengan bentuk forehead lebih
kekar atau kasar. Sementara itu, diskus betina umumnya berukuran lebih kecil
dengan bentuk forehead lebih halus. Membedakan kelamin diskus dilihat dari
betuk mulut dan hidung. Pada diskus dewasa, betina memiliki bibir yang
simetris, sama besar antara bibir atas dengan bibir bawahnya. Sedangkan diskus
jantan, bibir atasnya lebih menonjol. Jika melihat hidungnya, maka jantan
mempunyai bentuk agak bengkok, berlainan dengan betina yang hidungnya berbentuk
lurus. Dilihat dari sekitar sirip dubur, pada diskus jantan rata-rata lurus
sedangkan pada diskus betina bentuknya membulat. Melihat gerakannya, diskus
jantan mempunyai pergerakan yang lebih agresif dari diskus betina. Cara lain
untuk membedakan diskus jantan dan betina adalah dengan melihat alat kelamin
genitalnya. Diskus betina memiliki organ genital yang berbentuk lonjong dengan
ujung menumpul atau berbentuk elips. Diskus jantan berbentuk bulat dengan
panjang sekitar 1,5 mm.
Tabel. 1 Perbedaan Induk Jantan
dan Induk Betina pada Ikan Diskus
|
Bagian yang diamati
|
Ikan Jantan
|
Ikan Betina
|
|
Alat kelamin
|
Runcing
|
Lebar dan bulat
|
|
Bentuk bibir
|
Lebih Bibir atas lebih menonjol.
|
Simetris dan sama besar antara bibir atas dan
bawah
|
|
Bentuk hidung
|
Bentuk agak bengkok
|
Bentuk lurus
|
|
Bentuk sirip dubur
|
Bentuk lurus
|
Bentuk bulat
|
|
Pola warna
|
Cerah dan menyebar ke seluruh tubuh
|
Sedikit warna pada wajah dan badan
|
2.
Ciri-ciri
ikan Diskus yang baik
a.
Harus sehat
b.
Sisik tersusun rapi
c.
Sisik tidak cacat
ditunjang dengan bentuk yang bulat
d.
Gerakannya
wajar/normal, tidak bergerak miring atau lamban
e.
Mata menonjol
normal, tidak melotot keluar
f.
Matang gonad atau
siap memijah
3.
Ciri-ciri
ikan Diskus yang siap mijah
Ikan diskus yang
siap mijah umumnya ditandai dengan memisahkan diri dari rekan-rekannya dalam
satu wadah pemeliharaan (seperti pada gambar 4). Ikan diskus tergolong ikan
yang setia pada pasangannya, karena itu ikan diskus tidak bisa dipijahkan
selain dari pasangannya tersebut.
Pasangan ini lalu
kita pisahkan ditempat tersendiri dan terus diamati. Pasangan yang lengket
terus sudah cukup sebagai jaminan bahwa mereka jantan dan betina. Calon induk
jantan harus berumur 15 bulan, sedangkan induk betina berumur 12 bulan sehingga
layak untuk dipijahkan.
|
|
4.
Proases
pemijahan
Pasangan induk ditempatkan dalam aquarium pemijahan,
dalam 3-10 hari kemudian biasanya proses perkawinan mulai berlangsung. Pasangan
induk diskus saling berenang mengitari pasangannya, pada saat tersebut warna
diskus akan terlihat sangat intensif, sirip-sirip mengembang penuh dan matanya
terlihat berbinar, kemudian mereka akan menentukan tempat nertelur berupa pipa
PVC, pot bunga atau pecahan-pecahan genting atau keramik. Setelah itu pasangan
diskus akan mulai meletakan telurnya, setelah telur pertama diletakkan, diskus
jantan akan membuahinya selama beberapa jam, induk yang dipersiapkan dengan
baik akan menghasilkan 150 - 300 butir telur. Setelah proses pemijahan
berakhir, pasangan diskus akan menunggui telurnya, mereka akan mengipasi telur
tersebut dengan sirip dada, untuk mencegah adanya kotoran atau spora jamur yang
melekat selama menjaga telurnya, induk tetap harus diberi pakan dan kondisi
aquarium harus terlihat bersih. Dalam waktu 6 hari sejak peletakan telur, telur
akan menetas menjadi larva-larva kecil, yang kemudian akan berkembang menjadi
diskus dewasa.
5.
Penetasan
Telur
Seperti ikan Chiclid
lainnya, ikan diskus bersifat menempelkan telurnya pada suatu benda atau
substrat. Oleh karena itu tempat pemijahan harus diberi potongan paralon atau
benda lain yang permukaannya halus sebagai tempat menempelnya telur. Telur ikan
diskus akan menetas dalam waktu 40 - 60 jam sejak dibuahi. Induk ikan diskus
tersebut bisa dijadikan inang asuh apabila hanya bisa bertelur tetapi tidak
mampu merawat telurnya dengan baik. Penetasan telur terkadang tidak terjadi
secara serentak, telur bisa sampai 8 hari baru menetas. Bila dalam waktu lama
(4 hari) telur belum menetas juga, induk diskus akan gelisah sehingga akan
memakan telurnya. Memang sifat kanibalisme yang timbul pada induk ini bukan
karena induk terlalu sayang pada keturunannya, namun juga ada sebab lain.
Misalnya karena kualitas air yang kurang bagus, adanya suara berisik dari luar,
nervous melihat orang mondar-mandir dilingkungan sekitarnya, dan sebagainya.
Untuk itu tingkat penetasan telur (SR) pada ikan diskus diperkirakan mencapai
50% dari jumlah telur yang terbuahi. Namun hal tersebut tidak mutlak sebagai
landasan dalam budidaya ikan diskus, mortalitas pada telur akan semakin tinggi
apabila perlakuan kita kurang intensif dalam menjaga kualitas air serta menjaga
lingkungan sekitar agar tetap aman dan tidak berisik. Natalitas yang tinggi
dapat kita peroleh apabila perlakuan yang kita terapkan dalam proses pemijahan
ikan diskus sesuai dengan kriteria yang diinginkan ikan diskus.
6.
Perkembangan
Telur
a.
40 jam pertama
Pada tahap ini, telur-telur mulai menunjukkan
perkembangannya. Pada telur yang semula berwarna kuning sampai merah transparan
mulai terlihat bintik hitam tepat di tengahnya. Bintik hitam ini merupakan
bintik mata pada benih ikan diskus. Hal ini menandakan bahwa telur-telur
tersebut terbuahi dengan baik. Telur yang tidak terbuahi akan tetap terlihat
transparan, yang kemudian akan memutih dan membusuk.
b.
55 jam pertama
Pada tahap ini telur-telur akan menetas, awalnya kulit
telur akan menipis kemudian larva-larva yang telah berkembang penuh akan
membuat gerakan seperti getaran halus, menembus membran kulit telur. Bagian
ekor larva terlihat mencuat keluar dan bergerak dengan motil. Larva-larva
tersebut tetap melekat pada substratnya.
c.
Hari ke-4
Pada tahap ini, terlihat kemajuan pada perrtumbuhan
larva. Pasangan induk akan memindahkan sekumpulan larva baik sebagian maupun
seluruhnya. Umumnya induk tersebut akan memilih tempat yang aman bagi
larva-larva tersebut.
d.
Hari ke-5
Pada tahap ini aktivitas larva semakin meningkat,
ditandai dengan sering bergeraknya larva keluar dari kumpulannya. Pasangan
induk diskus akan sibuk mengumpulkan larva-larva yang tercerai-berai dan
mengembalikannya ke kumpulan mereka.
e.
Hari ke-6
Pada tahap ini, larva sudah cukup kuat untuk berenang
bebas. Dimulai dengan satu-dua ekor yang mulai berenang dari substrat ke tubuh
induknya. Larva-larva tersebut akan memperoleh makanan dari induknya yaitu
berupa lendir yang di produksi oleh induk diskus serta memperoleh perlindungan
dari induknya.
7.
Pemeliharaan
Larva
Untuk
mendapatkan benih diskus yang berkualitas baik, harus diperhatikan cara
penetasan telur dan perawaatan benihnya. Ikan diskus tidak sepenuhnya dapat
mengasuh anaknya, ada diskus yang tidak dapat mengasuh anaknya. Hal ini sulit
untuk diketahui penyebab utamanya, untuk itu dalam pemeliharaan larvanya
diterapkan tiga cara dalam pemeliharaan larva diskus diantaranya adalah :
a.
Pemeliharaan
larva secara alami
Telur yang dijaga oleh induknya pada saat penetasan. Dua
hari setelah menetas larva diskus sudah dapat bergerak meskipun belum terarah.
Larva diskus akan menempel pada induk untuk memakan lendir yang dihasilkan
induknya hal ini berlangsung selama lima sampai tujuh hari. Kemudian setelah
berumur satu minggu mulai diberi makanan hidup Artemia sampai diskus bisa
memakan kutu air baru dihentikan dan diganti dengan pemberian cacing darah
sampai ikan dewasa atau berumur 1 bulan. Pada gambar 5 memperlihatkan induk
ikan diskus merawat anaknya, benih ikan diskus tersebut selalu bergerak
mengikuti induknya dengan memakan lendir yang diproduksi oleh induk ikan diskus
itu.
b.
Pemeliharaan
larva dengan Inang asuh
Penetasan telur secara buatan telur dipisahkan dari
induknya kemudian telur akan menetas 2 - 3 hari, setelah larva berumur dua hari
larva dipindahkan dari akuarium penetasan dengan cara disifon.
Ambil ± 5 ekor larva kemudian masukkan kedalam akuarium
induk yang sedang mengasuh anaknya yang ukurannya hampir sama dengan larva yang
akan dimasukkan. Apabila setelah tiga menit larva tidak dimakan oleh induk
tersebut dan dapat menempel pada tubuhnya, maka larva yang lain dapat
dimasukkan kedalam akuarium tersebut.
c.
Pemeliharaan
larva secara buatan
Larva yang sudah dapat berenang dipindahkan kedalam
baskom plastik dengan cara disifon, secara berlahan-lahan larva yang ada
dibaskom dimasukkan kedalam akuarium pemeliharaan larva, pada tahap awal
makanan yang diberikan adalah kuning telur yang sudah direbus dicampur dengan
Rotifera yang sudah dikeringkan, bila akan diberikan pada larva harus dicampur
terlebihdahulu dengan putih telur, agar makanan tersebut lebih lama menempel
pada pinggir media pemeliharaan. Makanan diberikan 12 kali sehari atau
dilakukan setiap tiga jam sekali selama 2 – 3 hari, hingga larva bisa makan
Artemia.
G.
PAKAN IKAN DISKUS

Gambar 3. Pakan
ikan Diskus (http://rockydiscus.blogspot.com/
Ikan discus
merupakan ikan Karnivora, namun makanan yang berasal dari campuran daging dan
nabati juga disukai. Tubifex
atau cacing darah baik hidup, kering dan beku sangat disukai oleh Discus. Beberapa toko
ikan hias juga menyediakan makanan dagang (pellet) yang khusus buat Discus.
Adapun makanan yang umum dengan makan yaitu kutu air, cuk, cacing (makanan
buatan) yang ada dipasaran.
Pemberian pakan yang paling baik pada ikan diskus
dapat membuahkan diskus yang tumbuh dengan sehat serta bisa berkembang biak.
sebaliknya, jika pemberian pakan pada diskus tidak dikerjakan dengan teratur
serta serius, maka diskus yang dihasilkan dapat mengecewakan. Di alamnya,
diskus adalah pemakan semua. pakan yang dimakan amat beragam, dari larva-larva
serangga, beragam type cacing, hingga buah-buahan yang terjatuh dari pohonnya
yang menutupi sungai. dari info ini, kita mulai bisa berfikir tentang
variasi pakan yang pas pada ikan diskus. perihal ini dikerjakan dikarenakan tak
ada satu resep baku tentang pengertian pakan yang baik untuk diskus. Info
yang lain yang pantas jadi pertimbangan anda adalah kandungan protein sebagai
sumber tenaga pada ikan diskus sebesar 30-45 persen dari keseluruhan pakannya.
disamping itu, tubuh diskus memerlukan vit. serta mineral. vit. berperan sebagi
katalisator didalam sistem metabolisme tubuh. namun mineral berperan sebagai
sistem pembentuk jaringan tubuh serta menjaga keseimbangan osmosis. tetapi,
jumlah yang diperlukan relatif kecil. Pakan yang ada sekarang ini bisa
dibedakan jadi 2 type menurut asal-usulnya, yakni pakan alami serta pakan
buatan. pakan alami datang dari sumber-sumber alami di sekitar habitat asli
ikan, layaknya cacing, larva, serangga sampai tumbuhan air. tetapi, pemberian
pakan dengan alami mempunyai sebagian efek pembawa beragam bibit penyakit
akibat banyaknya pencemaran lingkungan sekarang ini. namun pakan buatan adalah
pencampuran beragam type kandungan serta nutrisi yang diperlukan ikan gunakan
pengolahan oleh manusia. umumnya, pakan buatan memiliki kandungan unsur-unsur
tambahan serta obat-obat spesifik layaknya pembangkit warna.
1. Beberapa jenis pakan
alami
a. Infusoria serta rotifera adalah type mikroorganisme
yang kerap dipakai pada pakan burayak ikan. berlebihan dari pakan ini adalah
amat pas dipakai pada burayakdiskus dikarenakan ukurannya yang renik.
b. Kutu air adalah type udang-udangan yang tetap
primitif. berlebihan pakan ini adalah jadi pilihan ke-2 sesudah infusoria yang
dipakai sebagai pakan burayak diskus diakrenakan ukutrannya yang relative lebih
kecil.
c. Cacing tubifex adalah nama lain dari cacing
sutera. berlebihan dari cacing ini mempunyai kandungan yang kaya dapat mineral,
lemak serta protein. tetapi, banyak yang menduga cacing ini jadi penyumbang
penyakit terbesar pada ikan dikarenakan area pengembangbiakannya yang kotor.
d. Blood worm adalah larva dari lalat chironomus
yang alami pembusukan hebat. berlebihan dari pakan ini mempunyai protein yang
banyak serta umumnya telah dibekukan (fozen)
hingga gampang dalam pemakaiannya.
e. Jentik nyamuk adalah hasil penetasan dari telur
yang dihasilkan oleh nyamuk berlebihan dari pakan ini adalah kandungan protein
yang tinggi serta bisa dikembangbiakan sendiri melewati budi daya jentik
nyamuk.
f. Telur udang adalah telur udang galah serta
lobster yang dikembangkan sebagai pakan ikan umumnya dipakai didalam wujud
beku. berlebihan dari pakan ini adalah jumlah pigmen yang besar sebagai
pembangkit warna alami serta pemacu kesuburan ikan.
g.
Artemia
adalah planktonik yang hidup di perairan berkadar garam tinggi. berlebihan dari
pakan ini adalah mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi, yakni lemak 25% serta
protein 50%. disamping itu, artemia dinilai sebagai pakan alami yang steril
serta bebas penyakit. tetapi, harga nya relatif lebih mahal dari pada pakan
yang lain.
2. Beberapa jenis pakan buatan :
Pakan
komersial adalah pakan yang dibikin oleh manusia memakai teknologi terbaru yang
mempunyai kandungan nutrisi yang lengkap. umumnya pakan ini dibungkus didalam
kemasan spesial serta bisa bertahan didalam kurun waktu yang cukup lama.
tetapi, pakan ini dapat bikin diskus memerlukan waktu perkembangan yang lebih
lama dari pada umumnya. Burger diskus adalah pakan hasil olahan beragam
jenis bahan makanan yang selanjutnya jadi pakan dengan komposisi nutrisi yang
pas. kandungan pada pakan ini mempunyai banyak protein, mineral, sedikit lemak,
sedikit karbohidrat, sedikit serat, serta vit.. Sesudah anda mengetahui
type pakan yang pas untuk ikan diskus peliharaan anda, ada banyak hal lagi yang
perlu anda cermati saat menjaga kesehatan ikan diskus. salah satunya, frekuensi
pemberian pakan tiap-tiap hari mesti sesuai dengan nilai frekuensi penggantian
air. disamping itu, pemberian pakan yang teratur serta tidak terlalu berlebih.
H. PENYAKIT PADA IKAN DISKUS
Ikan Diskus juga dapat terserang penyakit karena kualitas air yang buruk atau
pakan yang membawa penyakit. Berdasarkan penyebabnya, penyakit yang menyerang
diskus dibagi menjadi 2 macam, yaitu penyakit parasite dan non parasite.
1. Penyakit Parasiter
Penyakit parasiter adalah penyakit yang timbul
karena parasit. Contoh penyakit ini adalah :
a. Gill Worm atau penyakit insang
Penyakit
insang ini menyerang pada bagian insang ikan, esehingga mengakibatkan ikan
tidak bisa bernafas atau mengap-mengap. Obat yang biasa digunakan untuk
mengatasi penyakit insang adalah dengan menggunakan larutan formalin 35-40%,
garam dapur (NaCI), atau PK ( Kalium permanganat).
b. NDD (new diskus disease)
Penyakit NDD juga dikenal dengan nama
discus plague atau velvet. Penyakit ini disebabkan oleh komplikasi beberapa
bakteri dan virus. Penyebab penyakit NDD akan menembus lendir pertahanan diskus
kemudian mengambil sari makanan dari sel-sel kulit yang rusak dan mengambil
cairan tubuh. Akibatnya diskus menjadi lemas dan kemudian mati. Penyakit ini
dapat diobati dengan beberapa cara, yaitu :
1). menggunakan larutan PK dengan dosis 0,6 g per
100 liter air
2). kombinasi 1,5-2 g chloramfenicol
(antibiotik), 0,2-0,3 acriflavine (antiprotozoa), dan 3-4 sendok makan garam
dapur.
3). Kombinasi 2 g oxytetracyclin,
0,2-0,3 g acriflavine, dan 3-4 sendok makan garam dapur,
4). Kombinasi 4 g neomycin sulphate,
250 mg nitrofuratoin atau makrofuran, dan 3-4 sendok makan garam dapur.
5). Kombinasi 1 g ciprofloxacin, 11
tete copperformalin (antiprotozoa), dan 3-4 sendok makan garam dapur.
c.
White Spot
White spot merupakan
penyakit yang dialami hampir semua jenis ikan. Penyakit white spot ditandai
oleh munculnya bintik putih pada ekor, sirip, permukaan tubuh, mata, atau
insang. White spot dapat menyerang diskus karena kualitas air yang jelek. Cara
menangani penyakit ini dapat dilakukan dengan mengganti air setiap hari dan
menaikkan suhu air hingga 33oC, atau dengan menggunkan 0,3 g acriflavine
untuk setiap 100 liter air atay blitz ich sesuai takaran yang tertera.
2. Penyakit Nonparasiter
enyakit nonparasiter adalah penyakit yang tidak disebabkan
oleh parasit, misalnya karena kekurangan oksigen, terlalu banyak makan, masalah
nutrisi, keracunan obat, atau perubahan pH. Berikut ini adalah beberapa
penyakit nonparasiter yang biasa menyerang diskus.
a. Iritasi air
Pergantian air yang mendadak dapat menyebabkna
iritasi air. Penyakit ini ditandai oleh rusaknya ujung sirip atau ekor. Untuk mengatasi
penyakit ini sebaiknya penggantian air akuarium dilakukan secara perlahan,
yaitu dengan mengganti ¾ air lama dengan air baru.
b. Keracunan obat
Keracunan obat terjadi
karena pemberian obat yang melebihi dosis atau obat yang sudah kadaluarsa. Akibatnya
penyakit yang diderita diskus semakin parah. Untuk mencegah penyakit ini
sebaiknya pemberian obat sesuai dosis yang dianjurkan.
c. Kekurangan Oksigen
Sistem aerasi yang tidak memadai serta
populasi ikan yang terlalu padat dapat menyebabkan ikan mengalami kekurangan
oksigen. Cirinya adalah pernapasan ikan menjadi memburu dan mengap-mengap.
Penanggulangannya adalah mengganti sistem aerasi atau mengurangi kepadatan
ikan.
d. Terlalu banyak makan
Diskus yang terlalu banak makan akan
menyebabkan perutna menggelembung dan susah buang air. Penyakit ini dapat
ditanggulangi dengan menaikkan suhu air hingga mencapai 33oC atau
dengan menambahkan 5 sendok makan garam untuk setiap 100 liter air.
c. pH shock
perubahan derajat keasamman
atau pH air dapat menimbulkan pH shock akibatnya diskus kehilangan
keseimbangan. Cara mengatasi pH shock adalah dengan mengganti air akuarium
dengan air yang pH –nya sesuai (6,3-6,8), kemudian diberi 5 sendok makan garam
dapur dan 1 g acriflavine atau methylene blue untuk setiap 100 liter air.
I.
MANFAAT IKAN DISKUS
Karena bentuk tubuhnya yang unik
serta warna yang bervariasi juga terdapat corak warna atau pun garis-garis pada
tubuhnya, ikan ini dimanfaatkan sebagai ikan hias, jika ditempatkan pada
aquarium maka akan terlihat cantik.
Aquarium ikan diskus ini dapat dijadikan sebagai pajangan atau hiasan di dalam
rumah menambah kecantikan rumah.
,
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2012. Tips Pemberian Pakan Pada Ikan.
http://majalahikan.blogspot.com/2012/12/tips-pemberian-pakan-pada-ikan-discus.html.
Diakses pada tanggal 26-12.2013, pukul 07.00 WIB..
Aswar.
2012. Makalah Budidaya Ikan Diskus
(Symphysodon discus). http://aswarpunyainfo.blogspot.com/2012/11/Makalah-Budidaya-Ikan-Discus-Symphysodon-discus.html.
Diakses pada tanggal 12.26, puku; 07.00 WIB.
Begindang.
2013. Penyakit dan Penanggulangan pada Ikan Diskus. http://www.begindang.com/2013/12/penyakit-dan-penanggulangan-pada-ikan-diskus.html.
Diakses pada tanggal 12-12-2013, pukul 20,00 WIB.
Buckley, J., Maunder, R. J., Foey, A., Pearce, J., Val, A.
L. and Sloman, K. A. (2010). Biparental
mucus feeding: a unique example of parental care in an Amazonian cichlid. J. Exp. Biol. 213, 3787–3795.
Direktirat
Pengembangan Produk Nonkonsumsi-Ditjen. 2011. Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Jakarta : Perikanan
Kementrian dan Perikanan.
Hamzah,
bauzad. 2012. Teknologi Akuakultur
48. http://bauzadhamzah.blogspot.com/2012/08/membuat-pakan-ikan.html.
Diakses pada tanggal 26-12-2013, pukul 07.00 WIB.
Loiselle, Paul V. (1995). The
Cichlid Aquarium. Germany: Tetra Press.
Rocky.
2013. Ikan Hias Pakan Diskus. http://rockydiscus.blogspot.com.
Diakses pada tanggal 12-12-2013, pukul 20.00 WIB.
Sands, D (1994) A fishkeepers guide to Central
American cichlids. Tetra Press. Belgium pg 59-60.
Wikipedia.
2013. Ikan Discus. http://ms.wikipedia.org/wiki/Discus_(ikan).
Diakses pada tanggal 12-12-2013, pukul 20.00 WIB.