Thursday, March 31, 2016


PIECE OF MEMORIES
            Aku telah berada di gedung ini sejak pukul 04.00 sore, sesorang yang mengenalku memberitahuku untuk datang ke tempat ini. Aku pikir tak akan merepotkan kalau aku mengikuti saja perkataanya. Tempat ini terlihat seperti auditorium, banyak sekali berkumpul orang asing bagiku. Peter Jackson adalah satu-satunya kenalanku, dia memang datang kesini bersamaku. Semua orang berdiri mendengarkan pidato seorang lelaki paruh baya yang tak ku kenal.
“Selamat bergabung dengan perusahaan Vamilion, kami merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perlengkapan futuristic. Berbahagialah karena kalian adalah 20 orang terpilih dari 10 departmant. Mulai hari ini kalian resmi menjadi bagian dari perushaan kami dan kalian akan mendapatkan fasilitas menarik. Beri tepuk tangannya saudara sekalian.
Hay nona yang berdiri di depan pintu”
Begini pun tak apa, ikut bersama keramaian orang, karena sebenarnya aku tidak tahu tujunaku berada di sini. Mungkin aku harus berbahgia karena lelaki paruh baya itu memberitahuku untuk bahagia, atau mungkin tidak.
“Nona…..”
“Hey.. kamu dipanggil lelaki itu”
Suara Peter mengagetkanku. “Ah aku? Bakilah”
“Ada apa pak?”
“Begini nona, kenapa nona terlihat tidak berbahagia, sementara orang-orang di sini sedang begitu bahgaia, kecuali nona”
“Saya terlihat seperti itukah? Setiap orang punya caranya masing-masing untuk mengungkapkan kebahgaiaannya. Anda lihat lelaki yang berdiri di pojok sana? Dia mengungkapkan kegembiraannya dengan melompat-lompat sampai lupa diri. Kemudian lihat wanita di sebelah jendela itu, dia berekspresi tertawa sampai kedua bola matanya hampir tak terlihat. Dan… Wanita di sebalah saya sangking bahgianya sedari tadi tak henti-hentinya memperhatikan anda sembari mengeluarkan air mata harunya. Seperti yang anda lihat, mungkin seperti ini lah cara saya mengungkapkan kebhagiaan” Entah kenapa aku berbicara begitu keras sampai orang-orang memperhatikanku. “Atau mungkin tidak” gumamku lirih.
“Ya aku harap nona juga bahagia. Baiklah saudara sekalian setelah saya tutup acara ini, kalian boleh meninggalkan tempat dan kembali ke kamar atau ruangan masing-masing untuk beristirahat, saduara dapat masuk dengan kunci yang ada di tangan kalian.”
Aku ingat sebelum aku masuk kesini, tepat di pintu masuk ada dua wanita. Seorang wanita memberikanku name tag di sana tertera foto beserta nama ku Columba Livia. Wanita yang lainnya memberikanku sebuah kunci. Oh ternyata itu adalah kunci kamarku. Mungkin mengikuti perkataan orang tidak akan merepotkan Jadi selepas lelaki paruh baya itu menutup acaranya aku bergegas menuju pintu keluar hendak mencari kamar yang cocok dengan kunci ini. Semua orang juga berhamburan menuju pintu keluar.
“mine….
Jasmine..
hay jasmine…!
“kalian memanggilku?”
            Tepat di depan ku di tengah kerumunan berdiri tiga orang tak ku kenal, dua orang lelaki dan satu wanita, tampaknya mereka sebaya denganku. Namun mereka terlihat seperti mengenalku, mereka menyapaku akrab. Seorang laki-laki dari mereka yang mempunyai  tubuh tinggi, maco, kulitnya terlihat agak gelap, rambut lurus rapi dan yang terlihat begitu mencolok dari dia adalah bulu matanya yang lentik, memanggilku “Jasmine”.
“Iya… kami memanggilmu mine”
“Maaf.. tapi aku tidak mempunyai nama seperti itu”
“Ha? Aku tahu ini sudah lama, tapi kau masih ingat kami kan?” Seorang lelaki pemilik bulu mata lentik itu meyakinanku seolah-olah kami saling mengenal.
“iya ingat, aku baru pertama kali bertemu kalian di sini, sekarang” Sejujurnya aku bingung dengan pernyataan ketiga orang itu. Ataukah memang aku kenal mereka namun tak bisa mengenali, ataukah meraka salah orang. Namapak tersirat begitu jelas kekecewaan di wajah mereka ketika mendengarkan jawabanku. Namun memang tak ada hal lain yang ku ketahui tentang mereka, menurutku aku memang tak mengenal mereka dan mereka salah orang.
“Cole ayo buruan kita harus cari kamar” Peter memanggilku dari kejauhan.
“Permisi” Aku membungkukan kepalaku kepada tiga orang itu, dan bergegas meninggalkan mereka. Mudah-mudahan mereka puas dengan pernyataan dan sikap ku. Kali ini Peter benar-benar menyelamatkanku, pikirku.
 “tunggu aku Pet” Aku bergeggas menghampiri Peter yang sedari tadi tengah menunggu.
“Eh kau di kamar nomor berepa Cole, coba lihat gantungan kuncinya”
“07, kau sendiri?”
“01, aku barusan tanya ke wanita di pintu keluar, katanya kamar nomor 01-05 di lantai 2 sedangkan kamar nomor 06-10 di lantai 3”
“kamaranya Cuma 10? Bukanya kita ada 20 orang?”
“Kamarnya memamg Cuma 10, satu kamar untuk dua orang”
“oh begitu”. Ini bukan keadaan baik, sedari dulu aku sangat menghindari jika harus berbagi kamar dengan orang lain. Merepotkan sekali, ketika melihat orang lain berada di ruangan sendiri, bahkan dia dapat melihat sisi lain dariku yang tak seharusnya orang lain ketahui. Mungkin aku akan sedikit beruntung kalau teman sekamarku adalah Peter, tentu saja karena kami kenal lumayan lama dan dia begitu memahami ku. Tapi hal seperti itu tidaklah mungkin, Peter mendapatkan kamar nomor 01 sementara aku nomor 07. Peter tahu kalau aku sangat tidak suka dengan keadaan ini.
“Kau baik –baik saja kan Cole? Apa aku perlu ke petugas agar kita di tempatkan di kamar yang sama?” Peter memegang pundaku dari depan dia tampak begitu khawatir dengan ku. Lega rasanaya Peter menghawatirkanku, tapi ini membuatku tak nyaman, aku seperti beban buat Peter. Mulai dari sekarang aku harus bisa menghadapi semuanya sendiri, kalau aku seperti ini terus aku tak akan pernah bisa maju.
“Tidak usah Pet rasanya merepotkan, seperti ini saja tak apa. Percaya pada ku”. Aku tersenyum sembari menggelengkan kepalaku dan melepaskan tangan Peter dari pundakku. “Sebaiknya kita lekas mencari kamar kita masing-masing, dari sini kita berpisah”
“Baiklah aku mempercayaimu, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi aku”
“Oke!”
            Aku berharap Peter benar-benar mempercayaiku, yang jelas sekarang aku harus segera menemukan kamarku. Setelah berpisah dari Peter aku berjalan menuju sebuah tangga, karena kamarku nomor 07 artinya aku harus ke lantai 3. Meskipun ini perusahaan perlengkapan futuristic, namun tidak ada lift atau pun eskalator,  terlihat seperti asarama biasa. Aku hanya perlu menyusuri tangga, tempat ini sebenarnya jauh dari kata futuristic. Anak tangga terbuat dari kayu, terlihat begitu mengkilap dan rapi. Ketika aku menginjakan kakiku, terdengar bunyi khas dari sepatu wedgesku yang bersentuhan dengan tangga kayu.
            Ketika sampai di lantai 3, aku memperhatikan satu per satu pintu yang ada di sana memastikan kamarku. Seperti dugaanku, hampir semua furniture di sini berbahan dasar kayu, terlihat seperti rumah pohon. Lantai 3 tak begitu besar, terdapat satu ruangan tak berpintu yang cukup luas  dan 5 ruangan berpintu yang sepertinya adalah kamar. Rasanya begitu lelah, malam semakin larut, aku hanya tertarik dengan kamarku agar bisa segera beristirahat. Tak begitu sulit untuk menemukannya setelah menaiki tangga, aku hanya perlu berjalan  lurus kedepan tepat di ujung terdapat kamar nomor 07. Jarak anatara kamar satu dengan yang lainnya agak jauh aku pikir kamarnya lumayan besar. Bergegas menuju ke sana ternyata di pintu terdapat seperti papan nama menggunakan kayu yang di gantung ke sebuah paku. Papan nama tersebut terteta namaku dan satunya lagi dengan nama Eren Cain, dia pasti partner sekamarku. Selepas membaca nama itu kepalaku tiba-tiba sakit rasanya seperti mau muntah. Seluruh badanku terasa lemas, aku tak sanggup berdiri lagi, akhirnya tubuhku terjatuh. Adakah seseorang yang bisa menolongku sekarang, aku tak sanggup mempertahankan kesadaranku dan akhirnya ambruk.
****
            Ketika aku membuka mata, aku sudah berada di sebuah ruangan yang asing bagiku. Berbaring di ranjang, kepalaku masih terasa berat. Tepat di atas ku juga terdapat ranjang, lebih tepatnya tempat tidur bertingkat. Tak terlihat seorangpun di sini, entah siapa yang telah membawaku ke tempat seperti ini. Dari pandanganku hanya terlihat satu set sofa dan sebuah televisi yang menggantung di dinding, rak kayu berwarna putih yang dipenuhi pot tanaman segar. Namun terlihat jendela berkaca yang gordennya dibiarkan terbuka, dan buku-buku yang terbuka berserakan di atas meja belajar. Nampaknya ada sesorang yang tinggal di sini. Di balik dinding tak berpintu terdengar suara teko, seperti ada seseorang yang sedang memasak air.
            “Kamu sudah bangun?” Seorang laki-laki bertubuh tinggi muncul dari balik dinding dengan membawa nampan berisi sebuah mangkok dan cangkir. Ia menanyaiku ramah, senyuman tersirat begitu jelas di wajahnya.
“Aku di mana?”Aku bergegas bangun dan mengambil posisi duduk.
“Di kamar mu”
“Lalu kenapa kau berada di sini?”
“Ini juga kamar ku, tadi aku menemukanmu tergeletak di depan pintu dan melihat name tag mu dengan papan nama yang ada di pintu itu cocok. Lalu aku membawamu masuk ke sini.” Ia meletakan nampan di sebuah meja yang berada tepat di samping tempat tidur ku. “nampaknya kau kelelahan dan kedinginan, aku barusan membuatkan sup asparagus dan teh lemon mudah-muahan dapat membantu memulihkan tubuhmu, makanlah selagi hangat”.
“Terimakasih makanannya dan terimakasih juga telah merawatku” Aku meraih nampan tersebut dan mulai melahap makanannya kebetulan perutku sedari tadi belum terjamah makanan. Tidak ada rasa yang mencolok, sup asparagus begitu segar masih berasa khas asparagus, nampaknya  dimasak dengan detail dan hati-hati. Aku menyukai makanan yang tak meninggalkan rasa aslinya, Kemudian aku meraih cangkir teh lemon aromanya begitu menenangkan dan segar. Nampaknya dia juga menambahkan daun mint di dalamnya, ketika aku meminumnya tubuhku terasa hangat seperti begitu saja menerima minuman ini. Aku pikir dia orang yang baik dan sangat hati-hati, mungkin tidak buruk kalau harus berbagi ruangan dengannya.
 “Kau dan aku beneran pemilik kamar ini?”
“Benar, namaku Eren Cain dari Technology Departmant. Kau tak mengingatku?” Lelaki itu menunjukan name tag nya  lalu bergegas berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya. Namanya memang sesuai dengan yang ada di papan nama, sebeleum kehilangan kesadaranku aku sempat membacanya. Dia memang tampak tak asing bagiku, rasanya seperti kami pernah bertemu, entah di mana. Bukankah aku tak mengenal orang lain selain keluargaku, Peter Jackson dan wanita tua yang menyuruhku untuk datang ke tempat ini. Aku berkali-kali mengkonfirmasi ingatanku tentang lelaki itu namun selalu saja kepalaku terasa berat. Ah iya aku pernah bertemu dengannya sekali tadi selepas acara selesai dan dia memanggilku Jasmine.
“Iya aku ingat kita barusan bertemu di auditorium dan kau memanggilku dengan sebutan aneh itu. Namaku Columba Livia dari Science Departmant, bukan jasmine seperti yang kau kira” Aku meletakan nampan beserta bekas makananku di meja kemudian bangkit dari tempat tidur dan hendak duduk di sofa yang sama dengan Eren.
“Bolehkah aku duduk di sini?”
“Tentu” Eren mengangkat tubuhnya dan mengambil posisi duduk. Nampak jelas dari raut wajahnya kalau dia menahan sejuta pertanyaan. Sepertinya dia tak menyukaiku, namun ia selalu berusaha tersenyum dan ramah. Dia tak berani menatapku, selalu mengalihkan pandangannya. Jujur berbicara dengannya yang baru bertemu tadi seperti bukan orang asing, nyaman berada di dekatnya seperti ini.
            Tiba-tiba Eren mendekatkan tubunnya kepada ku dan meraih kedua pundak ku dari depan, matanya menatapku tajam, Rasanya sakit tubuh ini, dia memegangku begitu kuat, aku hampir takut dibuatnya. Ia terdiam begitu lama namun perlahan mengeluarkan air matanya dan berteriak kepada ku
“Hay Jasmine…. !
Kau sungguh tak menganalku?! Sebelum kita bertemu di auditorium! Dua tahun yang lalau kau bersama kami, bersama aku, Anne dan Grant, kau tidak ingat?! Ha?!” Dia menggoyangkan badanku begitu kencang.
            Sungguh aku terkejut, jantungku serasa mau copot, tubuhku terjingkat dia begitu menakutkan. Aku sungguh tak mengenali mereka, lalau siapa lagi Anne dan Grant, apakah mereka orang yang juga ku temui di auditorium. Sepertinya Eren mengeluarkan semua yang ia tahan semenjak kami bertemu di auditorium. Kepalaku serasa mau pecah, dengan sekuat tenaga aku melepaskan tangannya. Dia meneriakiku seperti aku seorang penjahat, sakit rasanya, tanpa sadar air mataku keluar.
“Cukup ! aku memang tak mengenal kalian. Kenalanku hanya keluargaku, Peter dan Wanita tua itu. Aku tidak mempunyai teman lain, apalagi kalian” Aku menyeka air mataku dan mengatakan hal yang mungkin bukan sebenarnya, namun hanya sebatas pengetahuanku, sembari menatap kosong ke arah tembok.
“Bohong! Apa kau mengatakan yang sebenarnya? Ha?!
Eren masih saja meneriakiku.
“Aku tidak berbohong, aku hanya mengatakan yang ku ketahui dan aku tidak tahu pasti tentang kebenarannya!” Aku membalasnya dengan nada keras, entah kenapa aku begitu kesal. Rasanya merepotkan sekali harus menjelaskan seperti ini,
“Baiklah.. kalau begitu katakan semua yang kau ketahui”
“Bagaiaman kalau aku tak mau?”
“Aku akan menanggapmu seorang pembohong”
            Aku terdiam begitu lama, suasana di ruangan hening. Biasanaya aku tak peduli mengenai penilaian orang lain terhadapku, yang penting aku tak merugikan mereka. Namun kali ini entah kenapa aku ingin mendapatkan penilaian baik darinya. Aku tidak suka dia meneriakiku seperti seorang penjahat atau pembohong, mendapatkan predikat buruk atas perbuatan yang tak ku lakukan. Namun sepenegetahuanku dia bukanlah orang yang ku kenal, apa akan baik-baik saja jika aku mengatakan semua hal yang ku ketahui kepadanya.
“Baiklah… sebenarnya aku tak bisa mengingat kejadian sebelum dua tahun ini. Jelas aku tidak salah mengatakan kalau aku tidak mengenal kalian karena ingatan dua tahun yang lalu bukanlah milikku lagi” Aku menundukan kepalakau dan mengepalkan kedua tanganku di atas paha, tubuhku gemeteran. Baru kali ini aku berbicara tentang diriku kepada orang lain selain Peter. Apakah aku telah melanggar aturanku sendiri, mungkinkah ini layak untuk didengarkan oleh orang lain.
            Aku takut melihat ke arah Eren, namun sepertinya otot-ototnya telah berelaksasi. Dia tak seseram tadi, tak terdengar suara darinya, nampaknya dia lebih tenang. Aku sedikit lega kalau pernyataanku dapat menjernihkan kepalanya. Namun tiba-tiba kedua tangan Eren meraih tanganku dan menggenggamnya, bola matanya menatapku iba, dia seperti berusaha menenangkanku. Aku menarik nafas perlahan, rasa takut dan gemetarku mulai mereda, tanganya begitu hangat.
“Tolong katakan semuanya, jangan takut ada aku di sini” Suranya begitu lembut, berbeda dengan Eren yang tadi meneriakiku. Aku mengatupkan kedua bibirku, airmataku berjatuhan, aku menangis haru, Baru kali ini ada orang yang berkata seperti itu selain Peter, aku seperti sedang dilindungi. Aku menarik nafas panjang, menyeka air mataku dan membalas menatapnya. Matanya meyakinkanku, mungkin sekarang saat yang tepat untuk mengatakan yang ku ketahui. Sepertinya dia memang seseorang yang pernah aku kenal sebelum ingatanku hilang. Melihat dia sampai semarah itu ketika aku mengatakan aku tak mengenalnya, sebenarnya aku merasa sangat bersalah. Akan lebih baik jika aku mengatakan perihal itu kepadanya.
“Kau tahu kan lelaki yang memanggilku di auditorium sewaktu kalian menyapaku? Namanya Peter. Ia memberitahukanku bahwa dua tahun yang lalu aku melakukan Hypnotherapy dibantu oleh wanita tua itu yang merupakan Ibunya sendiri, nyonya Jackson. Aku minta tolong kepadanya karena ada hal yang tak ingin ku ingat. Sebenarnya tidak semua ingatanku hilang, aku masih memiliki 20% ingatan dari masa lalu.”
            Aku ingat Peter pernah menceritakan kepadaku, ia pertama kali bertemu denganku di rumahnya, waktu itu aku dibawa oleh nyonya Jackson ke rumahnya. Aku memohon agar nyonya Jakson mau membantuku, dan aku mengatakan “tolong bantu aku, ada hal-hal yang tidak ingin ku ingat”. Tentu saja ibunya melarang  untuk menceritakan hal tersebut, namun waktu itu aku memohon kepada Peter untuk mengatakan sedikit tentangku yang tak ku ketahui.
“Sekarang aku telah mengatakannya kepadamu, apa ini membuat kamu jadi lebih baik?” Aku melepaskan genggaman tanganya kemudian berdiri berjalan ke arah jendela berkaca, memandangi  langit.
“Belum, tapi sekarang aku paham karena hal itu sehingga kau jadi tak mnegenali kami”
“Kalau begitu aku bisa tidur sekarang” Tubuhku lelah rasanya ingin segera beristirahat, namun tiba-tiba Eren menghampiriku, sepertinya dia belum puas dengan pernyataanku.
“Namun ada sesuatu yang masih mengganjal, kau bilang ketika kau datang ke tempat nyonya Jackson kau memintanya untuk menolongmu karena kau tak ingin mengingat sesuatu. Berarti menghapus ingatanmu adalah kehendakmu sendiri?”
“Kau benar”
“Lalu bukankah kau masih mempunyai 20% ingatan yang tersisa, dalam ingatan itu tak ada kami?”
“Aku juga tidak tahu, ketika kita pertama kali bertemu di auditorium aku benar-benar tak bisa mengenali kalian. Namun ketika aku membaca namamu di papan nama seperti ada sesuatu yang terhubung dengan ingatanku.”
“Itu artinya aku dan teman yang lainnya sudah tidak ada di ingatanmu atau bisa jadi kita masih berada di ingatanmu, begitu?”
“Ya kau benar, ingatanku yang  20% itu masih samar-samar.”
“Setahuku Hypnotherapy digunakan dalam bidang psikologis untuk menolong orang yang depresi atau stress, berfungsi untuk memulihkan atau menghapus ingatan kelam.”
“Sepertinya kau tahu banyak”
“Artinya kau memang sengaja menghapus ingatanmu tentang kami, apakah kau mempunyai kenangan buruk bersama kami? Ha?!”
“Aku tidak tahu, sudah ku katakan bahwa aku tak mengingat kejadian sebelum aku melakukan Hypnotherapy termasuk alasan aku melakukannya” Ternyata dia memang belum cukup puas dengan pernyataanku sebelumnya, nampaknya dia juga tak akan berhenti di sini. Namun rasa kantuk mulai mneyelinap ke tubuhku. Ku rasa akan lebih baik jika aku mengakhiri saja perbincangan ini, aku bergegas menuju tempat tidur hendak berbaring.
“Aku di bawah dan kau di atas, merepotkan kalau harus memanjat tangga”
Eren nampaknya memperhatikan langkahku, sepertinya dia belum akan menyudahi perbincangan ini. “Kau mau tidur sekarang?”
“Ku rasa aku lelah”
“Baiklah, selamat tidur” Dia terlihat begitu kecewa dengan sikapku, sepertinya dia belum akan tidur. Masih terlihat memandangi langit berbintang di balik kaca jendela. Aku meraih tasku yang tergeletak di tempat tidur dan mengambil sebuah buku catatan yang ada di dalamnya kemudian aku membuka halaman pertama.
“Kemarilah, ini mungkin bisa menjawab pertanyaanmu” Aku mengulurkan tanganku sembari memberikan buku catatan. Eren menghampiriku dan meraih buku catatan itu, kemudian duduk tepat di sampingku.
“Itu adalah catatanku sebelum aku melakukan Hypnotherapy, aku telah  menyembunyikannya dari nyonya Jackson. Meskipun hanya satu lembar tak penuh, mungkin bisa membantu rasa penasaranmu.”
            Aku diberitahukan sebelum melakukan Hypnotherapy aku menulis catatan itu kemudian aku memberikannya kepada Peter dan dia menyimpannya untukku. Namun hari ini sebelum datang ke kesini, Peter memberikanku catatan tersebut. Nampaknya Peter telah memperhitungkan kalau aku bertemu dengan orang yang mengenalku. Ada tiga hal yang aku tulis dalam catatan, pertama jika kau mempunyai teman, kau hanya akan  merepotkannya. Kedua terkadang seorang teman pun mengatakan hal yang sama sekali tak ingin kau dengar meskipun mereka tak bersalah namun kau akan terluka. Ketiga apapun yang kau rasakan kau tak boleh mengatakannya kepada temanmu.
             Malam ini aku membiarkan Eren membaca catatan itu, mungkin sedikit banyak mengurangi rasa penasarannya. Eren mulai membaca, pupil matanya membesar ia seperti mengetahui sesuatu. Tiba-tiba Eren meraih tanganku sekencang-kencangnya, tubuhku tertarik kearahnya dan dengan cepat ia memeluku. “Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa Eren seperti ini?” gumamku. Meski aku kaget dibuatnya, dengan sikap tak terduganya namun aku membiarkannya memelukku, mungkin dengan begini bisa membuatnya lebih baik. Ia memelukku erat tanpa sepatah kata, aku bisa merasakan suhu tubunya dan mendengarkan ritme nafasnya. Nafasnya seperti tersengal, terdengar suara yang lebih kencang dari sekedar bernafas, nampaknya ia sedang menangis. Kenapa aku terjebak dalam situasi seperti ini, aku tak tahu yang seharusnya dilakukan. Aku memberanikan diri mengusap punggungya dengan tanganku, “Jadi seperti ini punggung Eren, ototnya begitu keras dan tulang punggungnya menonjol” gumamku. Jika Eren memang kenalanku, dia mengetahui banyak hal tentang aku yang aku sendiri tak mengetahuinya, termasuk hal kelam yang terjadi padaku di masa lampau.
“Kau kenapa?” tanyaku pelan.
“Maafkan aku Mine”
“Sudahlah… dibandingkan denganku kau tahu lebih banyak tentangku. Apapun yang terjadi di masa lalu aku sudah memaafkan begitu juga aku minta maaf atas kesalahanku di masa lampau”
“Tapi….”
“Meski aku tak mengingat kejadian di masa lalu namun aku tak ingin kau menjelaskannya untukku. Karena kau lebih tahu tentang diriku, aku ingin kau membantuku agar aku jadi lebih baik”
Tangisan Eren semakin menjadi, ia memeluku erat sehingga membuatku sulit bernafas dan buku catatan itu terjatuh. Aku pun melepaskan pelukan Eren kemudian memungut buku catatan, ketika aku meraihnya secarik kertas  terjatuh dari buku itu. Penasaran, aku pun memungutnya ternyata hanya sebuah foto. Aku memperhatikannya lamat, dalam foto itu terdapat dua orang dengan senyum sumringah. Salah satunya adalah aku, dan satunya lagi seorang laki-laki.
“Ah kau masih menyimpannya” Eren meraih foto itu sembari tersenyum, benar.. wajahnya dengan laki-laki yang ada di foto sangat mirip bahkan sama. Eran tidak berbohong perihal dia mengenalku, pantas saja Eren begitu sedih. Aku sendiri tak bisa membayangkan jika aku berada di posisinya.
“Aku bahkan baru melihtanya. Maafkan aku Eren telah melupakanmu”
“Tak apa, sekarang aku lega” Kesedihan yang tadinya menyelimuti Eren tampaknya telah hilang, ia tersenyum begitu lebar dan matanya berbinar. Lalu Eren meletakan tanganya di kepala ku dan mengusap lembut.
“Aku sangat merindukannya Jasmine Combac” Senyumnya begitu jelas.
           


Thursday, January 14, 2016


Gadis Hutan Tropis
 Di sebuah kota kecil di pinggiran hutan tropis, tinggal  seorang gadis bernama Ema Sitohang, Ema sekarang berusia 15 tahun, Dia tinggal di rumah sederhana hanya dengan  neneknya, yang tak pantas disebut sebagai seorang nenek, karena perawakannya yang terlihat masih kuat dan muda dan keriput di wajahnya tak begitu tampak. Tentu saja, neneknya ini rajin sekali berolahraga, dan terlebih lagi bekerja sebagai petugas keamaan di kantor kecamatan selain itu nenek juga merangkap sebagai pelatih bela diri di sebuah sekolahan swasta. Ema selalu memanggil neneknya dengan sebutan Ene, alasanya sederhana karena neneknya terlalu muda jika dipanggil dengan sebutan nenek.
“Biar nenek selalu muda, Ema akan panggil nenek dengan sebutan Ene ya? Dengan begitu Ene tidak akan pernah pergi meninggalkan Ema” Begitu lah kata Ema, menurut Ema sesuatu yang tua dan rapuh lama-kelamaan hanya akan pergi meninggalkan, dan menurutnya manusia sangat kejam ketika seenaknya sendiri pergi meninggalkan. Ema sangat takut untuk kehilangan seseorang yang sangat ia cintai dan kasihi, sudah cukup kesedihan yang begitu perih ditinggal kedua orang tuanya yang sangat menyayanginya. Ema adalah gadis yang sangat ceria, pandai membuat siapa saja yang berada di dekatnya merasa nyaman, Ema juga cantik dan menggemaskan, dengan tubuhnya yang mungil, rambut sepunggungya yang tampak ikal di bagain ujung dengan poni yang berjejer rapi di jidatnya ditambah lagi dengan warna rambutnya yang merah muda. Bola matanya bulat besar dengan lensa berwarna coklat berkilauan, rasanya kalau melihat Ema seperti penampakan dari boneka. Ema sangat menyukai membaca dan buku terlebih lagi dengan buku fiksi, koleksinya lumayan banyak yang tersimpan rapi di perpustakaan kecil miliknya yang terletak di bagian rumah paling belakang, sebagaian besar dari koleksinya adalah karya dari penulis ternama 211 DA. Setelah pulang sekolah kegiatan Ema adalah membantu Ene nya di dapur dan membaca buku.
“Ene…… ni Ema sudah selesai nyuci piringya, sekarang Ema boleh membaca kan Ne?"
“Boleh Ema sayang, tapi hati-hati ya jangan keblabasan”
“Siaap nona Ene !!“ Ema mengangkat tangan kananya, dan berdiri tegak, seperti prajurit yang sedang memberikan hormat kepada panglimanya, Ema memang selalu jahil.
Ema bergegas berjalan menuju pintu di salah satu sudut dapur, Ema akhirnya memegang knop pintu dari kayu itu, namun Ema tiba-tiba teringat sesutau.
“Eh ya Ne… apa diluar hujan?” Ema bertanya kepada Enenya setengah berteriak karena jaraknya lumayan jauh Enenya sedang duduk memperbaiki bajunya yang robek di dekat jendela berkaca.
“Iyaa Ma… di luar hujan, apa tidak apa-apa kamu keluar?”
“Oh.. hujan ya, ya udah ne. Iya, ema nggak apa Ne tenang aja, ini baru hujan di awal musim jadi tak akan lebat”
Ema melanjutkan niatnya dan membuka knop pintu, kreek…. Lihatlah dibalik pintu itu terdapat rak buku kayu dari ukuran kecil hingga besar, dengan lantai ruangan kayu, terdapat tangga nonpermanen dari kayu yang tampaknya di gunakan untuk mengambil buku yang berada di tempat tinggi. Ema berjalan menuju salah satu rak buku yang tak begitu tinggi dan mengambil satu buku yang terpajang di dalamanya. Merupakan sebuah buku fiksi dengan judul Senyuman Berharga Gadis Hitam karya 211 DA. Kemudian Ema menggeser rak bukunya, dan tak di sangka ini seperti pintu ajaib, ternyata itu tidak hanya sekedar rak buku melainkan pintu penghubung ke dunia luar.
Di balik pintu itu terdapat jalan setapak, Ema dengan payung dan bukunya mulai menyusuri jalan setapak, dan ternyata di ujung jalan itu terdapat banyak pohon, binatang, seperti kupu-kupu, capung , burung dan terdapat sungai yang begitu jernih dan ada beberapa batu besar, dan tepat di pinggir sungai terdapat sebuah balai dari kayu dengan lantai panggung dan tak begitu luas. Ini memang hutan, lebih tepatnya disebut hutan tropis, karena terdapat pohon-pohon besar berkanopi, dan udara di bawah kanopi hampir selalu lembab. Hampir setiap hari di hutan ini terjadi hujan karena pohon-pohon mengeluarkan air melalui pori-pori daun. Proses penguapan ini di sebut transpirasi, penguapan ini menyebabkan setengah dari curah hujan di hutan turun. Ini seperti Alice in Wonder Land versi Ema, terdapat begitu beragam tumbuhan dan binatang di sini.
Beberapa pohon menumbuhkan daun yang lebar pada tingkat yang lebih rendah dan menumbuhkan daun kecil di kanopi atas. Tanaman lain tumbuh di atas kanopi untuk mendapatkan sinar matahari. Tanaman tersebut adalah epifit seperti anggrek dan bromeliad. Hampir semua spesies yang jarang di temukan di tempat lain dapat tumbuh dengan baik di hutan ini. Tanaman merambat tumbuh dari satu pohon ke pohon lain dan membentuk 40% dari daun kanopi den membuat hutan ini tampak begitu indah. Rotan anggur memiliki duri di bagian bawah daunnya yang menunjuk ke belakang sebagai pegangan anakan pohon. Ema menyebut tempat ini sebagai surga yang tersembunyi, setelah berjalan akhirnya Ema berhenti di sebuah balai di pinggir sungai.
Ema sedikit bingung, kenapa ada seorang laki-laki di sini, bukanya ini tempat tersembunyi, yang siapa pun tak mengetahui tempat ini, kecuali keluarga Ema.
“Eh… ma maaf, anu.. apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Akhirnya Ema duduk lesehan dan terbata bertanya kepada anak laki-laki itu sambil mengayunkan buku yang ia pegang.
“Menulis” Jawab lelaki itu sekenaknya. Lelaki itu tampak dingin dan begitu serius dengan buku catatan dan penanya. Nampaknya orang asing, bukan dari daerah sini terliihat warna rambutnya berwarna pirang, hidungnya mancung, lensa matanya berwarna biru dan bibirnya terlihat begitu merah, warna kulitnya begitu putih dengan bintik-bintik merah, perawakanya juga tinggi dan tampak sebaya dengan Ema.
Ema terdiam beberapa saat mendengar jawaban dari laki-laki itu, namun rasa penasaran begitu mengusik pikiranya.
“eh maaf jika menganggu, karena kita berada di tempat ini, boleh kah kita mengobrol tuan?”
“Darka Brown’
“eh maksudnya?” Ema kebingungan
“Bukankah tadi kamu mengajaku mengobrol, namaku Darka Brown. Kamu sendiri ngapain di sini?, gadis seperti mu berada di tempat seperti ini”
“Oh iya namaku Ema Sitohang, aku sedang membaca di sini, memang hampir setiap hari aku sempatkan datang ke sini untuk sekedar membaca. Kamu sendiri dari mana datangnya? Aku belum pernah melihat kamu di tempat ini sebelumnya?”
“Begitu, kamu bookworm ya? Buku apa yang sedang kamu baca? Aku memang baru pertama kali datang kesini, aku hanya sedang menyusuri sungai dan sampailah di tempat ini”
“Eh bisa dibilang begitu deh, aku baca buku Senyuman Berharga Gadis Hitam karya penulis ternama 211 DA, menurutku itu nama pena yang aneh, tapi aku sangat menyukai karya-karyanya, kalau kamu suka menulis dan membaca pasti kamu tak asing dengan nama yang aneh itu. Ngomong-ngomong tampaknya kamu bukan dari daerah sini, jangan-jangan kamu jauh kesini hanya sekedar menulis, kamu penulis ya seperti 211 DA?”
Oh si gadis murung yang akhirnya menemukan jati dirinya itu? Itu kan buku lama, apa kamu nggak ada buku baru dari karyanya 211 DA. Tentu saja aku suka tempat ini karena tenang nan sejuk, ketika aku menulis bukan berarti aku seorang penulis dan ketika kamu memasak di dapur juga bukan berarti kamu seorang chef, hanya karena aku jauh-jauh kesini menulis, lantas kamu menyempulkan bahwa aku seorang penulis?”
“Iya ini memang buku lama, dan koleksi buku pertama ku dari 12 buku karya 211 DA, aku hanya tak mampu untuk membeli buku baru, jadi aku hanya mengulangi membaca buku lama. Eh tapi ngmong-ngomong kok kamu bisa tau isi ceritanya, dan lagi kan 211 DA hanya mennulis buku serial gadis atau kamu memang ngefans sama 211 DA, atau kamu punya seorang adik atau kakak perempuan?”
Lantas siapa yang membelikan buku-bukumu yang banyak itu? Karya terbaru yang berjudul Sleepy Girl kamu tau? Belum punya?. Iya aku memang punya adik permpuan, aku tau ceritanya bukan berarti aku suka buku karya 211 DA kan? Aku kan sudah menjelaskan sebelumnya, kamu selalu mengambil kesimpulan sendiri”
“Eeh.. bukan masudku menyinggung, aku hanya menebak, maaf tapi kalau kamu nggak suka sama 211 DA, mungkin dia kerabat kamu? Atau jangan-jangan kamu si 211 DA itu ya? Abisnya kamu mirip banget dengan karakter penulis itu, kamu selalu mengatakan “jika aku menulis bukan berarti aku seorang penulis” dan perumpaan lainnya, itu seperti pemikiran 211 DA. Koleksi bukuku memang banyak, dulu ayahku sewaktu masih hidup sering membelikanku buku, dan beliau lah yang memperkenalkanku dengan buku karya 211 DA, beliau padahal janji akan bersama-sama bertemu dengan penulis itu, namun belum sempat kami bertemu, ayah telah tiada karena tragedi kecelakaan. Sejak saat itu aku berusaha keras untuk bertemu dengan sang penulis, untuk mewujudkan janjiku bersama ayah, dan buku Sleepy Girl aku tahu, itu adalah buku baru namun belum diterbikan masih nunggu bulan depan, tapi kayaknya aku nggak bakalan bisa baca, ya… aku tak punya uang untuk membelinya”.
“kamu jangan ngarang, kalau aku benar 211 DA, masa iya aku menulis serial anak gadis, sedangkan aku ini laki-laki kan? Hm… maaf telah menanyakan suatu hal yang menyakitkan bagi kamu,. Ya sudah lah hari sudah mulai gelap, baiknya aku bergegas pulang, kamu juga pulang sana, tidak baik anak gadis seperti mu sendiri di hutan yang hujan ini” Darka berkata sambil mengemasi barang-barangnya hendak menuju sampan yang terletak di pinggir sungai.
Oh baiklah kalau begitu aku juga pulang, maksaih telah ngobrol banyak hari ini”
“Eh tunggu Ema” Darka yang telah sampai di sampan beteriak pada Ema yang masih duduk di balai.
“iyaa ada apa Darka?”
“Besok temui aku lagi di sini diwaktu yang sama dan jika hari hujan. Aku akan membawakan buku Sleepy Girl, dan aku janji akan mempertemukanmu dengan penulsnya” Darka berteriak sekencang-kencangnya hingga otot-otot di lehernya terlihat begitu jelas.
Ema yang masih duduk dan antusias mendengarkan penjelasan Darka, begitu kaget, yang Ema pikirkan buku Sleepy Girl meski telah selesai ditulis namun belum diterbitkan. “Kenapa? Kenapa dia akan membawakanku buku itu? Bukankah buku itu belum dipublikasikan, sebenrnya dia siapa? barangkali dia hanya bercanda saja, lihat saja besok” Gumam Ema.
“Eh iyaa besok akan kutemui kamu lagi di tempat ini, jika hari hujan” Ema membalas terikan Darka.
****
Setelah pertemuan aneh itu Ema semakin bingung, berpikiran sebenarnya dari mana munculnya Darka? Kenapa dia punya buku Sleepy Girl dan ingin memberikan kepada Ema. Ema yang tadinya ingin tidur akhirnya, terpancing dengan pikirannya, hingga larut malam Ema pun masih terjaga. Sebenarnya siapa Darka? Apakah ini jalan Ema agar bisa bertemu dengan penulis 211 DA.
“Ah kenapa aku terus-terusan kepiran Darka si, aargh… besok aku harus menemuinya dan menanyakan semua yang menganggu pikiranku”. Gumam Ema.
            Setelah sepulang sekolah Ema bergegas membantu pekerjaan rumah, agar bisa selesai lebih awal. Rasanya Ema malah bekerja begitu cepat, lihat saja hari belum begitu sore namun Ema telah menyelesaikan tugasnya. Ema mondar-mandir dan bolak-balik dari dapur hingga ruang tamu, ke dapur lagi, begitu seterusnya, sambil sesekali melirik ke arah jendela berkaca guna menelisik cuaca di luar. Akhirnya sore telah tiba dan hujan turun membasuh rumah dan sekitar tempat tinggal Ema, lantas membuat Ema tersenyum kegirangan.
“Siip, ini sudah cukup aku harus segera ke hutan, eh tapi nenek belum pulang, setidaknya aku harus meninggalkan memo agar nenek tidak khawatir”
Ema langsung terburu ke ruang tengah, bergegas meraih secarik kertas dan pena yang berada di atas meja kecil di sudut ruangan itu.
“Enee… Ema pergi ke hutan seperti biasanya, Ene jangan khawatir dan tak perlu mencari, hormat Ema kepada Ene. Hahaha” Ema Sitohang.
Setelah tulis-menulis itu selesai, segera Ema meluncur ke pintu rahasia yang menghubungkan dengan hutan. Belum sampai di balai, Ema tiba-tiba berhenti sejenak. “ah.. ternyata Darka tidak berbohong” gumam Ema dan senyuman manis mengembang dibibir merah Ema melihat Darka yang sudah berada di balai.
“Tentu saja aku tak berbohong, aku dapat mendengarmu meski kamu hanya bergumam.. hahaha” Darka berteriak menimpali gumamaan Ema, meski jarak mereka masih jauh.
Ema terjingkat kaget dan berlari menghampiri Darka, “heee? Beneran kok kamu bisa mendengarku si?” Ema terheran dan menunjuk mukanya dengan jari telunjuk kanannya. “jangan-jangan kamu paranormal ya? Atau kamu punya semacam telepati?” Ema kelewat heboh menghadapi candaan Darka”
Darka mendorong jidat Ema dengan tanganya seraya berkata “hahaha… hey kamu selalu mengambil kesimpulan sendiri, tentu saja aku tak sekeren itu, aku hanya mendengarkan perkataanmu yang terlalu keras untuk sebuah gumaman, mungkin karena pendengaranku yang kelewat bagus”
“yaah… kamu mempermainkanku ya? Yang terpenting sini mana janjimu yang kemarin?” Ema cemberut dan terlihat kesal menghadapi tingkah Darka.
“Aku sudah bilang, aku tidak akan berbohong” Darka mengambil kotak kardus berwarna coklat muda yang dibalut dengan pita berwarna coklat tua diatas pita terdapat daun mint kering  yang tepat berada di samping Darka lalu dengan hati-hati memberikannya kepada Ema.  “ini untuk kamu, semoga kamu senang menerimanya” Darka mengulurkan kedua tangannya yang tengah memegang kotak itu.
“Eh makasih banyak, maaf aku terkesan seperti perampok, aku pikir kamu hanya bercanda saja soalnya buku ini kan belum terbit, jadi aku menantangmu, jujur…. Aku sangat senang menerima ini darimu, sekali lagi terimakasih” Ema tersenyum bahagia, terlihat dari lensa matanya yang memebesar.
“Haha akhirnya kau percaya kan? Tapi jangan gampang percaya gitu dong, kamu kan belum tahu isinya”
“Sekarang aku percaya padamu dan yakin kalau di dalamnya ada buku Sleepy Girl karya 211 DA, aku akan membukanya nanti di rumah, dan lagi darimana kamu mendapatkan buku ini?”
“Baguslah kalau kamu yakin, aku hanya menemukannya di rumah, dan membawakannya untukmu”
“eh.. tapi.. ngg……”
“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” Darka langsung memotong pembicaraan Ema.
“Boleh… silahkan saja”
“Menurutmu apa yang paling berharga dalam kehidupanmu?”
Tiba-tiba muka Ema serius dan langsung menghela nafas “Ehm… baiklah, ada tiga hal yang paling berharga dalam hidupku, Keluargaku, hutan ini dan…. Penulis 211 DA…..”
Mendengar pernyataaan Ema, tiba-tiba muka Darka memerah namun berusaha menutupinya dari Ema dan Ema tampaknya tak menyadarinya.
“Eh ada apa Darka, boleh aku lanjutkan?
“Iya boleh, silahkan nona…..”
“baiklah tuan…  tentu hampir setiap orang pasti bakal mengatakan keluarga adalah hal yang berharga, mereka benar-benar surga bagiku, meski pun kedua orang tuaku telah meninggal, mereka akan selalu berada di sini, di jantungku, ketika terpuruk mereka ada meski pun secara visual mereka taka ada. Aku juga punya Ene eh maksudku nenek, dia selalu menjaga ku tempatku berlabuh, setelah aku pikir aku tak punya siapa-siapa nenek selalu ada untuku, dan aku akan menjaga nenek, aku tak ingin kehilangannya seperti aku telah kehilangan kedua orang tuaku. Kemudian tempat ini…. Tempat di mana seluruh anggota keluargaku ayah, bunda, nenek dan aku berkumpul menghabiskan sore bersama sembari menikmati hadiah terindah dari Tuhan. Tempat yang mengajarkanku untuk selalu bersyukur, di kala hiruk pikuk kota yang semakin merajai aku masih bisa menikmati keindahan alam ini, dan merupakan saksi bisu di mana aku tumbuh dan bahagia bersama keluarga ku. Aku berjanji sampai akhir akan menjaga dan melindungi hutan ini. Kamu tahu balai ini? ini adalah ayahku yang membuatkanya untuk kami sekeluarga, sebagai tanda terimakasih , kami selalu merawat hutan ini.
Dan yang terakhir…… penulis 211 DA, meski pun aku belum pernah melihatnya, aku yakin dia seorang yang optimis. Aku selalu senang ketika ayahku pulang kerja dan membawakanku buku karya 211 DA, selain aku, ayahku juga menyukainya. Kami sering membaca bersama di balai ini, terkadang ketika aku lelah membaca, ayah akan dengan senang hati membacakannya untuk ku. Terlebih lagi ketika aku terpuruk saat kehilangan kedua orang tuaku, dengan membaca buku 211 DA aku merasa lebih tenang dan termotivasi dan akhirnya aku bisa bangkit, menyisihkan kesedihanku. Seperti kutipan dalam salah satu bukunya “Kamu boleh menangis, menangis bukan simbol kelemahan, melainkan bentuk perasaan, namun ketika kau selesai menangis kau harus lebih baik dan bangkit”, jika kamu ingin tahu, itulah hal yang berharga dalam hidupku, eh.. maaf aku jadi berbicara banyak ya?” Ema mengahiri pembicaraan dengan senyuman lega, Ema selalu bahagia ketika bercerita mengenai ketiga hal itu.
“Wah.. aku tak menyangka kamu akan mengatakan semua hal berharga itu padaku, sepertinya kamu telah benar-benar percaya padaku. Aku juga tak menyangka 211 DA termasuk dalam daftar berharga mu, hebat kamu” Darka tersenyum sumringah dan mengacungkan jempol kehidung Ema, Darka memang selalu bercanda.
“Tentu… kan aku sudah bilang, aku telah percaya padamu, bagiku kamu sperti bentuk lain dari 211 DA, eh nggak …. Aku bercanda. Ngomong-ngomong nggak adil kan kalau cuma kau yang ditanyai, jelaskan padaku hal yang berharga dalam hidupmu”
“Ah… dasar kamu, nggak gampang dicurangi ya, nggak mau kalah, baiklah aku hanya perlu mebuat poin kita sama kan? Dengarkan baik-baik aku tidak segampang itu mengulangi perkataanku” Darka memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman, lalu melanjutkan perkataannya. “tiga hal, pertama kedua orang tuaku, kedua adik perempuanku yang hanya satu-satunya saudaraku, ketiga….seseorang berharga setelah mereka yang akan aku temui, dan sekarang aku telah menemukannya, yaitu kau satu-satunya gadis setelah mereka yang paling ceria dan optimis. Bagiku sesuatu yang berharga harus diabadikan, dikenang dan diberi penghargaan” Darka memalingkan wajahnya kearah samping sembari menunduk, tampak malu-malu. Sedangkan Ema membelalakan matanya dan kaget tak terkira.
“Hahaha… nggak usah dipikirkan nona Ema, mungkin aku hanya bercanda, dan jangan buru-buru mengambil kesimpulan, atas perkataanku yang ini” Darka tertawa lepas mencoba memecahkan kekauan, “kalau Ema paham denganku pasti dia tau maksud dari perkataanku ini” gumam Darka.
“Hahaha.. tentu saja kau hanya bercanda, aku percaya padamu” Ema membalsanya dengan senyuman, “Sebenarnya aku tahu kalau Darka nggak bercanda, kalau dia paham, pasti tau maksud dari perkataanku” gumama Ema.
“oke deh kalau kamu percaya, ya sudah hari semakin gelap, kita seharusnya segera pulang” Darka tersenyum tipis, lantas berdiri turun dari balai.
Ya sudah yuk, kau tak mau mampir ke rumahku?” Ema juga bergegas turun dari balai.
“Oh… tidak, terimakasih, aku harus segera pulang” Darka tersenyum.
“Baiklah kalau begitu, aku pulang ya…… makasih banyak untuk buku dan obrolanyaaaa” Ema membalas senyum Darka, lantas bergegas berjalan menuju jalan setapak.
“Eh… tunggu Ema !!” Suara Darka mengeras dan segera berlari menghampiri Ema, dan merahi tangan Ema.
Ema kaget dengan sikap Darka.
Ada apa? Apa ada sesuatu yang ketinggalan” Ema menatap tangannya yang masih dipegang oleh Darka.
“Eh tidak, aku hanya ingin mengatakan sesuatu” Darka menatap Ema kuat, kemudian tiba-tiba Darka meraih punggung Ema dari depan dan memeluk Ema.
Ema sangat kebingungan dengan sikap Darka, namun Ema tak melepaskan pelukan itu. Ini memang agak canggung bagi Ema, tapi Ema merasa nyaman ketika berada dipelukannya. Ema lantas membalas pelukan Darka, mengangkat kedua tangannya dan merah punggung Darka.
“Emm…. Anu… apa yang ingin kau katakana Darka?”
“Aku… aku, maksudku aku berjanji akan segera mempertemukan kamu dengan penulis itu” Darka berbisik di telinga Ema membuat Ema terjingkat dan melepaskan pelukan itu.
“Serius? Aku kira kamu mau mengatakan apa. Tapi kamu tak perlu memaksakan diri seperti itu.”
“Serius…. Aku tak pernah memaksakan diri. Ini pertemuan kita yang kedua, tapi rasanya kita sperti telah lama kenal. Aku yakin denganmu, dan aku janji akan mempertemukanmu dengan salah satu hal yang berharga itu”
“Aku tak menyangka kamu akan mengatakajan hal seperti ini, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku piker kamu adalaha orang yang dingin, tapi setelah ngobrol banyak dengan mu rasanya mengasyikan”
“Haha benar begitu? Nanti kamu jatuh cinta loh dengan ku… Eh… ya sudah lah, sudah gelap ni, ayo pulang. Hati-hati ya……”
“haha… apa-apaan si kamu, ya sudah kamu juga hati-hati. Eh besok kita bertemu lagi kan?
“Mungkin……” Darka membalikan badannya, berjalan…. Menghilang dari pandangan Ema.
“Bener-bener orang yang susah ditebak” gumam Ema, lantas Ema meninggalkan tempat itu.
****
            Sehari setelah kejadian itu, Ema seperti biasa di sore hari menuju ke hutan tropis, sore ini Ema membawa kotak yang diberikan oleh Darka. Ema duduk di balai hendak membaca, tapi Ema bingung, kenapa hari ini ia tak datang. “Apa dia sibuk? Mungkin besok dia akan datanga”gumam Ema. Lalu Ema membuka kotak perlahan, dan Ema terkejut, isi kotak itu memenag benar buku Sleepy Girl. Ema tampak bingung, kenapa ada dua seri, buku ini memang memiliki dua seri tapi yang akan dipublikasikan terlebih dulu baru serial pertama, belum ada kabar serial kedua akan dipublikasikan. Terlebih lagi yang serial pertama juga belum diterbitkan, hanya saja penulisannya sudah selesai, “sebenarnya Darka siapa? Apa Darka seorang yang special bagi 211 DA? Terlebih lagi Darka sangat antusias sekali untuk mempertemukanku dengan penulis itu. Apa jangan-jangan Darka adalah si 211 DA? Kalau dipikir-pikir huruf depan dan terakhir Darka kalau di satukan memang jadi DA, tapi 211 nya dari mana? Ha… rasanya aku semakin ngacau, nggak mungkin kan kalau Darka itu 211 DA, nggak mungkin” Ema menggeleng-gelengkan kepalanya dan menepik-nepuk kedua sisi pipinya dengan kedua tangannya.
Ema mulai membaca serial pertama, tepat ketika hari semakin gelap, Ema menyelesaikan bacaan itu hingga akhir. Ema bingung kenapa diakhir halaman ada tulisan tangan, itu memang ditulis menggunakan tinta manual, terlebih lagi dibubuhi tanda tangan. “kok ada tulisan tangan? Juga tanda tangan? Ini kan tanda tangan 211 DA. Kenapa penulis begitu sempat menulis hal seperti ini di bukunya, terlebih lagi tulisannya nggak penting seperti ini” Di akhir halaman itu hanya tertulis satu kata yang menggunkan tinta manual “Batu” kemudian di bawah tulisan itu terdapat tanda tangan dengan initial DA. “apa mungkin ini kerjaan si Darka ya? Tapi apa maksud dari tulisan “Batu” Ah entah lah, aku harus segera pulang, besok pasti Darka kesini, aku harus menanyakannya” Lantas Ema segera pualng ke rumah.
****
            Sudah tiga hari sejak Ema memmbaca buku Sleepy Girl seri pertama dan menemukan tulisan “batu” Ema tidak mengerti kata itu. Terlebih lagi sejak Darka berjanji akan mempertemukannya dengan penulis, dia tidak pernah datang ke hutan lagi. “Semua orang hanya akan pergi meninggalkan seenaknya sendiri” gumam Ema, ia tampak sedih dan kecewa. Hari ini hari minggu, Ema datang pagi-pagi sekali ke hutan, berniat membaca buku Sleepy Girl seri kedua dan memperbaiki moodnya. Seperti biasa, Ema duduk dibalai dan siap membaca, belum selesai membaca Ema kepikiran sesuatu, lantas mencari halaman terakhir, dan benar, Ema menemukan sesuatu di sana. Terdapat tulisan tangan lengkap dengan tanda tangan dan initial, tertulis sebuah kata, hanya satu kata, yaitu “kayu”. “ini apa lagi? Apa hubungannya batu dan kayu? Di sini memang banyak batu, pasti yang dia maksud adalah salah satu batu yang berada di sini. Lalu apa arti dari kayu? Kalau yang dia maksud adalah pohon pasti dia akan menulis “pohon”. Atau mungkin……. Oh iya aku sekarang tahu, yang dia masud kayu itu adalah balai ini, balai ini terbuat dari kayu. Lalu pasti dia ingin menunjukan sesuatu dengan batu yang ada tepat di sebelah kayu atau balai, aku harus segera ke batu itu” bergegas Ema tak sabar menuju ke batu itu dan Ema memperhatikan keseluruhan dari batu itu, tepat dibagaian bawah batu ada sperti lubang. Kemudian Ema sedikit menggali lubang itu lalu.. dengan terkejut Ema menemukan sebuah kotak dari kayu. “Benar dugaanku” gumam Ema sembari tersenyum.
            Ema perlahan membuka kotak dan di dalamnya terdapat secarik kertas berwarna krem dengan tulisan tertera di sana. Lalu Ema membaca tulisan itu “Pusat kota  minggu 11.00 am - sesuatu yang berharga DA” ini pasti tulisan Darka, tapi kenapa tulisannya sama dengan yang ada di buku Sleepy Girl? Dengan initial juga sama, apa benar Darka itu adalah 211 DA, lalu 211 itu dari mana? Kenapa dia menuliskan sesuatu yang berharga DA, kenapa 211 itu diganti dengan sesuatu yang berharga? Hm….. “ Ema berpikir sejenak. “Aku menemukannya, aku tahu sekarang….. aku harus segera ke pust kota, sekarang adalah hari minggu, dan ini masih pagi aku masih sempat untuk menemuinya.
 Ema bergegas pulang kerumah dan bersiap-siap, lalu Ema menamui Ene nya.
“Ene aku harus pergi sekarang, ke pusat kota ada seseorang yang harus kutemui jam 11.00, aku harus pergi, nanti akan ku ceritakan kepada Ene setelah pulang”
“baiklah.. hati-hati Ema, kamu akan  pergi menggunakan apa?”
“Terimakasih Ene, aku menggunakan bus Ne”
“Kamu bilang kamu menemui jam 11.00 kan? Pergi menggunakan bus memakan waktu empat jam, kamu akan terkambat sampai di sana satu jam, lebih baik menggunakan kereta kamu akan hemat dua jam. Tiket ke pusat kota nanti jam 90.00, sekarang masih jam 08.00, sebaiknya kamu segerera bergegas ke stasiun untuk membeli tiket, kamu masih punya waktu”
“Baiklah Ne aku akan segera ke stasiun, terimakasih banyak Ne, Ema pamit Ne”
Setelah 2 jam perjalanan akhirnya Ema sampai di pusat kota tepat jam 11.00, Ema melihat di situ ada sepanduk besar dan tempat ini begitu ramai banyak orang, Ema terkejut melihat sepanduk itu, Ema mencoba membacanya ”Launching Buku Gadis Hutan Tropis Karya 211 DA”. Lalu Ema meluncur dan bertanya kepada salah satu security. “Anu… maaf pak mau tanya, ini ada acara apa ya?
“Ada acara peluncuran buku barunya karya 211 DA yang berjudul Gadis Hujan Tropis, dan kalau nona membeli bukunya sekarang nona akan mendapatkan tanda tangan langsung dari penulisnya, untuk pembelian hari ini bukunya discon 70% non”
“Eh.. begitu ya pak, lalu apa penulisnya ada di sini”
“Iya non… ini exclusive, pertama kalinya dia menampakan dirinya”
“Ini sungguhan pak? Lalu di mana aku bisa membeli bukunya dan mendapat tanda tangan sang penulis?”
“Beneran non, nona bisa membelinya di auditorium kota, nona tahu kan?”
“iya tahu pak”
“Nah nanti di depan auditorium ada stan-stan khusus pembelian buku, lalu setelah nona mendapatkan buku, untuk mendapatkan tanda tangan nona bisa langsung mengantre masuk ke auditorium dengan tanda pembelian buku, sebaiknya nona segera ke sana sebelum antrian panjang”
“Oh gitu ya pa, terimakasih banyak ya pak informasinya, aku akan segera kesana, sekali lagi terimakasih” Ema menganggukan badanya.
Setelah Ema mendengarkan penjelasan itu, ia lalu bergegas lari menuju ke stan pemebelian buku. Akhirnya Ema mendapatkan satu buku, harganya murah, harga sebenarnya 100 ribu rupiah, tapi karena discon 70% Ema hanya harus membayar 30 ribu rupiah. Kemudian Ema antre untuk masuk ke auditorium, ternyata antrian sudah sngat panjang, dan Ema berada di urutan terakhir. “Aku pikir yang tertarik pada 211 DA hanya aku saja, aku berada di urutan terakhir dan antrian ini snagatlah panjang” gumam Ema.
Akhirnya setelah berjam-jam mengatri sekarang giliran Ema, Ema berjalan dan tepat di hadapannya adalah sang penulis, karena urutan terakhir, sekarang tidak ada siapa pun selin Ema dan penulis, penulis itu sedang duduk di kursi yang ada mejanya. Ema terkejut, sebenarnya Ema sudah menduga sebelumnya tapi Ema tetap terkejut.
“Hey Ema……” Sang penulis menyapa Ema tampak senyuman mengembang di bibirnya.
“Dugaanku benar…. Ternyata kau…” Ema menitihkan air mata dan menyeka dengan tanganya.
“Iya kau benar, aku Darka sekaligus 211 DA” Darka berdiri dari tempat duduknya mengahmpiri Ema dan menyeka air matanya dengan tangan Darka. “Sudahlah jangan menangis, maafkan aku karena tak mengatakan sebelumnya, dan aku yakin kamu berhasil menemukannya melaui tulisan-tulisan tangan yang aku berikan”.
“Aku khawatir karena akhir-akhir ini kamu tak datang ke hutan, aku pikir kamu pergi begitu saja meninggalkanku, setelah kamu mengatakan hal berharga itu, tentu saja aku tahu kamu tidak bercanda ketika kamu mengatakan aku adalah gadis berharga bagi mu” Tangisan Ema semakin kencang.
Cetaak… Darka menjitak jidat Ema dengan jarinya, “Ternyata kamu cukup percaya diri juga ya? Memang benar waktu itu aku tak bercanda. Dan mengenai perihal aku tak datang ke hutan karena aku sedang menyiapan semua hal untuk hari ini, aku harus menyelesaikan tulisan Gadis Hutan Tropis agar acara ini terlaksana. Maaf aku tak mengatakan sebelumnya padamu siapa aku sebeneranya, ketika aku datang ke hutan aku sebenarnya sedang mencari inspirasi dan melakukan research dan di sana aku bertemu dengan mu. Ketika aku ngobrol dengan mu aku mulai tertarik, dan aku menjadikan mu tokoh dalam tulisan ku yaitu Gadis Hutan Tropis, kau lah gadis itu”
“Apa? Ja jadi…. Ini buku tentang aku? Selama ini kamu melakukan research di hutan? Aku nggak nyangka kalau aku salah satu inspirasi bagi penulis ternama  211 DA”
“Iya.. karena kamu begitu berharga, ceria dan optimis, sebenarnya hari sebelum aku bertemu kamu aku juga sering ke hutan di pagi hari, aku tidak bertemu dengan siapa-siapa. Namun ketika aku datang sore hari aku bertemu dengan gadis tropis, yaitu kamu. Sebelumnya aku minta maaf menjadikanmu sebagai objeku tanpa minta persetujuan dari mu”
“E… nggak papa kok aku suka, aku malah jadi terharu dan malu sendiri, dan sangat berterimakasih, karena menjadikan hutan yang aku cintai sebagi latar dari tulisanmu”
“Hehe.. syukurlah kalau kamu suka, eh ngomong-ngomong sejak kapan kamu menyadari kalau aku ini 211 DA?”
“Sebenarnya dari awal aku sempat curiga karena pemikiranmu mirip dengan karakter 211 DA, tapi aku mengubur kecurigaan itu, karena setiap aku tanya kamu malah membalasnya dengan candaan. Terakhir… ketika aku menemukan kotak yang berisi tulisan, aku semakin yakin bahwa kau adalah 211 DA. Memang jika dilihat sekilas namamu jauh berbeda dari 211 DA, awalnya aku kepikiran bahwa DA dan Darka adalah initial yang sama, huruf depan dan belakang mu yaitu DA. Kemudian aku bingung perihal 211 DA, namun kau meberi petunjuk melalui tulisan “Pusat kota minggu 11.00 am – Sesuatu yang berharga DA”, aku ingat kau pernah mengatakan bahwa seseatu yang berharga harus diabadikan dan diberi penghargaan.” Ema menghela nafas sebentar, lalau melanjutkan “Tulisan “sesuatu yang berharga” itu adalah pengganti dari 211, aku ingat kau pernah mengatakan bahwa kau mempunyai tiga hal berharga. Yaitu… dua orang tua, satu adik perempuan dan yang terakhir satu orang gadis yang akan kau temukan, jadi kalau ditulis dengan angka maka akan tertulis 211 dan “sesuatu yang berharga” dalam secarik kertas itu setara dengan 211. Sebenarnya kau ingin menunjukan padaku bahwa kau adalah 211 DA, dan aku berhasil menemukannya bukan? Kau mengabadikan sesuatu yang berharga itu melalui nama pena mu bukan?”
Prok-prok Darka menepukan kedua tanganya “Kamu hebat Ema, kalau kamu tak dapat menyadarinya mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi, dan kamu benar 211 itu adalah kata lain dari sesuatu yang berharga. Sekarang aku telah menemukan 1 terakhir yang berharga, yaitu kau Ema.”
“Terimakasih…. Karena telah menjadikanku salah satu yang berharga bagimu, dan kau…. Kau juga sesorang yang berharga bagiku, aku tak peduli kau ini Darka atau 211 DA, aku menyukaimu, jangan pernah pergi lagi” lagi-lagi Ema menitihkan air matanya..
Darka menyeka air mata Ema dengan tangannya dan kemudian menarik badan Ema dan memeluknya erat, Ema pun membalas pelukan Darka. Kemudian Darka membisikan ditelinga Ema  “Aku tak akan pergi lagi, aku terlebih menyukai mu Ema, Kau Gadis Hutan Tropisku”
****

SELESAI