Gadis Hutan
Tropis
Di sebuah kota kecil di pinggiran hutan
tropis, tinggal seorang gadis bernama
Ema Sitohang, Ema sekarang berusia 15 tahun, Dia tinggal di rumah sederhana
hanya dengan neneknya, yang tak pantas disebut sebagai seorang nenek,
karena perawakannya yang terlihat masih kuat dan muda dan keriput di wajahnya
tak begitu tampak. Tentu saja, neneknya ini rajin sekali berolahraga, dan
terlebih lagi bekerja sebagai petugas keamaan di kantor kecamatan selain itu
nenek juga merangkap sebagai pelatih bela diri di sebuah sekolahan swasta. Ema
selalu memanggil neneknya dengan sebutan Ene, alasanya sederhana karena
neneknya terlalu muda jika dipanggil dengan sebutan nenek.
“Biar nenek selalu muda, Ema akan
panggil nenek dengan sebutan Ene ya? Dengan begitu Ene tidak akan pernah pergi
meninggalkan Ema” Begitu lah kata Ema, menurut Ema
sesuatu yang tua dan rapuh lama-kelamaan hanya akan pergi meninggalkan, dan
menurutnya manusia sangat kejam ketika seenaknya sendiri pergi meninggalkan.
Ema sangat takut untuk kehilangan seseorang yang sangat ia cintai dan kasihi,
sudah cukup kesedihan yang begitu perih ditinggal kedua orang tuanya yang
sangat menyayanginya. Ema adalah gadis yang sangat ceria, pandai membuat siapa
saja yang berada di dekatnya merasa nyaman, Ema juga cantik dan menggemaskan,
dengan tubuhnya yang mungil, rambut sepunggungya yang tampak ikal di bagain
ujung dengan poni yang berjejer rapi di jidatnya ditambah lagi dengan warna
rambutnya yang merah muda. Bola matanya bulat besar dengan lensa berwarna
coklat berkilauan, rasanya kalau melihat Ema seperti penampakan dari boneka.
Ema sangat menyukai membaca dan buku terlebih lagi dengan buku fiksi,
koleksinya lumayan banyak yang tersimpan rapi di perpustakaan kecil miliknya
yang terletak di bagian rumah paling belakang, sebagaian besar dari koleksinya
adalah karya dari penulis ternama 211 DA. Setelah pulang sekolah kegiatan Ema
adalah membantu Ene nya di dapur dan membaca buku.
“Ene…… ni Ema sudah selesai nyuci
piringya, sekarang Ema boleh membaca kan Ne?"
“Boleh Ema sayang, tapi hati-hati
ya jangan keblabasan”
“Siaap nona Ene !!“
Ema mengangkat tangan kananya, dan berdiri tegak, seperti prajurit yang sedang
memberikan hormat kepada panglimanya, Ema memang selalu jahil.
Ema
bergegas berjalan menuju pintu di salah satu sudut dapur, Ema akhirnya memegang
knop pintu dari kayu itu, namun Ema tiba-tiba teringat sesutau.
“Eh ya Ne… apa diluar hujan?”
Ema bertanya kepada Enenya setengah berteriak karena jaraknya lumayan jauh
Enenya sedang duduk memperbaiki bajunya yang robek di dekat jendela berkaca.
“Iyaa Ma… di luar hujan, apa tidak
apa-apa kamu keluar?”
“Oh.. hujan ya, ya udah ne. Iya, ema
nggak apa Ne tenang aja, ini baru hujan di awal musim jadi tak akan lebat”
Ema
melanjutkan niatnya dan membuka knop pintu, kreek…. Lihatlah dibalik pintu itu
terdapat rak buku kayu dari ukuran kecil hingga besar, dengan lantai ruangan kayu,
terdapat tangga nonpermanen dari kayu yang tampaknya di gunakan untuk mengambil
buku yang berada di tempat tinggi. Ema berjalan menuju salah satu rak buku yang
tak begitu tinggi dan mengambil satu buku yang terpajang di dalamanya.
Merupakan sebuah buku fiksi dengan judul Senyuman Berharga Gadis Hitam karya
211 DA. Kemudian Ema menggeser rak bukunya, dan tak di sangka ini seperti pintu
ajaib, ternyata itu tidak hanya sekedar rak buku melainkan pintu penghubung ke
dunia luar.
Di
balik pintu itu terdapat jalan setapak, Ema dengan payung dan bukunya mulai
menyusuri jalan setapak, dan ternyata di ujung jalan itu terdapat banyak pohon,
binatang, seperti kupu-kupu, capung , burung dan terdapat sungai yang begitu
jernih dan ada beberapa batu besar, dan tepat di pinggir sungai terdapat sebuah
balai dari kayu dengan lantai panggung dan tak begitu luas. Ini memang hutan,
lebih tepatnya disebut hutan tropis, karena terdapat pohon-pohon besar
berkanopi, dan udara di bawah kanopi hampir selalu lembab. Hampir setiap hari
di hutan ini terjadi hujan karena pohon-pohon mengeluarkan air melalui
pori-pori daun. Proses penguapan ini di sebut transpirasi, penguapan ini
menyebabkan setengah dari curah hujan di hutan turun. Ini seperti Alice in
Wonder Land versi Ema, terdapat begitu beragam tumbuhan dan binatang di sini.
Beberapa pohon menumbuhkan daun yang lebar pada
tingkat yang lebih rendah dan menumbuhkan daun kecil di kanopi atas. Tanaman
lain tumbuh di atas kanopi untuk mendapatkan sinar matahari. Tanaman tersebut
adalah epifit seperti anggrek dan bromeliad.
Hampir semua spesies yang jarang di temukan di tempat lain dapat tumbuh dengan
baik di hutan ini. Tanaman merambat tumbuh dari satu pohon ke pohon lain dan
membentuk 40% dari daun kanopi den membuat hutan ini tampak begitu indah. Rotan
anggur memiliki duri di bagian bawah daunnya yang menunjuk ke belakang sebagai
pegangan anakan pohon. Ema menyebut tempat ini sebagai surga yang tersembunyi,
setelah berjalan akhirnya Ema berhenti di sebuah balai di pinggir sungai.
Ema sedikit bingung, kenapa ada seorang
laki-laki di sini, bukanya ini tempat tersembunyi, yang siapa pun tak
mengetahui tempat ini, kecuali keluarga Ema.
“Eh…
ma maaf, anu.. apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Akhirnya Ema duduk lesehan dan terbata
bertanya kepada anak laki-laki itu sambil mengayunkan buku yang ia pegang.
“Menulis” Jawab lelaki itu sekenaknya. Lelaki itu tampak
dingin dan begitu serius dengan buku catatan dan penanya. Nampaknya orang
asing, bukan dari daerah sini terliihat warna rambutnya berwarna pirang,
hidungnya mancung, lensa matanya berwarna biru dan bibirnya terlihat begitu
merah, warna kulitnya begitu putih dengan bintik-bintik merah, perawakanya juga
tinggi dan tampak sebaya dengan Ema.
Ema terdiam beberapa saat mendengar jawaban dari
laki-laki itu, namun rasa penasaran begitu mengusik pikiranya.
“eh
maaf jika menganggu, karena kita berada di tempat ini, boleh kah kita mengobrol
tuan?”
“Darka
Brown’
“eh
maksudnya?” Ema
kebingungan
“Bukankah
tadi kamu mengajaku mengobrol, namaku Darka Brown. Kamu sendiri ngapain di
sini?, gadis seperti mu berada di tempat seperti ini”
“Oh
iya namaku Ema Sitohang, aku sedang membaca di sini, memang hampir setiap hari
aku sempatkan datang ke sini untuk sekedar membaca. Kamu sendiri dari mana
datangnya? Aku belum pernah melihat kamu di tempat ini sebelumnya?”
“Begitu, kamu bookworm ya? Buku apa
yang sedang kamu baca? Aku memang baru pertama kali datang kesini, aku hanya
sedang menyusuri sungai dan sampailah di tempat ini”
“Eh bisa dibilang begitu deh, aku
baca buku Senyuman Berharga Gadis Hitam karya penulis ternama 211 DA, menurutku
itu nama pena yang aneh, tapi aku sangat menyukai karya-karyanya, kalau kamu
suka menulis dan membaca pasti kamu tak asing dengan nama yang aneh itu.
Ngomong-ngomong tampaknya kamu bukan dari daerah sini, jangan-jangan kamu jauh
kesini hanya sekedar menulis, kamu penulis ya seperti 211 DA?”
“Oh si gadis murung yang akhirnya menemukan
jati dirinya itu? Itu kan buku lama, apa kamu nggak ada buku baru dari karyanya
211 DA. Tentu saja aku suka tempat ini karena tenang nan sejuk, ketika aku
menulis bukan berarti aku seorang penulis dan ketika kamu memasak di dapur juga
bukan berarti kamu seorang chef, hanya karena aku jauh-jauh kesini menulis,
lantas kamu menyempulkan bahwa aku seorang penulis?”
“Iya ini memang buku lama, dan
koleksi buku pertama ku dari 12 buku karya 211 DA, aku hanya tak mampu untuk
membeli buku baru, jadi aku hanya mengulangi membaca buku lama. Eh tapi
ngmong-ngomong kok kamu bisa tau isi ceritanya, dan lagi kan 211 DA hanya
mennulis buku serial gadis atau kamu memang ngefans sama 211 DA, atau kamu
punya seorang adik atau kakak perempuan?”
“Lantas siapa yang membelikan buku-bukumu
yang banyak itu? Karya terbaru yang berjudul Sleepy Girl kamu tau? Belum
punya?. Iya aku memang punya adik permpuan, aku tau ceritanya bukan berarti aku
suka buku karya 211 DA kan? Aku kan sudah menjelaskan sebelumnya, kamu selalu
mengambil kesimpulan sendiri”
“Eeh.. bukan masudku menyinggung,
aku hanya menebak, maaf tapi kalau kamu nggak suka sama 211 DA, mungkin dia
kerabat kamu? Atau jangan-jangan kamu si 211 DA itu ya? Abisnya kamu mirip
banget dengan karakter penulis itu, kamu selalu mengatakan “jika aku menulis
bukan berarti aku seorang penulis” dan perumpaan lainnya, itu seperti pemikiran
211 DA. Koleksi bukuku memang banyak, dulu ayahku sewaktu masih hidup sering
membelikanku buku, dan beliau lah yang memperkenalkanku dengan buku karya 211
DA, beliau padahal janji akan bersama-sama bertemu dengan penulis itu, namun
belum sempat kami bertemu, ayah telah tiada karena tragedi kecelakaan. Sejak
saat itu aku berusaha keras untuk bertemu dengan sang penulis, untuk mewujudkan
janjiku bersama ayah, dan buku Sleepy Girl aku tahu, itu adalah buku baru namun
belum diterbikan masih nunggu bulan depan, tapi kayaknya aku nggak bakalan bisa
baca, ya… aku tak punya uang untuk membelinya”.
“kamu jangan ngarang, kalau aku
benar 211 DA, masa iya aku menulis serial anak gadis, sedangkan aku ini
laki-laki kan? Hm… maaf telah menanyakan suatu hal yang menyakitkan bagi kamu,.
Ya sudah lah hari sudah mulai gelap, baiknya aku bergegas pulang, kamu juga pulang
sana, tidak baik anak gadis seperti mu sendiri di hutan yang hujan ini”
Darka berkata sambil mengemasi barang-barangnya hendak menuju sampan yang
terletak di pinggir sungai.
“Oh baiklah kalau begitu aku juga pulang,
maksaih telah ngobrol banyak hari ini”
“Eh tunggu Ema”
Darka yang telah sampai di sampan beteriak pada Ema yang masih duduk di balai.
“iyaa ada apa Darka?”
“Besok temui aku lagi di sini
diwaktu yang sama dan jika hari hujan. Aku akan membawakan buku Sleepy Girl,
dan aku janji akan mempertemukanmu dengan penulsnya”
Darka berteriak sekencang-kencangnya hingga otot-otot di lehernya terlihat
begitu jelas.
Ema
yang masih duduk dan antusias mendengarkan penjelasan Darka, begitu kaget, yang
Ema pikirkan buku Sleepy Girl meski telah selesai ditulis namun belum
diterbitkan. “Kenapa? Kenapa dia akan membawakanku buku itu? Bukankah buku itu
belum dipublikasikan, sebenrnya dia siapa? barangkali dia hanya bercanda saja,
lihat saja besok” Gumam Ema.
“Eh iyaa besok akan kutemui kamu
lagi di tempat ini, jika hari hujan” Ema membalas terikan
Darka.
****
Setelah
pertemuan aneh itu Ema semakin bingung, berpikiran sebenarnya dari mana
munculnya Darka? Kenapa dia punya buku Sleepy Girl dan ingin memberikan kepada
Ema. Ema yang tadinya ingin tidur akhirnya, terpancing dengan pikirannya,
hingga larut malam Ema pun masih terjaga. Sebenarnya siapa Darka? Apakah ini
jalan Ema agar bisa bertemu dengan penulis 211 DA.
“Ah kenapa aku terus-terusan
kepiran Darka si, aargh… besok aku harus menemuinya dan menanyakan semua yang
menganggu pikiranku”. Gumam Ema.
Setelah sepulang sekolah Ema
bergegas membantu pekerjaan rumah, agar bisa selesai lebih awal. Rasanya Ema
malah bekerja begitu cepat, lihat saja hari belum begitu sore namun Ema telah
menyelesaikan tugasnya. Ema mondar-mandir dan bolak-balik dari dapur hingga
ruang tamu, ke dapur lagi, begitu seterusnya, sambil sesekali melirik ke arah
jendela berkaca guna menelisik cuaca di luar. Akhirnya sore telah tiba dan
hujan turun membasuh rumah dan sekitar tempat tinggal Ema, lantas membuat Ema
tersenyum kegirangan.
“Siip, ini sudah cukup aku harus
segera ke hutan, eh tapi nenek belum pulang, setidaknya aku harus meninggalkan
memo agar nenek tidak khawatir”
Ema
langsung terburu ke ruang tengah, bergegas meraih secarik kertas dan pena yang
berada di atas meja kecil di sudut ruangan itu.
“Enee… Ema pergi ke hutan seperti
biasanya, Ene jangan khawatir dan tak perlu mencari, hormat Ema kepada Ene.
Hahaha” Ema Sitohang.
Setelah
tulis-menulis itu selesai, segera Ema meluncur ke pintu rahasia yang
menghubungkan dengan hutan. Belum sampai di balai, Ema tiba-tiba berhenti
sejenak. “ah.. ternyata Darka tidak
berbohong” gumam Ema dan senyuman manis mengembang dibibir merah Ema
melihat Darka yang sudah berada di balai.
“Tentu saja aku tak berbohong, aku
dapat mendengarmu meski kamu hanya bergumam.. hahaha”
Darka berteriak menimpali gumamaan Ema, meski jarak mereka masih jauh.
Ema
terjingkat kaget dan berlari menghampiri Darka, “heee? Beneran kok kamu bisa mendengarku si?” Ema terheran dan menunjuk
mukanya dengan jari telunjuk kanannya. “jangan-jangan
kamu paranormal ya? Atau kamu punya semacam telepati?” Ema kelewat heboh
menghadapi candaan Darka”
Darka
mendorong jidat Ema dengan tanganya seraya berkata “hahaha… hey kamu selalu mengambil kesimpulan sendiri, tentu saja aku
tak sekeren itu, aku hanya mendengarkan perkataanmu yang terlalu keras untuk
sebuah gumaman, mungkin karena pendengaranku yang kelewat bagus”
“yaah… kamu mempermainkanku ya?
Yang terpenting sini mana janjimu yang kemarin?” Ema
cemberut dan terlihat kesal menghadapi tingkah Darka.
“Aku sudah bilang, aku tidak akan
berbohong” Darka mengambil kotak kardus berwarna coklat muda
yang dibalut dengan pita berwarna coklat tua diatas pita terdapat daun mint kering yang tepat berada di samping Darka lalu
dengan hati-hati memberikannya kepada Ema.
“ini untuk kamu, semoga kamu
senang menerimanya” Darka mengulurkan kedua tangannya yang tengah memegang
kotak itu.
“Eh makasih banyak, maaf aku
terkesan seperti perampok, aku pikir kamu hanya bercanda saja soalnya buku ini
kan belum terbit, jadi aku menantangmu, jujur…. Aku sangat senang menerima ini darimu,
sekali lagi terimakasih” Ema tersenyum bahagia, terlihat
dari lensa matanya yang memebesar.
“Haha akhirnya kau percaya kan?
Tapi jangan gampang percaya gitu dong, kamu kan belum tahu isinya”
“Sekarang aku percaya padamu dan
yakin kalau di dalamnya ada buku Sleepy Girl karya 211 DA, aku akan membukanya
nanti di rumah, dan lagi darimana kamu mendapatkan buku ini?”
“Baguslah kalau kamu yakin, aku
hanya menemukannya di rumah, dan membawakannya untukmu”
“eh.. tapi.. ngg……”
“Bolehkah aku bertanya sesuatu
padamu?” Darka langsung memotong pembicaraan Ema.
“Boleh… silahkan saja”
“Menurutmu apa yang paling berharga
dalam kehidupanmu?”
Tiba-tiba
muka Ema serius dan langsung menghela nafas “Ehm…
baiklah, ada tiga hal yang paling berharga dalam hidupku, Keluargaku, hutan ini
dan…. Penulis 211 DA…..”
Mendengar
pernyataaan Ema, tiba-tiba muka Darka memerah namun berusaha menutupinya dari
Ema dan Ema tampaknya tak menyadarinya.
“Eh ada apa Darka, boleh aku
lanjutkan?
“Iya boleh, silahkan nona…..”
“baiklah tuan… tentu hampir setiap orang pasti bakal
mengatakan keluarga adalah hal yang berharga, mereka benar-benar surga bagiku,
meski pun kedua orang tuaku telah meninggal, mereka akan selalu berada di sini,
di jantungku, ketika terpuruk mereka ada meski pun secara visual mereka taka
ada. Aku juga punya Ene eh maksudku nenek, dia selalu menjaga ku tempatku
berlabuh, setelah aku pikir aku tak punya siapa-siapa nenek selalu ada untuku,
dan aku akan menjaga nenek, aku tak ingin kehilangannya seperti aku telah
kehilangan kedua orang tuaku. Kemudian tempat ini…. Tempat di mana seluruh
anggota keluargaku ayah, bunda, nenek dan aku berkumpul menghabiskan sore
bersama sembari menikmati hadiah terindah dari Tuhan. Tempat yang mengajarkanku
untuk selalu bersyukur, di kala hiruk pikuk kota yang semakin merajai aku masih
bisa menikmati keindahan alam ini, dan merupakan saksi bisu di mana aku tumbuh
dan bahagia bersama keluarga ku. Aku berjanji sampai akhir akan menjaga dan
melindungi hutan ini. Kamu tahu balai ini? ini adalah ayahku yang membuatkanya
untuk kami sekeluarga, sebagai tanda terimakasih , kami selalu merawat hutan
ini.
Dan yang terakhir…… penulis 211 DA,
meski pun aku belum pernah melihatnya, aku yakin dia seorang yang optimis. Aku
selalu senang ketika ayahku pulang kerja dan membawakanku buku karya 211 DA,
selain aku, ayahku juga menyukainya. Kami sering membaca bersama di balai ini,
terkadang ketika aku lelah membaca, ayah akan dengan senang hati membacakannya
untuk ku. Terlebih lagi ketika aku terpuruk saat kehilangan kedua orang tuaku,
dengan membaca buku 211 DA aku merasa lebih tenang dan termotivasi dan akhirnya
aku bisa bangkit, menyisihkan kesedihanku. Seperti kutipan dalam salah satu
bukunya “Kamu boleh menangis, menangis bukan simbol kelemahan, melainkan bentuk
perasaan, namun ketika kau selesai menangis kau harus lebih baik dan bangkit”,
jika kamu ingin tahu, itulah hal yang berharga dalam hidupku, eh.. maaf aku
jadi berbicara banyak ya?” Ema mengahiri pembicaraan dengan
senyuman lega, Ema selalu bahagia ketika bercerita mengenai ketiga hal itu.
“Wah.. aku tak menyangka kamu akan
mengatakan semua hal berharga itu padaku, sepertinya kamu telah benar-benar percaya
padaku. Aku juga tak menyangka 211 DA termasuk dalam daftar berharga mu, hebat
kamu” Darka tersenyum sumringah dan mengacungkan jempol
kehidung Ema, Darka memang selalu bercanda.
“Tentu… kan aku sudah bilang, aku
telah percaya padamu, bagiku kamu sperti bentuk lain dari 211 DA, eh nggak ….
Aku bercanda. Ngomong-ngomong nggak adil kan kalau cuma kau yang ditanyai,
jelaskan padaku hal yang berharga dalam hidupmu”
“Ah… dasar kamu, nggak gampang
dicurangi ya, nggak mau kalah, baiklah aku hanya perlu mebuat poin kita sama
kan? Dengarkan baik-baik aku tidak segampang itu mengulangi perkataanku”
Darka memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman, lalu melanjutkan
perkataannya. “tiga hal, pertama kedua orang
tuaku, kedua adik perempuanku yang hanya satu-satunya saudaraku,
ketiga….seseorang berharga setelah mereka yang akan aku temui, dan sekarang aku
telah menemukannya, yaitu kau satu-satunya gadis setelah mereka yang paling
ceria dan optimis. Bagiku sesuatu yang berharga harus diabadikan, dikenang dan
diberi penghargaan” Darka memalingkan wajahnya kearah samping sembari
menunduk, tampak malu-malu. Sedangkan Ema membelalakan matanya dan kaget tak
terkira.
“Hahaha… nggak usah dipikirkan nona
Ema, mungkin aku hanya bercanda, dan jangan buru-buru mengambil kesimpulan,
atas perkataanku yang ini” Darka tertawa lepas mencoba
memecahkan kekauan, “kalau Ema paham
denganku pasti dia tau maksud dari perkataanku ini” gumam Darka.
“Hahaha.. tentu saja kau hanya
bercanda, aku percaya padamu” Ema membalsanya dengan
senyuman, “Sebenarnya aku tahu kalau
Darka nggak bercanda, kalau dia paham, pasti tau maksud dari perkataanku”
gumama Ema.
“oke deh kalau kamu percaya, ya
sudah hari semakin gelap, kita seharusnya segera pulang” Darka
tersenyum tipis, lantas berdiri turun dari balai.
“Ya sudah yuk, kau tak mau mampir ke rumahku?”
Ema juga bergegas turun dari balai.
“Oh… tidak, terimakasih, aku harus
segera pulang” Darka tersenyum.
“Baiklah kalau begitu, aku pulang
ya…… makasih banyak untuk buku dan obrolanyaaaa”
Ema membalas senyum Darka, lantas bergegas berjalan menuju jalan setapak.
“Eh… tunggu Ema !!”
Suara Darka mengeras dan segera berlari menghampiri Ema, dan merahi tangan Ema.
Ema
kaget dengan sikap Darka.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang ketinggalan”
Ema menatap tangannya yang masih dipegang oleh Darka.
“Eh tidak, aku hanya ingin
mengatakan sesuatu” Darka menatap Ema kuat, kemudian tiba-tiba
Darka meraih punggung Ema dari depan dan memeluk Ema.
Ema
sangat kebingungan dengan sikap Darka, namun Ema tak melepaskan pelukan itu.
Ini memang agak canggung bagi Ema, tapi Ema merasa nyaman ketika berada
dipelukannya. Ema lantas membalas pelukan Darka, mengangkat kedua tangannya dan
merah punggung Darka.
“Emm…. Anu… apa yang ingin kau katakana
Darka?”
“Aku… aku, maksudku aku berjanji
akan segera mempertemukan kamu dengan penulis itu”
Darka berbisik di telinga Ema membuat Ema terjingkat dan melepaskan pelukan
itu.
“Serius? Aku kira kamu mau
mengatakan apa. Tapi kamu tak perlu memaksakan diri seperti itu.”
“Serius…. Aku tak pernah memaksakan
diri. Ini pertemuan kita yang kedua, tapi rasanya kita sperti telah lama kenal.
Aku yakin denganmu, dan aku janji akan mempertemukanmu dengan salah satu hal
yang berharga itu”
“Aku tak menyangka kamu akan
mengatakajan hal seperti ini, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku piker
kamu adalaha orang yang dingin, tapi setelah ngobrol banyak dengan mu rasanya
mengasyikan”
“Haha benar begitu? Nanti kamu
jatuh cinta loh dengan ku… Eh… ya sudah lah, sudah gelap ni, ayo pulang.
Hati-hati ya……”
“haha… apa-apaan si kamu, ya sudah
kamu juga hati-hati. Eh besok kita bertemu lagi kan?
“Mungkin……”
Darka membalikan badannya, berjalan…. Menghilang dari pandangan Ema.
“Bener-bener orang yang susah
ditebak” gumam Ema, lantas Ema meninggalkan tempat itu.
****
Sehari setelah kejadian itu, Ema
seperti biasa di sore hari menuju ke hutan tropis, sore ini Ema membawa kotak
yang diberikan oleh Darka. Ema duduk di balai hendak membaca, tapi Ema bingung,
kenapa hari ini ia tak datang. “Apa dia
sibuk? Mungkin besok dia akan datanga”gumam Ema. Lalu Ema membuka kotak perlahan,
dan Ema terkejut, isi kotak itu memenag benar buku Sleepy Girl. Ema tampak bingung, kenapa ada dua seri, buku ini
memang memiliki dua seri tapi yang akan dipublikasikan terlebih dulu baru
serial pertama, belum ada kabar serial kedua akan dipublikasikan. Terlebih lagi
yang serial pertama juga belum diterbitkan, hanya saja penulisannya sudah selesai,
“sebenarnya Darka siapa? Apa Darka
seorang yang special bagi 211 DA? Terlebih lagi Darka sangat antusias sekali
untuk mempertemukanku dengan penulis itu. Apa jangan-jangan Darka adalah si 211
DA? Kalau dipikir-pikir huruf depan dan terakhir Darka kalau di satukan memang
jadi DA, tapi 211 nya dari mana? Ha… rasanya aku semakin ngacau, nggak mungkin
kan kalau Darka itu 211 DA, nggak mungkin” Ema menggeleng-gelengkan
kepalanya dan menepik-nepuk kedua sisi pipinya dengan kedua tangannya.
Ema
mulai membaca serial pertama, tepat ketika hari semakin gelap, Ema
menyelesaikan bacaan itu hingga akhir. Ema bingung kenapa diakhir halaman ada
tulisan tangan, itu memang ditulis menggunakan tinta manual, terlebih lagi dibubuhi
tanda tangan. “kok ada tulisan tangan? Juga
tanda tangan? Ini kan tanda tangan 211 DA. Kenapa penulis begitu sempat menulis
hal seperti ini di bukunya, terlebih lagi tulisannya nggak penting seperti ini”
Di akhir halaman itu hanya tertulis satu kata yang menggunkan tinta manual “Batu” kemudian di bawah tulisan itu
terdapat tanda tangan dengan initial DA. “apa
mungkin ini kerjaan si Darka ya? Tapi apa maksud dari tulisan “Batu” Ah entah
lah, aku harus segera pulang, besok pasti Darka kesini, aku harus menanyakannya”
Lantas Ema segera pualng ke rumah.
****
Sudah tiga hari sejak Ema memmbaca
buku Sleepy Girl seri pertama dan
menemukan tulisan “batu” Ema tidak
mengerti kata itu. Terlebih lagi sejak Darka berjanji akan mempertemukannya
dengan penulis, dia tidak pernah datang ke hutan lagi. “Semua orang hanya akan pergi meninggalkan seenaknya sendiri” gumam
Ema, ia tampak sedih dan kecewa. Hari ini hari minggu, Ema datang pagi-pagi
sekali ke hutan, berniat membaca buku Sleepy
Girl seri kedua dan memperbaiki moodnya. Seperti biasa, Ema duduk dibalai
dan siap membaca, belum selesai membaca Ema kepikiran sesuatu, lantas mencari
halaman terakhir, dan benar, Ema menemukan sesuatu di sana. Terdapat tulisan
tangan lengkap dengan tanda tangan dan initial, tertulis sebuah kata, hanya
satu kata, yaitu “kayu”. “ini apa lagi? Apa
hubungannya batu dan kayu? Di sini memang banyak batu, pasti yang dia maksud
adalah salah satu batu yang berada di sini. Lalu apa arti dari kayu? Kalau yang
dia maksud adalah pohon pasti dia akan menulis “pohon”. Atau mungkin……. Oh iya
aku sekarang tahu, yang dia masud kayu itu adalah balai ini, balai ini terbuat
dari kayu. Lalu pasti dia ingin menunjukan sesuatu dengan batu yang ada tepat
di sebelah kayu atau balai, aku harus segera ke batu itu” bergegas Ema tak
sabar menuju ke batu itu dan Ema memperhatikan keseluruhan dari batu itu, tepat
dibagaian bawah batu ada sperti lubang. Kemudian Ema sedikit menggali lubang
itu lalu.. dengan terkejut Ema menemukan sebuah kotak dari kayu. “Benar dugaanku” gumam Ema sembari
tersenyum.
Ema perlahan membuka kotak dan di
dalamnya terdapat secarik kertas berwarna krem dengan tulisan tertera di sana.
Lalu Ema membaca tulisan itu “Pusat kota minggu 11.00 am - sesuatu yang berharga DA” ini
pasti tulisan Darka, tapi kenapa tulisannya sama dengan yang ada di buku Sleepy Girl? Dengan initial juga sama, apa
benar Darka itu adalah 211 DA, lalu 211 itu dari mana? Kenapa dia menuliskan
sesuatu yang berharga DA, kenapa 211 itu diganti dengan sesuatu yang berharga? Hm…..
“ Ema berpikir sejenak. “Aku
menemukannya, aku tahu sekarang….. aku harus segera ke pust kota, sekarang
adalah hari minggu, dan ini masih pagi aku masih sempat untuk menemuinya.
Ema bergegas pulang
kerumah dan bersiap-siap, lalu Ema menamui Ene nya.
“Ene aku harus pergi sekarang, ke
pusat kota ada seseorang yang harus kutemui jam 11.00, aku harus pergi, nanti akan
ku ceritakan kepada Ene setelah pulang”
“baiklah.. hati-hati Ema, kamu
akan pergi menggunakan apa?”
“Terimakasih Ene, aku menggunakan
bus Ne”
“Kamu bilang kamu menemui jam 11.00
kan? Pergi menggunakan bus memakan waktu empat jam, kamu akan terkambat sampai
di sana satu jam, lebih baik menggunakan kereta kamu akan hemat dua jam. Tiket
ke pusat kota nanti jam 90.00, sekarang masih jam 08.00, sebaiknya kamu
segerera bergegas ke stasiun untuk membeli tiket, kamu masih punya waktu”
“Baiklah Ne aku akan segera ke
stasiun, terimakasih banyak Ne, Ema pamit Ne”
Setelah
2 jam perjalanan akhirnya Ema sampai di pusat kota tepat jam 11.00, Ema melihat
di situ ada sepanduk besar dan tempat ini begitu ramai banyak orang, Ema
terkejut melihat sepanduk itu, Ema mencoba membacanya ”Launching Buku Gadis Hutan Tropis Karya 211 DA”. Lalu Ema meluncur
dan bertanya kepada salah satu security. “Anu…
maaf pak mau tanya, ini ada acara apa ya?
“Ada acara peluncuran buku barunya
karya 211 DA yang berjudul Gadis Hujan Tropis, dan kalau nona membeli bukunya
sekarang nona akan mendapatkan tanda tangan langsung dari penulisnya, untuk
pembelian hari ini bukunya discon 70% non”
“Eh.. begitu ya pak, lalu apa
penulisnya ada di sini”
“Iya non… ini exclusive, pertama
kalinya dia menampakan dirinya”
“Ini sungguhan pak? Lalu di mana
aku bisa membeli bukunya dan mendapat tanda tangan sang penulis?”
“Beneran non, nona bisa membelinya
di auditorium kota, nona tahu kan?”
“iya tahu pak”
“Nah nanti di depan auditorium ada
stan-stan khusus pembelian buku, lalu setelah nona mendapatkan buku, untuk
mendapatkan tanda tangan nona bisa langsung mengantre masuk ke auditorium dengan
tanda pembelian buku, sebaiknya nona segera ke sana sebelum antrian panjang”
“Oh gitu ya pa, terimakasih banyak
ya pak informasinya, aku akan segera kesana, sekali lagi terimakasih” Ema
menganggukan badanya.
Setelah
Ema mendengarkan penjelasan itu, ia lalu bergegas lari menuju ke stan
pemebelian buku. Akhirnya Ema mendapatkan satu buku, harganya murah, harga
sebenarnya 100 ribu rupiah, tapi karena discon 70% Ema hanya harus membayar 30
ribu rupiah. Kemudian Ema antre untuk masuk ke auditorium, ternyata antrian
sudah sngat panjang, dan Ema berada di urutan terakhir. “Aku pikir yang tertarik pada 211 DA hanya aku saja, aku berada di
urutan terakhir dan antrian ini snagatlah panjang” gumam Ema.
Akhirnya
setelah berjam-jam mengatri sekarang giliran Ema, Ema berjalan dan tepat di
hadapannya adalah sang penulis, karena urutan terakhir, sekarang tidak ada
siapa pun selin Ema dan penulis, penulis itu sedang duduk di kursi yang ada
mejanya. Ema terkejut, sebenarnya Ema sudah menduga sebelumnya tapi Ema tetap
terkejut.
“Hey
Ema……” Sang penulis menyapa Ema tampak senyuman mengembang di bibirnya.
“Dugaanku
benar…. Ternyata kau…” Ema menitihkan air mata dan menyeka dengan tanganya.
“Iya kau benar, aku Darka sekaligus
211 DA” Darka berdiri dari tempat duduknya mengahmpiri Ema
dan menyeka air matanya dengan tangan Darka. “Sudahlah jangan menangis, maafkan aku karena tak mengatakan
sebelumnya, dan aku yakin kamu berhasil menemukannya melaui tulisan-tulisan
tangan yang aku berikan”.
“Aku khawatir karena akhir-akhir
ini kamu tak datang ke hutan, aku pikir kamu pergi begitu saja meninggalkanku,
setelah kamu mengatakan hal berharga itu, tentu saja aku tahu kamu tidak
bercanda ketika kamu mengatakan aku adalah gadis berharga bagi mu” Tangisan
Ema semakin kencang.
Cetaak…
Darka menjitak jidat Ema dengan jarinya, “Ternyata
kamu cukup percaya diri juga ya? Memang benar waktu itu aku tak bercanda. Dan mengenai
perihal aku tak datang ke hutan karena aku sedang menyiapan semua hal untuk
hari ini, aku harus menyelesaikan tulisan Gadis Hutan Tropis agar acara ini
terlaksana. Maaf aku tak mengatakan sebelumnya padamu siapa aku sebeneranya,
ketika aku datang ke hutan aku sebenarnya sedang mencari inspirasi dan
melakukan research dan di sana aku bertemu dengan mu. Ketika aku ngobrol dengan
mu aku mulai tertarik, dan aku menjadikan mu tokoh dalam tulisan ku yaitu Gadis
Hutan Tropis, kau lah gadis itu”
“Apa? Ja jadi…. Ini buku tentang
aku? Selama ini kamu melakukan research di hutan? Aku nggak nyangka kalau aku
salah satu inspirasi bagi penulis ternama
211 DA”
“Iya.. karena kamu begitu berharga,
ceria dan optimis, sebenarnya hari sebelum aku bertemu kamu aku juga sering ke
hutan di pagi hari, aku tidak bertemu dengan siapa-siapa. Namun ketika aku
datang sore hari aku bertemu dengan gadis tropis, yaitu kamu. Sebelumnya aku
minta maaf menjadikanmu sebagai objeku tanpa minta persetujuan dari mu”
“E… nggak papa kok aku suka, aku
malah jadi terharu dan malu sendiri, dan sangat berterimakasih, karena
menjadikan hutan yang aku cintai sebagi latar dari tulisanmu”
“Hehe.. syukurlah kalau kamu suka,
eh ngomong-ngomong sejak kapan kamu menyadari kalau aku ini 211 DA?”
“Sebenarnya dari awal aku sempat
curiga karena pemikiranmu mirip dengan karakter 211 DA, tapi aku mengubur
kecurigaan itu, karena setiap aku tanya kamu malah membalasnya dengan candaan.
Terakhir… ketika aku menemukan kotak yang berisi tulisan, aku semakin yakin
bahwa kau adalah 211 DA. Memang jika dilihat sekilas namamu jauh berbeda dari
211 DA, awalnya aku kepikiran bahwa DA dan Darka adalah initial yang sama,
huruf depan dan belakang mu yaitu DA. Kemudian aku bingung perihal 211 DA,
namun kau meberi petunjuk melalui tulisan “Pusat kota minggu 11.00 am – Sesuatu
yang berharga DA”, aku ingat kau pernah mengatakan bahwa seseatu yang berharga
harus diabadikan dan diberi penghargaan.” Ema menghela
nafas sebentar, lalau melanjutkan “Tulisan
“sesuatu yang berharga” itu adalah pengganti dari 211, aku ingat kau pernah
mengatakan bahwa kau mempunyai tiga hal berharga. Yaitu… dua orang tua, satu
adik perempuan dan yang terakhir satu orang gadis yang akan kau temukan, jadi
kalau ditulis dengan angka maka akan tertulis 211 dan “sesuatu yang berharga”
dalam secarik kertas itu setara dengan 211. Sebenarnya kau ingin menunjukan
padaku bahwa kau adalah 211 DA, dan aku berhasil menemukannya bukan? Kau mengabadikan
sesuatu yang berharga itu melalui nama pena mu bukan?”
Prok-prok
Darka menepukan kedua tanganya “Kamu hebat Ema, kalau kamu tak dapat
menyadarinya mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi, dan kamu benar 211 itu
adalah kata lain dari sesuatu yang berharga. Sekarang aku telah menemukan 1
terakhir yang berharga, yaitu kau Ema.”
“Terimakasih….
Karena telah menjadikanku salah satu yang berharga bagimu, dan kau…. Kau juga
sesorang yang berharga bagiku, aku tak peduli kau ini Darka atau 211 DA, aku
menyukaimu, jangan pernah pergi lagi” lagi-lagi Ema menitihkan air matanya..
Darka
menyeka air mata Ema dengan tangannya dan kemudian menarik badan Ema dan
memeluknya erat, Ema pun membalas pelukan Darka. Kemudian Darka membisikan
ditelinga Ema “Aku tak akan pergi lagi, aku terlebih menyukai mu Ema, Kau Gadis
Hutan Tropisku”
****
SELESAI

No comments:
Post a Comment